
Dalam perjalanan pulang, suasana antara Kirana dan Theo menjadi awkward sekali. Kirana merasa deja vu dengan suasana ini. Sesaat kemudian ia baru teringat sebelumnya juga pernah terjadi hal demikian.
.
.
"Kamu gak nyaman ya?"
Tanya Kak Theo tiba-tiba memecah keheningan.
-"...ehm, Apa?"
Tanya balik Kirana.
"...maaf,mungkin kejadian tadi agak ganggu kamu. Tapi kami gak bermaksud berbuat masalah."
Nada suara Kak Theo lebih lembut ketimbang biasanya.
Setelah mendengar itu, Kirana terdiam beberapa saat. Tak menyangka Kak Theo tipe orang yang bisa mengatakan " maaf ".
Akan tetapi, setelah diingatkan kejadian tadi, Kirana jadi terpikir satu hal dibenaknya.
Walau agak ragu, akhirnya ia memberanikan diri bertanya.
"Tadi itu... Bisa jelaskan ada apa?"
-".. Belum saatnya kamu tahu."
"Kenapa? gak sekarang aja?"
Ujar Kirana dengan nada heran.
.
.
-"Makanya, kalo jadi cewek peka sedikit dong. Padahal udah jelas di depan mata."
Ujar Theo meledek Kirana lagi.
Karena Ia ingin mendengar Kirana ngomel kepadanya.
Akan tetapi, Kirana hanya diam tak seperti biasanya.
Hal aneh itu membuat Theo melihat Kirana melalui kaca Spion motornya. Mata Kirana tampak tertuju ke suatu tempat di pinggir jalan. Tak lama, Theo langsung menoleh ke arah yang sama.
Ternyata Kirana menoleh ke arah kios penjual Soto. Hal itu sontak membuat Theo tersenyum samar karena Kirana tampak lucu sekali. Ia lantas sengaja memperlambat laju motornya.
"kamu laper gak? Kan belum makan dari.."
-"Mau! Kesana kak!"
Tunjuk Kirana ke arah tempat soto itu. Benar saja dugaan Theo.
Tapi ia tak menyangka Kirana malah terlihat lebih tertarik dengan makanan, padahal baru saja hampir terjadi keributan antara Sean dan.. Theo.
Tak lama, Theo langsung menyeberangkan motornya ke kanan dan mampir ke kios tersebut.
Tak pakai lama, Kirana langsung turun dari motor dan masuk ke dalam kios mendahului Kak Theo.
Sontak, Theo langsung menaikkan sebelah alisnya.
Senyum tak percaya melihat Kirana tampaknya lebih tertarik kepada Makanan ketimbang Sean atau.. Dirinya.
Di tempat tersebut, ada beberapa pelanggan yang sedang makan atau menunggu pesanan untuk dibawa pulang. Untung saja tempat ini masih ramai, biasanya jam segini sudah tutup.
.
.
" Permisi mang Tono, aku pesen 2 soto sama es teh manis ya, makan disini! "
Ujar Kirana.
-"Iya siappp mbaa!"
.
.
Setelah mendengar itu, Theo lantas bertanya
"Loh, Satunya untuk siapa?"
-"Kakak lah.."
Jawab Kirana sembari menunjuk dirinya.
"Ngapain? Untuk kamu aja. Gak laper."
-"Masa kakak ngeliat aku makan doang? Anggep aja upah bensin."
Jawab Kirana lagi.
Sesaat Theo ingi menjawab, tiba-tiba sudah di ambil sela oleh Mang Tono.
-"wahh.. . Tumben dateng, udah jarang mba Kirana beli disini. Sama siapa tuh mba??"
Tanya Mang Tono sembari meracik sotonya.
"Sibuk banget mang akhir-akhir ini. Oh, kalo dia.. Katingg."
Setelah mendengar itu, mang Tono lantas melongok ke arah Theo untuk melihat wujud kating satu ini.
Sementara Theo agak mengerutkan dahi karena bingung.
"Wah, yakin mba kating aja sebutannyaaa?"
Ledek mang Tono.
-"apa lagi? Ohh Ada sih, kating killer, Sebutan dari antar jurusan hehehe.."
Ujar Kirana dengan berbisik, kemudian ia terkekeh, entah kenapa dirinya senang sekali kalau urusan 'menghujat' atau meledek Kak Theo.
__ADS_1
"Abaikan aja mang, dia emang agak resek anaknya."
Balas Theo dengan wajah datar. Walau sebenarnya ia agak kesal dan bosan mendengar jululan itu.
-"Heheh.. Iya mas, paham. Maksud mamang bukan gitu , yang lebih dari itu. Iya gak nihh?"
