
Esok paginya..
OSPEK hari ke empat.
Seperti biasa, mereka dikumpulkan di lapangan terlebih dahulu untuk di cek kelengkapan barang bawaan dan kerapihan pakaian.
Para panitia itu Sudah sedia penggaris besi di tangan untuk mengukur panjang kaus kaki atau fungsi lainnya untuk ' menggertak maba'
Kirana hari itu tetap berangkat seperti biasa, walau kemarin badannya rasanya seperti remuk karena lelah.
Tapi, hari ini ia memaksakan diri berangkat serta sudah siap segalanya, termasuk kondisinya yang lebih prima.
Bahkan, pagi ini udaranya lebih sejuk. Angin sepoi-sepoi juga berhembus. Ia lantas memejamkan matanya sejenak mumpung kating belum ada yang mendatanginya.
"Hah.. Ketenangan di OSPEK yang jarang ditemui~ ya semoga gak tambah buruk hari ini~"
Ucap ia dalam hati merasa tenang sejenak.
.
.
.
-"Kamu yang disana, nomer 12, dek..!"
Suara berat terdengar memanggil.
Ya itu nomer urut Kirana.
.
.
Sontak panggilan itu mengejutkan Kirana. Matanya langsung terbuka lebar.
"haduhh cobaan apalagi ini ya Tuhan?"
Ujar Kirana dalam hati.
Lalu, Kepalanya sedikit demi sedikit ia palingkan ke asal suara kating itu dengan wajah agak takut.
"I iya kak?"
Jawab Kirana ragu.
-"Kamu, kenapa tetep maksa berangkat hari ini?"
Tanya ia, kating Killer itu, Theo. Ekspresi wajah yang ia pasang saat itu tetap seram dan dingin seperti biasanya.
"Maaf kak, saya.. ingin ikut Ospek."
-"Yakin kamu? Kalau tidak kuat jangan dipaksa. Hari ini pasti juga sama seperti kemarin, gak ada keringanan. "
Ujar ia dengan nada serius.
"I i ya kak, serius. Maaf kemarin saya merepotkan kakak semua."
Ujar Kirana sopan walau ia ingin cepat-cepat menyelesaikan percakapan dengan malaikat pencabut nyawa itu.
__ADS_1
Kating itu hanya diam sembari menatap lekat Kirana selama Beberapa saat. Sedangkan Kirana tak berani menatap wajahnya.
Selama itu rasanya seperti ia sedang diinterogasi karena melakukan sesuatu.
-" Kamu ketua kelompok ini kan?"
Tanya ia tiba-tiba memecah keheningan.
"Iya kak."
Jawab Kirana singkat, masih tak berani menatapnya.
-" sampai sekarang, kakak masih belum dengar alasan kelompok kalian kemarin."
Tiba-tiba, Kirana lantas menoleh ke arah kating itu karena terkejut.
"Maaf kak..."
Tapi tiba - tiba , Kak Theo mengalihkan pandangannya ke seluruh anggota Kirana.
.
.
"Kelompok kuning, dengerin!"
Teriak ia. Suaranya menyebar ke seluruh bagian lapangan.
Sontak, seluruh lapangan perhatiannya tersita kepada Kating itu .
"Tolong ketua kalian ganti! Yang cowok mana? Gak ada yang berani nih ?! Jangan jadi pengecut!! "
Suasana yang hening semakin hening dan menegangkan seketika.
.
.
-"Anu kak, maaf saya kemarin belum sempat memberi tahu, biar saya tanggung jawab!"
Ujar Kirana tiba-tiba.
Ia panik karena berpikir Kakak ini benci kinerjanya sebagai ketua kelompok.
.
.
Sontak, Kak Theo langsung menatap Kirana
"... Kayaknya kamu belum paham ya? Lebih baik kamu diam."
Ujar ia sedikit tegas, tapi nada suaranya lebih rendah dibanding sebelumnya.
-"Tapi Kak..."
Namun, Kak Theo mengalihkan pandangannya ke seluruh anggota kelompok Kirana lagi.
" Kakak tahu, ketua kalian ganti kan? Dikira kami panitia gak tahu? Pokoknya gimanapun saat ini ketuanya harus yang pertama. Angkat tangan kemarin yang jadi ketua! "
__ADS_1
Tegas ia.
Tak lama, Jova ketua awalnya menjadi mengangkat tangan dengan ragu-ragu .
-"Sa Saya kak."
"Kenapa malah gak tuntasin tugasmu sampe selesai? Siapa yang nyuruh kamu lepas jabatan? "
Ujar ia dengan menatap lekat.
-"Iya, maaf kak. Saya akan bertanggung jawab."
Ujar Jova dengan nada suara rendah.
Kirana hanya bisa diam ada di posisi itu.
Rasanya tak ada sela untuk Kirana berkata-kata. Ia sebenarnya malah bingung apa yang terjadi saat itu.
.
.
.
.
-"Wah, Theo tumben banget ya? Sadar gak sil?"
Ujar Kating 'duta shampoo' kepada Shesil yang sedang melihat ketegangan itu dari kejauhan.
"Yaaa.. Kita pura-pura gak tau aja. Lagian dia orangnya juga tsundere superrr. Dia juga banyak ngatrol tugas-tugas kita semua. Gak salah milih dia jad wakil! "
Ujar Shesil dengan wajah senang dan kedua tangan dilipat.
-"Ya.. Terserah deh. Wah besok penutupan OSPEK nih, asiknya~"
"Ya, tapi kan masih ada pengenalan jurusan masing-masing. Jadi jangan senang dulu bung!"
-"Ya lu kan yang deket ama Bu Widya dkk, bilanglah ke mereka yang jurusan 2 hari aja. Gua pengen ngurusin rambut gua akhir pekan nanti!"
"Pffftt... Sumpah gua aja jarang urus rambut sendiri. Ini malah..."
Shesil lantas pergi dari sana segera, karena geli setiap berbicara dengan temannya itu.
-"Shesil, sil! Wah gak temen lah.."
Ujar ia pundung.
________
Setelah melalui masa menegangkan tadi, OSPEK pun dimulai seperti biasa. Ya dengan hukuman-hukuman yang tetap ada pastinya.
Terkadang, Kirana merasa seperti lebih diawasi gerak-geriknya. Tapi, ia lebih memilih tak menghiraukan perasaan itu.
Hingga tak terasa, masa OSPEK pun berakhir.
Acara tersebut di akhiri dengan pertunjukan dari unit kegiatan mahasiswa. Salah satunya tarian, dan pertunjukkan spektakuler dari jurusan teknik kimia yang menggunakan bahan kimia namun tetap aman Untuk membuat efek kebulan asap warna-warni dan eksperimen menarik lainnya. Juga pertunjukan keren dari jurusan lain. Semua maba juga diminta ikut berpartisipasi.
Ya, selama penutupan acara itu rasanya ketegangan selama OSPEK kemarin-kemarin lenyap seketika dan.. kating killer itu, Kirana tak melihatnya hadir di acara itu, hanya Kak Shesil dan panitia lainnya. Ia penasaran sih, walau disisi lain juga agak merasa tenang.
__ADS_1