Cat And Wolf

Cat And Wolf
His Problem


__ADS_3

Esok harinya,


Waktu istirahat. Kirana dan Hellen saat ini sedang di kantin dan mengantri untuk memesan.


Mata Kirana terus tertuju ke sekitarnya dan ke arah pintu masuk kantin, ia sedang mencari seseorang. Diantara keramaian tersebut, Kirana menjinjit-jinjit agar bisa melihat lebih jauh. Tetapi, tak ada tanda-tanda kehadirannya.


.


.


"Na, Kirana!"


Panggil Hellen.


-"Eh iya?"


Ujar Kirana agak terperanjak


"Gantian pesen cepetan keburu di duluin orang."


-"Ho'oh.. Bude, pesen seblak sama jus mangga satu."


"Iya dek, tunggu ya~"


Ujar ibu itu.


.


.


"Kamu nyariin siapa Na? Tumben banget."


-"Ada deh. Ehm.. Entar, mau gak nemenin ke..."


Tiba-tiba,


Kirana  diam tak melanjutkan kata-katanya setelah melihat ekspresi Hellen yang siap meledek atau mengatakan sesuatu untuk menggodanya.


"Hayoo kemanaaa?? Ketemu cogan ya??"


-"Nah, sudah kuduga. Gak jadi."


"Yaelah, kasih tau napaa.. Sapa tau bisa bantu nichh~ kamu lagi suka sama seseorang?!"


-"Ssstt.. Apa sih, gak ada. Orang mau ada urusan panitiaan kok."


"Panitiaan apa percintaan? Hayoo ~"


Ledek Hellen dengan ekspresi yang membuat Kirana jengkel.


-"Ini pasti kamu karena keseringan maen ama Shella makanya mirip ngeselinnya."


"Hehehe.. Sorry sisttt.."


.


.


"Mba, ini pesenan kalian."

__ADS_1


Ujar ibu penjual.


Lantas, Kirana dan Hellen langsung membayar dan mengambil pesanan mereka.


Akhirnya, Kirana tak jadi menemui orang itu.


.


.


___


Sore harinya,


Semua panitia festival kembali kerja rodi menyelesaikan tugas mereka.


.


.


" Huwaa, pusing aku! Gagal ngundang artis huhuhu"


Keluh Shesil. Ia lantas menaruh kepalanya di meja.


-"Apaa?!! Seriuss?? Loh napa?!"


Tanya Desi, temannya.


"Itu.. Mereka ada jadwal lain di tanggal segitu. Terus nanya Bu Widya sama Pak Hendra, mereka setuju ama anak-anak, kalo gak band 'itu' ya gak jadi. Arghh, terus yang nyanyi siapa geh?"


Ujar Shesil frustasi.


"Santai, anak di kampus kita banyak yang berbakat~"


"Nah, siapa yang mau antusias nyanyi? Setidaknya harus ada 4 penyanyi. Sisanya tambahan antusiasme anak-anak aja deh yang mau maju~"


-"Kampus kita kan ada band sih?"


"Iya udah. Sekarang tinggal penyanyi solo. Band cuma ditampilin 2 kali, hari pertama ama kedua. Jatahnya satu kali sehari."


Jelas Shesil.


-"Woah, loe ini udah kepikiran aja ya mau gimananya, padahal baru aja ngeluh ditolack.. Awokawok.."


Ujar Agus.


"Oh iye dong, ketua harus bisa segalanya~ eh.. Kayaknya gue tau siapa aja yang harus maju. Sini catetan!"


Tiba-tiba Shesil merebut catatan yang dipegang Agus dan langsung menulis nama-namanya.


Setelah itu, ia menunjukkannya kepada teman-temannya.


Sontak, mereka semua langsung tersenyum.


" Kalo gitu, JANGAN SAMPE GAGAL!! Mereka aja yang nyanyi! "


Ujar Desi semangat.


-"Betul tuh~"

__ADS_1


Tambah Agus.


"Sebenernya gue juga kepikiran satu orang yang ini (menunjuk namanya) entar ngamuk lagii.."


-"Tanyain aja orangnya langsung, tuh."


Tunjuk Agus.


Tak lama, Shesil melihat orang yang sedang ia bicarakan. Yaitu Theo yang baru saja masuk ruangan.


"Oh Oke, Theo, come here! Bentar aja serius~"


Panggil Shesil.


Tak lama, Theo langsung menoleh ke arahnya


.


.


.


.


Tapi tiba-tiba


'DRRIRIRING DRIRIING'


Suara panggilan masuk dari ponsel Theo terdengar.


Kemudian, ia langsung mengambil ponsel dari saku celananya dan menerima telfonnya.


Lalu, ia mengangkat tangannya sebagai tanda kepada teman-temannya untuk 'nanti dulu'.


Setelah itu, ia pergi keluar lagi dari ruangan.


.


.


"Iya ma?"


Ujar Theo setelah sampai di tempat yang agak sepi.


-"Ini, kemaren ada temen mama sih, dia bilang kalo mau jual rumah ini dia mau beli. Harganya juga gak diturunin."


".. Kenapa dijual tiba-tiba ?  Bukannya aku udah bilang gak boleh?"


-"Nak, Mama tau di rumah ini banyak kenangan sama almarhum papa, itu.. Justru yang buat mama makin sedih, jadi teringat terus."


"Ma, justru rumah itu seharusnya yang jadi obat kangen sama papa. Kalo dijual, hilang sudah semua kenangan itu."


Ujar Theo dengan nada lembut.


-"... Mama masih gundah. Tante Nita sama Om Edrick sih udah ngasih lampu hijau. Percaya aja, semuanya akan baik-baik aja."


"Lalu mama lebih dengerin mereka ketimbang anak mama sendiri? Hahh.. Udah ya ma. Theo lagi di kampus. Aku tutup."


Theo langsung memutus sambungan telfonnya.

__ADS_1


Perasaannya sedang kacau sekarang.


Sebelumnya jam tangan almarhum ayahnya, sekarang konflik dengan ibunya.


__ADS_2