Merasa pembicaraannya mulai semakin merujuk ke arah sana, Kirana langsung mengubah topik pembicaraan.
-"Ehmm, mang, minta ayamya dibanyakin dongg~"
Ucap Kirana sembari tersenyum dengan kata-kata agak ditekan.
"Oh i iy iya mba siappp."
.
.
"Oh ya, baru inget! Kak Theo lagi sibuk gak? Kalo iya bawa pulang aja sotonya. Gak usah makan disini."
-"Gak, kok~"
Jawab Theo serius.
"Serius?"
Tanya Kirana tak yakin.
Lantas ,tiba-tiba Theo menuntun Kirana dengan sedikit mendorong bahunya agar Kirana duduk di kursi yang ia pilih.
.
.
-"Idihhh kebiasaan dorong-dorong kakak ini!"
Ujar Kirana kesal. Ia lantas duduk di kursi. Kemudian, Kak Theo duduk di depannya.
Ia hanya melempar smirk tajamnya lagi.
Sementara Kirana membalas dengan ekspresi heran.
Beberapa lama kemudian, pesanan mereka diantarkan.
" wahh makasihh manggg~"
-" Sami-sami mbaaa.."
Ujar Mang Tono ramah. Kemudian, ia beranjak pergi dari sana.
Sesaat setelahnya, Kirana langsung menyantap soto tersebut.
Sementara Theo masih diam menatap sotonya selama beberapa lama.
Hal itu membuat Kirana berhenti makan dan menatap bingung.
"Kenapa gak dimakan kak? Gak level sama Soto yaa?"
-"Hahhh.. Mulai, asal jeplak. Cuma kepikiran soal..."
.
.
Kirana menunggu kelanjutannya.
Namun, Theo mengurungkan niatnya dan langsung memakan Soto miliknya.
Sontak, Kirana mengerutkan dahi untuk kesekian kalinya melihat tingkah kating yang random ini.
.
.
-"Kenapa gak di makan? Gak level sama makanan tradisional gitu?"
Ujar Kak Theo membalas ucapan Kirana tadi.
" napa dah kating satu ini?"
Ucap Kirana heran. Lalu, Ia lanjut makan lagi.
.
.
Kirana kalau sudah menikmati makanannya akan seperti lupa dunia. Seolah-olah hanya ada dia dan makanan yang ia santap.
Sampai tak sadar sesekali Kak Theo memperhatikan dirinya yang makan tak pakai jaim.
Yang membuat Theo kepikiran dari tadi adalah, ini makan pertama dirinya dan Kirana di tempat makan. Hal ini membuatnya Flashback saat mereka berdua berburu kuliner di kampus lalu.
Secara tak sadar Theo tiba-tiba tersenyum sendiri mengingat itu, walau sekilas.
Beberapa lama kemudian, Kirana usai menyantap sotonya. Sementara Kak Theo baru menghabiskan separuh mangkuk.
Kirana menunggu dengan sabar sembari mencicil tugas kuliah yang ringan-ringan saja.
"Tugas apa itu?"
Tanya Kak Theo.
-"Ohh, biasa, pengenalan botani. Hmm, cuma aku bingung di satu hal. Besok bisa aku kerjain lagi sih~ mungkin nanti aku nyoba tanya-tanya ke Kak Sea.."
"Ehm, kamu udah mau pulang atau masih ada keperluan di luar?"
Potong Theo, seolah tidak ingin mendengar nama orang yang hendak disebutkan oleh Kirana.
"... oh, gak ada kegiatan apa-apa. Kak Theo sibuk? Yaudah langsung pulang aja kita."
Ujar Kirana mendahulukan kepentingan orang yang akan mengantarnya pulang tersebut.
-" Maaf ya, Soalnya ada tugas yang harus selesai malem ini."
__ADS_1
Ujar Theo berbohong.
Ada alasan mengapa ia mengatakan hal tersebut, tentu berhubungan dengan perasaannya saat ini.
"Pfftt!!.. Hahaha ngapain minta maaf kak? Uh bukan Kak Theo banget. Yaudah, ayok kak."
Tanpa basa-basi lagi, Kirana langsung mengambil tote bagnya lalu beranjak dari kursinya.
Sementara Theo terkejut dengan respon Kirana.
"Hei, memangnya di matamu aku kayak mana??!?"
Tanya Theo sembari menyusul Kirana.
Sementara Kirana sengaja diam tak menjawab pertanyaan tersebut.
Setelahnya, Kak Theo langsung mengantar Kirana pulang .
