
"Arsha.. " sahutnya
Dinda segera menoleh menatap wajah orang yang putrinya panggil.
'Alexander' guman Dinda.
Alex yang berada tak jauh dari Dinda pun mendengar namanya di sebut. Alex segera beralih menatap wanita yang menggumam namanya.
"Dinda.. ", sahut Alex
Dinda terkejut melihat siapa yang baru saja dilihatnya. dan menatap sang putri. lalu beralih ke Alex. dengan mata yang mulai berembun Dinda pun membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
" A.. Arsha.. "panggil Dinda. Dinda tak menyangka jika putrinya sudah begitu dekat dengan Alex. papa kandungnya.
" Dinda.. " panggil Alex lagi.
Dinda segera melangkah ke arah di mana Alex berdiri.
"Kauu.. Kau jahatt.. kau kau telah membuat hidupku begitu hancur..hikkzz " suara Dinda sedikit tidak jelas. karena Dinda mulai tak bisa menahan tangisnya. dengan kedua tanganya memukul dada bidang Alex yang tertutup pakaian kantornya
"Hikxzz.. Kau tidak tau betapa sulitnya hidupku waktu ituu.huuu.. ", tangisnya . Alex tetap diam mendengar segala keluhan Dinda. tak ingin membantah karena Alex tau betapa sulitnya kehidupan Dinda setelah di usir kedua orang tuanya.
Selama ini Dinda ingin melampiaskan semua kekesalan dan kebenciannya pada pria yang ada di depannya.
Lambat laun Pukulan Dinda pun melemah. Alex segera menangkap kedua tangan Dinda lalu menariknya dalam pelukannya.
" Maafkan aku.. aku sudah berusaha mencarimu. namun Tuhan belum mempertemukan kita. maafkan aku.. " ucap Alex.
"Keluarkan segala keluhanmu. aku akan mendengarnya. aku tau kau begitu tersiksa." ucap Alex.
Dinda masih menangis di pelukan Alex. Tak tau perasaan apa yang ada saat ini. dalam hatinya hanya ingin mengeluarkan semua yang ada di dalam dadanya
"Dion.. kau jadwalkan lagi jam penerbangan kita. kalo perlu besok saja. " ucap Alex.
__ADS_1
Dan Dion pun segera membawa Neni dan Arsha menjauh dari bos dan wanita yang tengah bersamanya.
Alex membawa Dinda untuk duduk. "Bagaimana kabarmu Dinda? " tanya Alex. Alex merasakan jika Dinda sekarang jauh lebih dewasa. penampilannya juga tak seculun dulu. walau rambutnya sedikit berantakan. namun tak mengurangi kecantikanya
"Aku baik. seperti yang kamu lihat. " jawab Dinda
"Aku tau kau banyak mengalami hal buruk setelah itu. kenapa kau tak mencariku? " tanya Alex
Dinda menoleh ke wajah Alex. menatap dengan mata yang sudah berembun. rasanya sudah lama sekali Dinda tidak menangis.
Bayangannya di saat ketemu dengan pria yang sudah membuatnya hamil. Dinda akan menghancurkan wajahnya. namun beda dengan kenyataan itu. Dinda tak bisa berucap bahkan memakinya sesuai yang di rencanakan waktu itu.
"Aku.. aku tidak tau namamu. dan tempat tinggalmu. bagaimana aku akan mencarimu? " tanya Dinda begitu lirih. namun masih bisa di dengar oleh Alex.
Alex mengambil tangan Dinda. lalu meremas dengan lembut. "Kau adalah wanita hebat. kau mampu melahirkan seorang anak tanpa keluarga yang menemanimu." ucap Alex. sedangkan Dinda hanya diam tatapannya tetap kebawah tak ada keberanian menatap wajah pria yang ada di depannya. .
"Dinda.. Aku akan menebus semua kesalahanku. aku akan membuatmu bahagia.. " ucap nya lagi.
"Aku tidak yakin. aku masih punya kedua orang tua. dan kau harus meminta maaf pada mereka. " jawab Dinda
"Akupun tidak tau. apakah papaku masih mau menerimaku atau tidak. kejadian itu telah menghancurkan keluargaku. Hikkzzz... " tangis Dinda kembali pecah. rasanya ingin sekali Dinda berteriak skencang mungkin. Lagi lagi Alex di buat marah dengan dirinya sendiri.
Rasanya hanya minta maaf pun tak cukup untuk menebus semuanya. Alex merasakan rasanya begitu sesak. membayangkan orang tuanya yang tidak ada ampun dan kesempatan untuk Dinda menjelaskan.
"Siapa nama putri kita? " tanya Alex
"ARSHAVINA DINDA DARMAWAN. " jawabnya
"Nama yang indah." sahut Alex.
"Kita temui putri kita. Aku ingin memberi kasih sayangku padanya. " ajak Alex.
Dinda pun ikut berdiri dan melangkah mengikuti kemana Alex akan membawanya.
__ADS_1
...***...
"Tante.. mama sama Om Al lama. " keluh Arsha
"Sayang.. Om Al itu papa Arsha. Arsha seneng nggak punya papa Om Al? " tanya Neni
"Alsa senang. Alsa punya papa. " ucap Arsha kegirangan
Neni menatap Dion yang sedikit gelisah. ponsel dari tadi berdering. Siapa lagi yang nelpon kalau bukan Wahyu. terkadang juga tante Alisia.
"kenapa mukamu kusut begitu? " tanya Neni
"Bukan urusan mu. urus itu keponakanmu." jawab Dion.
"Begini begini ini anak bos kamu. jadi baik baik sama dia. " ucap Neni nyolot
Dion hanya diam, tak ingin membalas omelan Neni yang begitu sangat keras. hanya akan membuat telinganya malah jadi budeg karena teriakannya
"Arsha.. " panggil Dinda
"Mama.. " sahutnya
"Mama apa benal Om Al papa Alsa. " tanya Arsha
"iya.. Seneng nggak Arsha ketemu papa? " tanya Alex.
"Alsa senang. ketemu papa. " ucap nya lalu segera minta gendong Alex
"Dion.. cepat segera hubungi kapten Roy. kita akan segera terbang. " ucap Alex yang memerintahkan Dion untuk segera menyiapkan pesawat hususnya.
Dion segera menghubungi Roy agar segera menjemput bos nya di negara S.
Sambil menunggu pesawat datang Alex mengajak Dinda dan Arsha beserta Neni dan Dion makan siang dulu.
__ADS_1
"Dind.. Nanti biar aku yang ngomong sama orang tuamu. " ucap Alex
"Iyaa. itu memang kak Al harus melakukanya. " ucap Dinda