Cat And Wolf

Cat And Wolf
Another side of his personality


__ADS_3

Tiba-tiba, terdengar notifikasi chat masuk dari Shella di Handphone Kirana. Lantas, Kirana langsung membaca pesan tersebut.


-Shella :" Kirana.. Aku sama Hellen lagi di depan kost-anmu. Kamu kemana?! Mau main nih , kami bawa makanan loh~"


-Kirana :"Hah?! Kok kalian gak bilang-bilang dulu? Aku abis jogging."


-Shella :"Nah, mau balik kan? Kami tunggu yee~"


-Kirana :"Dasar, tamu tak diundang, ngelunjak_-"


-Shella :" kamu bilang apa Kirana? Tulisannya burem tau, gak kebaca!"


-Kirana : "Haih Tolonglah ~ yaudah tunggu dulu, aku mau beli jajan juga biar sama-sama."


Tutup Kirana.


Ia lantas memasukkan kembali handphonenya ke dalam sakunya.


"Duh, ada-ada aja. harus cepet nih."


Gumam Kirana.


Ia lantas beranjak pergi menuju ke tempat jajanan yang ia tahu.


Karena terburu-buru, Kirana mempercepat langkahnya.


Sembari berjalan, ia memikirkan apa yang akan ia beli nantinya


-"Cilok, somay, donat atau batagor ya? Hemm, pengen beli semua, tapi modal tidak mumpuni. Apa ya? Bentar, kalo yang gak ada di kampus ituuu.."


.


.


-"HUWAAA PERGI WOY!!"


Teriak seorang laki-laki yang tiba-tiba keluar dari sebuah gang tepat di dekat Kirana.


-"HUWAA!!!"


Teriak Kirana juga yang ikut terkejut.


Sementara orang tadi terus berlari menjauh dari sana. Penampilannya tampak compang camping sekali. Sedangkan Kirana langsung menempel pada dinding karena terkejut.


"Barusan apaan?!"


Gumam Kirana.


Lantas,terdengar suara dari dalam gang tersebut walau kecil.


-"Iya-iya, lepasin gua! gua kasiin duidnya!"


Mendengar hal itu, Kirana langsung menoleh ke dalam gang karena penasaran.


Sungguh di luar dugaan, ada kejadian brutal disana.


Ada seorang laki-laki tinggi sedang menarik kerah baju orang lain. Sementara ada beberapa orang lain disana yang terlihat terkapar dan penampilannya berantakan, serta ada bekas memar di wajah.


Sontak,Kirana terkejut dan langsung menutup mulutnya.


.


.


-"Yaudah mana semuanya?!"

__ADS_1


Teriak orang itu.


Suaranya sangat tidak asing bagi Kirana.


.


.


"Tunggu.. Kak Theo?!"


Pikir Kirana, matanya langsung membesar seketika. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.


.


.


Tiba-tiba, salah seorang yang tadi terkapar berdiri diam-diam dan hendak memukulnya dari belakang. Sontak, Theo langsung menghindar dan menjadikan orang yang ia tahan tadi sebagai tameng, sehingga yang terpukul orang lain.


'BUKKKK'


Suara keras terdengar


-"huwaa Ma maaf bos!!"


Ujar orang itu panik.


"Sialan loe ya! Arghh!! Woy, mana sini uang yang tadi loe pegang?!"


Ujar ia sembari mengulurkan tangan untuk meminta uangnya.


.


.


-"Eh, uang? Masa iya kak Theo.."


Lantas, orang yang tadi memukul itu memberikan uang yang ia simpan semuanya kepada bosnya itu.


Setelah ia mendapatkan semuanya, ia menyodorkan uang-uang tersebut kepada Theo.


Theo lantas hendak menerima uang tersebut.


Namun, tiba-tiba orang itu langsung menepis tangan Theo yang menarik kerah bajunya kemudian ia langsung mundur.