Selama sisa perjalanan, perasaan Theo rasanya sangat campur aduk . Untuk seseorang yang baru pertama kali mengenal perasaan 'aneh' ini, tentu langsung membuat dirinya menjadi salah tingkah.
*note : perasaan 'aneh' di kamus Theo bisa berupa terharu/ sedih berkepanjangan/nervous/ pun bisa saja.. rasa suka.
.
.
("Ahh ngapain sih aku hari ini?! Mana reflek langsung ngajak pulang, pasti kesannya jahat banget. Aih, susah juga ngobrol sama orang yang lebih lembut!")
Kata Theo dalam sanubarinya, eakk.
Sedangkan Kirana menatap bingung Kak Theo melalui kaca spion motor, ekspresi Kak Theo bagi Kirana seperti orang yang sedang menahan rasa amarah. Tentu, pertanyaan pertama yang muncul di benak Kirana adalah
" Tugas Kak Theo se-banyak itu ya sampe buat dia keliatan pusing?"
(sangat di luar ekspetasi.Namun ini wajar, karena dia Kirana)
.
.
Sesampainya di depan gerbang kost, Kirana lantas turun dari motor.
"Terimakasih loh kak, maaf ngerepotin, sebenernya bisa aja sih tadi aku pulang sama...."
-"GAKK."
potong Theo lagi dengan nada tegas.
Suasana berubah jadi awkward seketika.
Sepertinya disini Theo salah paham. Rasanya canggung dan agak malu juga. Apalagi Kirana langsung diam seketika setelah mendengar itu.
"Ehm, maksudnya GAK usah bilang terimakasih, soalnya kayak gini wajar nganter anggota yang sesama panitia pulang."
-"Oh.. Hahahha.. iya kak."
Ujar Kirana lebih canggung.
Padahal tadi Kirana di awal hendak bilang "sebenarnya tadi aku bisa aja harus pulang pakai ojek. Dan lagi, belum tentu dapet di jam segini. Tapi, kabar baiknya Kak Theo nawarin tebengan duluan."
Namun, di pikiran Theo justru sebaliknya, ia berpikir Kirana akan mengatakan ini karena kejadian tadi saat di kampus.
"Padahal aku bisa pulang sama Kak Sean, jadi kakak gak perlu repot."
("Hahh.. Aku bener-bener harus istirahat") pikir Theo.
"Yaudah gih sana masuk. Udah malem banget."
"Kalau begitu, hati-hati di jalan kak."
Ujar Kirana dengan senyum tipis.
Tak lama, ia segera membuka gerbang dan langsung masuk.
Sedangkan Theo menatap hening beberapa saat ke arah gerbang, hingga akhirnya ia menghidupkan motornya.
Tiba-tiba, terdengar notifikasi pesan masuk.
Karena biasanya yang masuk adalah pesan penting dari tempat magang atau teman sekelompok, ia langsung mengambil ponselnya dari saku dan langsung melihat pesan yang terkirim.
Senyum tipis lantas tergambar di wajah Theo. Memudarkan sedikit aura dinginnya.
Setelah itu, Theo memasukkan kembalu ponselnya ke saku jaket dan kemudian melaju pergi dari sana.
.
.
Saat di dalam kost - an, Kirana langsung merebahkan dirinya di kasur, mengambil bantal, kemudian menutup wajahnya dengan bantal tersebut. Ia memeluk bantal tersebut erat-erat sekali selama beberapa lama.
Kemudian, ia menyingkirkannya san langsung mengutarakan segala unek-uneknya.
" Apa yang aku liat tadi pas di kampus?!.. Masa Kak Sean dan Kak Theo..... Duh, gak mungkin. Sadar diri Kirana, masih ada perempuan di luar sana yang lebih diatas kamu.Jadi, gak mungkin dugaanmu benerr."
Ujar Kirana meyakinkan diri. Ia lantas terdiam beberapa saat.
" Ahh, kenapa makin hari makin gak bisa tenang?! Mereka itu, kenapa perlakuannya beda banget pas ke aku? Fuhh.. "
Lantas, Kirana berbaring ke samping kanan. Tak sengaja matanya menatap kaktus pemberian Kak Sean selama beberapa saat.
.
.
"Tapi, nyatanya yang aku rasakan tidak seperti itu."
Ujar Kirana.
Rasanya kata-kata Shella dan Hellen kembali melintas di kepalanya, mengenai dugaan mereka berdua bahwa Kak Sean menyukai dirinya.
Kirana tidak mau sakit hati untuk kesekian kalinya dan berharap terhadap sesuatu yang belum pasti.
...-Namun, kita tidak akan pernah tahu takdir yang digariskan diantara kita seperti apa-...
__ADS_1