Cat And Wolf

Cat And Wolf
...


__ADS_3

Setelah UTS,


kuliah seperti biasanya berjalan kembali.


Ya hari-hari biasa seperti kemarin-kemarin.


Hanya, Kirana kali ini lebih sering menghindar dan berhati-hati bila sedang di luar kelas.


Ia benar-benar tak mau bertemu para kating yang mengurus festival itu. Terutama kak Theo dan Kak Agus.


Membayangkan bertemu Kak Theo saja membuat Kirana merinding.


Ia berpikir "kalau aku ngehindar dari mereka, pasti aku auto dikeluarin. Gak mungkin banget mereka nyariin aku, hahaha kurang kerjaan kalo benerann."


Ya begitulah ia selama seminggu. Sampai-sampai, Hellen sendiri heran sekali melihat Kirana seperti itu. Gerak - geriknya sudah seperti buronan saja. Hal ini juga tak lama diketahui oleh Shella karena di ceritakan melalui chat oleh Hellen. Mereka berdua kini sangat akrab semenjak konser tersebut.


"Kirana.. Jujur, kamu kek buronan gini karena Hellen daftarin kamu jadi panitia acara ya?"


Tanya Shella saat mereka bertiga kumpul bersama di gazebo saat jam istirahat.


-"ehm.. Lebih tepatnya aku males ketemu si killer itu. Tau-tau merinding aja di deketnya!"


Ujar Kirana jujur.


"Aku jadi ngerasa bersalah sih Na. Tapi di sisi lain aku juga senang."


Ujar Hellen dengan senyum evil.


Lantas, Kirana langsung menatap Hellen.


"Ayo kita tukeran posisi, biar kamu ngerti perasaan aku!"


Ujar ia dengan nada mengancam.


"hehehhe.. Tadinya sih mau gitu, tapi kann.. Namamu udah resmi terdaftar heheh.."


-"Eh masa iya sih? Maksudku, kalian kepikiran gak sih, kayaknya kating itu cuma iseng doang deh. Kalau iya memang Kirana jadi panitia, pasti nama dia udah dicatet. Tapi, dia bawa catetan aja gak. Dan pastinya, aku yakin dia gak tau nama panjang Kirana."


Ujar Shella serius setelah menganalisis masalah tersebut layaknya detektif Con*n.


Sontak, wajah Kirana dan Hellen menjadi seperti terkejut mendengar itu.


" Oh iya juga bener tuh!! "


Ujar Hellen semangat.


-" Eh, iya ya? Wah, kan memang itu kating gak beres. Udah killer, isengin maba pula sampe aku rasanya kena mental breakdown hhuhuhu.."


Ujar Kirana frustasi mengingat usahanya menghindar selama seminggu dengan susah payah, ternyata hasil iseng kating saja.


Lalu, Hellen dan Shella langsung menepuk-nepuk Kirana.


" Sabar ya sist, aku tau, kuliah itu berat, apalagi ditambah kelakuan orang itu, pasti tambah mengenaskan."


Ujar Shella.


-"Syukur, aku jadi tak perlu merasa bersalah berkepanjangan."


Tambah Hellen


"nah iya benar tuh! "


Ujar Shella sembari tersenyum. Ia bercanda.


"yaampun, bisa-bisanya aku punya temen kayak kalian ~"


Ujar Kirana tambah frustasi.


Lantas, Shella dan Hellen tertawa.


_________


Siang hari, pukul 14.00.


Kirana bisa pulang cepat dikarenakan dosen yang mengajar tak bisa datang, dan nantinya akan diganti hari lain.


Ia senang sekali, bahkan sudah merencanakan di kost-an akan melakukan kegiatan apa dan ia berpikir untuk membeli makan siang hari ini ketimbang masak.


Langkah kaki Kirana pun ringan sekali karena membayangkan kegiatan asik yang akan ia lakukan setelah ini.


.

__ADS_1


.


Tapi Tiba-tiba, seseorang memanggilnya dari belakang


"Kirana!"


Sontak,Kirana langsung menoleh ke asal suara.


Ternyata ada kak Sean disana. Kirana yang awalnya berniat tersenyum, tiba-tiba teringat kalau ia sudah bolos lebih dari seminggu dari forum kegiatan.


"Eh.. Kak,ada apa?"


Tanya Kirana.


("Ahh..rencana indahku setelah pulang jadi terhambat!"


Ujar Kirana dalam hati.)


Tak lama, Sean langsung menghampiri Kirana.


-"Sebentar, ehm.. ada yang kakak ingin bicarakan, Kamu ada UTS ya minggu lalu?"


Ujar ia serius.


"Ah iya kak benar. Oh ini soal.. Forum ya kak? Maaf kak, aku gak berangkat dari kemarin."


Ujar Kirana dengan nada menyesal.


-"Kakak maklum aja sih. Terus, kenapa minggu ini juga gak berangkat dan tak bisa dihubungi?"


Tanya Sean tiba-tiba.


Sontak, Kirana agak terkejut dan jadi flashback kenapa seminggu ini juga ia tak datang, padahal UTS sudah selesai.