Disaat bersamaan, para anak buahnya bangkit kembali dan mengepung Theo walau mereka sendiri agak sempoyongan.


-"Haishh yang tadi itu kurang kuat ya untuk bikin kalian sadar?"


Ujar Theo dengan menatap malas mereka semua.


"Gak segampang itu buat dapetin ini balik! Lawan dia!"


Ujar si bos geng preman itu kepada anak buahnya.


.


.


"Tunggu, kok.. Kayak mana gini?!  Mana gak punya nomer polisi lagi! "


Ujar Kirana panik. Matanya lantas menatap kesekeliling.


"Bisa-bisanya gak ada orang disini! Ini kompleks perumahan atau kuburan?! Duh.. Gawat!!"


Ujar Kirana tambah panik. Ia sendiri juga takut untuk menghentikan perkelahian itu sendiri.

__ADS_1


Tak lama, para anak buahnya itu langsung berlari menyerang Theo beramai-ramai.


Sontak, Kirana makin terkejut melihat itu.


Namun, diluar dugaannya lagi,


Dengan cepat Theo menghindar dan menjadikan serangan mereka sebagai senjata makan tuan. Lagi-lagi ia menggunakan salah satu dari preman itu sebagai tameng secara bergantian.


Pukulan mereka langsung membuat satu sama lain memar-memar lagi.


Akhirnya, mereka semua kalah.


Akan tetapi, bos mereka diam-diam dari belakang membawa senjata kayu dan hendak memukul Theo tepat saat Theo akan berbalik badan menghadapnya.


Timingnya sangat tidak tepat jika ia ingin menghindar.


Dalam sepersekian detik, ia memikirkan bagaimana caranya menghindar sementara tongkat kayu itu akan mendarat kepadanya.


.


.


Tiba-tiba, bos preman itu pingsan di tempat setelah sebuah sepatu dengan sol tebal melayang ke kepalanya.


Akhirnya, si bos itu kalah bersama anak buahnya.


Sementara Theo menatap heran melihat itu.


Ternyata Kirana tadi yang melemparkan sebelah sepatunya dan ia sendiri tak menyangka bidikannya tepat sasaran dan langsung membuat preman itu pingsan.


Uniknya, sesudah melempar itu Kirana langsung bersembunyi lagi di balik tembok berharap tidak ada yang melihatnya.


"Aih, kayak mana ini sekarang?.. Kabur! Ah, Bodo amat deh sepatu baruku!"


Gumam Kirana.


Padahal ia sendiri agak sayang meninggalkan sebelah sepatunya karena ia baru membeli itu dengan uang tabungannya.


Lantas, Kirana langsung melangkah pergi dari sana, ia memutuskan tak jadi beli jajan juga. karena kalau ia jadi, ia akan ketahuan setelah berjalan melewati gang tersebut.


.


.


" Hei, kamu yang disana!"


Panggil seseorang, yang tak lain Theo.


Sontak, Kirana terkejut mendengar panggilan itu.


(-"Hahaha.. Pasti preman-preman itu yang dipanggil. Lanjut kabur aja Kirana!!")


Ujar Kirana dalam hati. Ia lantas tetap melangkah menjauh perlahan-lahan agar tak terdengar suara langkah kakinya.


Namun,Theo yang saat inu berdiri di depan gang itu menatap heran. Tak lama, ia tersenyum melihat tingkah Kirana itu yang karena baginya.


"Makasih ya hadiah sepatunya. Kayaknya masih baru, sebelahnya gak di lempar juga?"


Tambah Theo.


Sontak, Kirana langsung menghentikan langkah kakinya lalu memejamkan mata untuk beberapa saat.


-("hahhahah (tawa miris), ternyata dia tau?!")


Kemudian, Kirana menoleh ke belakang dan tersenyum awkward. Ia melihat sebelah sepatunya sedang dipegang oleh Kak Theo.

__ADS_1


Sementara, Kak Theo menatapnya sembari melontarkan smirk seperti biasanya.


__ADS_2