Itu karena Kak Agus, entah kenapa ia jadi sering datang ke acara forum mereka untuk menemui kak Sean . Hal ini membuat Kirana kabur-kaburan.


" Itu .. Ehm.. Ada alasan pribadi yang gak bisa aku jelasin dan handphone ku aku matikan. Tapi aku minta maaf banget ya kak."


Ujar Kirana tak enak.


Ia memang sengaja tak membuka ponsel akhir-akhir ini dikarenakan ia khawatir akan di hubungi para kating itu.


Ujar Kak Sean dengan sabar.


"Iya Kak. Hari ini dosennya berhalangan hadir."


-"Ohh begitu. Lalu, kakak juga ingin berikan ini."


Lalu, Sean langsung memberikan sesuatu yang terbungkus plastik kepada Kirana.


Kirana menerimanya dan meihat isinya. Ternyata satu pot kecil tanaman plaid cactus.


"Yaampun , gemasnya~ kok tiba-tiba ini untuk aku kak?"


-"Ini hasil eksperimen beberapa waktu lalu , jadi kalau sesuai hipotesis, bunganya akan mekar lebih cepat dan lebih besar."


Ujar kak Sean dengan ekspresi serius.


"Ohh, terima kasih banyak kak~ ah pasti bagus banget kalau udah mekar, jadi gak sabar! "


Ujar Kirana dengan wajah senang sembari memandangi kaktusnya yang bunganya masih kuncup.


-"Kalau kau suka itu bagus. Nanti, jika sudah mekar kakak ingin tau seperti apa jadinya."


Ujar kak Sean sembari tersenyum.


"Nanti akan ku foto dan kuberi tahu hehehe. Oh ya kak, kakak habis ini akan melakukan apa? Tumben sekali kita bertemu disini."


-"Biasa rapat. Oh ya, maaf ya kakak malah jadi ganggu kamu mau pulang."


"Gak masalah kak (walau sebenarnya Kirana memang merasa begitu). Rapat? Rapat apa itu?"


-"Oh, Rapat pengurus inti festival seni nanti."


Sontak, Kirana terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka Kak Sean merupakan salah satu panitia juga. Rasanya seperti ia sudah berusaha menghindar, tapi tetap terkena juga.


Namun, tak lama ia ingat kembali analisis Shella pagi tadi.


Jadi ia sedikit tenang.


"Oh jadi sebentar lagi sibuk ngurus festivalnya.."

__ADS_1


Ujar Kirana samar.


.


.


.


-"Oh ya, kamu kan panitia juga, artinya sebentar lagi akan sibuk juga. "


Bagai disambar petir di siang bolong, mata Kirana pun terbelalak mendengar pernyataan itu.


"A ah, masa sih kak? Gak kayaknya deh hahahah."


Ujar Kirana masih agak shock.


-"Serius, ada namamu di daftar panitia. Kirana Dian Larasati, prodi Arsitektur lanskap. Semuanya tertulis jelas disana."


Jelas Sean.


Akan tetapi, Kirana terdiam karena kaget mendengar itu semua.


Melihat Respon Kirana demikian, Sean tiba-tiba langsung menerka alasan Kirana tidak ikut forum dan jarang terlihat.


Sean memang orang yang sangat peka, jadi bisa langsung tepat sasaran.


"Ini.. Gak mungkin. Ko kok bisa?"


Ujar Kirana samar, tatapannya sedari tadi tak melihat Kak Sean.


Dan binggo, Sean jadi yakin 100%


-"Kelihatannya kamu gak pengen ikutan, tapi didaftarkan paksa sama seseorang ya?"


Ujar Sean tiba-tiba.


Sontak, Kirana langsung menoleh ke arah Kak Sean kembali.


"Hehhe iya kak. Wah kelihatan sekali ya kak?"


-"Yaa kurang lebih. Gak masalah sih ikut ini. Kalau mau keluar, susah urusannya. Apa sebenarnya yang kamu takuti?"


Tanya ia kepada Kirana untuk meyakinkan dirinya.


"ehmm itu.. Rahasia kak. Hehehe."


-"Oh, yasudah. Pokoknya kamu tenang saja, kan ada kakak, nanti akan ku bantu sebisanya. Jangan khawatir ya?"


"Hiks.. Terimakasih banyak kak. Aku merasa tertolong. Kalau begitu, aku pulang ya kak."


-"Iya, hati-hatilah."


Lantas, Kirana langsung beranjak pergi dari sana.


"Kirana.."


Panggil Sean tiba2.


Lantas, Kirana langsung menoleh ke arahnya.


-"Besok kan tanggal merah, mau ikut ke toko buku langgananku?"


Ujar Sean.


Kemudian, Kirana terdiam untuk beberapa saat, berpikir.


Lalu setelahnya,  ia tersenyum dan mengangguk


"Iya kak. Aku juga pengen cari buku."


-"Ok, kita janjian di depan minimarket dekat persimpangan jalan kostan kita, jam 9 pagi ya. Nanti kakak jemput."


Kirana lantas mengangguk


"Okee. Kalau gitu aku pulang ya kak."


-"Iya, hati-hati."


Ujar Sean.


Ia senang Kirana menerima tawarannya itu.

__ADS_1


__ADS_2