
"Apa..!! jangan mempermalukan keluarga kami jenk Alis. kita sudah seperti saudara sejak masih kecil. katanya kita akan menyambung lagi seperti saudara sendiri." ucap Sarah sedikit gemetaran. masih tidak Terima dengan keputusan Alex.
"Maaf jenk Sarah. Alex adalah pria dewasa yang sudah bisa memilih wanitanya. yang bisa menemani nya sampai tua nanti. dan Mereka sudah memiliki anak. jadi saya tidak bisa memisahkan Alex dengan darah dagingnya sendiri. " ucap Alisia.
"Tante.. ini tidak adil tante. Sari juga bisa menemani Alex." protes Sari yang sejak dari tadi tak lepas menatap Alex dan gadis kecil itu.
"Sudah.. sudah.. ini sudah menjadi keputusan pak Alex. kita tak bisa memaksa. sebaiknya kita segera pulang sebelum terlalu malam." sahut Ardi papa Sari dan Ratu.
Tak ingin mempermalukan diri sendiri di sini. pak Ardi segera mengajak keluarganya pulang.
tinggalah Dinda dan keluarga Alex yang masih di sini.
"Ma.. kita harus balas Dinda. buat Dinda itu malu pada semua orang. buat keluarga Dinda di hina oleh tetangganya sendiri" usul Sari setelah mereka berada di dalam mobil.
"Sari.. apa yang akan kau lakukan. Dinda itu tidak tau apa apa. dia itu juga korban dari masalalunya." ucap Pak Ardi. Pak Ardi tidak suka jika anak dan istrinya memiliki sifat dendam.
"Paa.. Dinda itu sudah merebut calon suami putri kita. kita harus balas. " jelas Sarah.
"Maa.. Dinda itu dulu di jebak oleh temen Dinda. makanya Dinda tidak tau ayah dari anaknya. mama jangan punya kesimpulan sendiri seperti itu dong ma." ucap Ratu menasihati mamanya.
"Kamu anak kecil tau apa. sudah kamu diam saja." balas Sarah.
merekapun terdiam. tapi otaknya tetap berjalan untuk rencana menghancurkan keluarga Dinda.
...**...
"Dokter Ayu atau dokter Dinda nihh saya memanggil? " tanya Boby.
Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga. Alisia langsung jatuh cinta pada Arsha. Alisia dan Suaminya tengah duduk di ruang televisi.
"Dinda adalah orang biasa kak. dan Dinda tidak bergelar sebagai seorang dokter. jadi panggil Dinda aja. " jawab Dinda
"Ohh.. tapi kan kau mempunyai keahlian menjadi seorang dokter. jadi lebih baik kau lanjutkan saja itu keahlianmu Dinda. " ucap Boby.
"Saya memang mau melanjutkan lagi. menunggu pengalihan nama dari Ayunda menjadi Adinda. " jawab Dinda.
"Al.. ini Arsha sudah ngantuk. biarkan nginap di sini saja yaa.." ucap Alisia
"Ohh tidak mam. tadi Alex izin sama pak Darmawan akan mengantar jika acaranya sudah selesei. " jawab Alex.
"Yahh.. padahal mama masih pingin becanda sama Araha." rajuk Alisia
"Mama kan bisa, mengubungi besok di rumah tante Tia. sudah lama kan mama tidak bertemu dengannya." usul papa Alex.
__ADS_1
"Ya sudah.. kalian hati hati di jalan." ucap Alisia.
"Dinda Aku antar kalian sekarang yaa.. kasian Arsha sudah sangat ngantuk." ucap Alex.
"Iya kak.. Dinda juga udah ngantuk." jawabnya.
Dinda segera pamit pada kedua orang tua Alex dan juga Abang Boby.
Didalam mobil. sudah ada Ghani yang siap mengantar bosnya ke manapun.
"Sepertinya mama tidak keberatan dengan hubungan kita Din. Jadi kakak pingin cepet cepet nikahin kamu. " ucap Alex.
"Tinggal orang tuaku kak. kakak Alex masih punya PR satu untuk meluluhkan hati papa." sahut Dinda.
"Kakak yakin. papamu juga akan setuju. lihat saja perubahan tadi pas kita akan izin papamu. papamu langsung mengangguk. yaa walau beliau tidak mau melihat kakak." ucap Alex.
( Sebelum berangkat tadi.
Setelah Alex dan Dinda ngobrol tentang perasaan mereka. Dinda dan Alex memberanikan diri minta izin pada Darmawan.
Darmawan hanya mengangguk tanpa menoleh dan melihat wajah mereka.
Darmawan hanya berpesan untuk mengantar kembali anak dan cucunya dalam keadaan baik. dan tidak terluka sedikitpun.)
"Arsha begitu pules tidurnya kak. Dia begitu nyaman berada di pelukan papanya." ucap Dinda.
"kakak juga berharap. mama nya Arsha juga nyaman ada di pelukan kakak. ngak banyak sihh tiap malam saja. " sahut Alex..
"Ishh.. nyebelin. " kesal Dinda.
Alex tertawa.
"Pernah denger nggak Din.? " tanya Alex
"Enggak." jawabnya singkat.
"Belum selesei ngomong udah di potong aja." gerutu Alex
"Apaa... habisnya nanya nya cuma pernah denger nggak. yaa Ku jawab 'Enggak' dong." jawab Dinda yang menampakkan senyum terpaksa nya.
"Orang yang mudah marah itu. akan terlihat lebih judes di wajahnya. karena otot otot di wajah jadi keras." ucap Alex.
Dinda langsung mencubit pinggang Alex karena sangat kesal..
__ADS_1
"Dinda begini itu karena Dinda harus kerja. membesarkan anak sendiri. dan harus memikirkan kuliah." jawabnya dengan menampakkan rasa kesal.
"Siapa yang bilang jika Dinda memiliki ciri ciri itu. kakak cuma bilang jika wanita yang.. " ucapnya terpotong. saat Dinda kembali mencubitnya
"Yaa Tuhaan.. ternyata cubitan ini tidak sesakit saat mencari nya yang selalu kecewa. " ujar Alex.
"Kakak kan orang kaya. punya banyak anak buah kenapa mencari Dinda selama 7 tahun tidak ketemu. atau hanya akal akalan kakak aja agar Dinda dan keluarga Dinda mau nerima kakak. " tanya Dinda
Alex pun mengambil nafas lalu mengeluarkannya.
"Anak buah kakak itu bodoh bodoh. Selalu salah memberi informasi." jawabnya.
"mungkin termasuk bos nya juga kali yaa. " sahut Dinda.
"Nggak lah.. kakak mah pintar. cuma kalo soal mencarimu emang kakak serahkan pada anak buah. karena banyaknya pekerjaan kakak. " jawabnya.
Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah orang tua Dinda.
papa Dinda masih menunggu di teras. wajahnya terlihat di tekuk karena menunggu kehadiran anak dan cucunya yang sudah sangat malam. namun belum sampai rasa mah juga.
"Pa.. papa belum istirahat? " tanya Dinda
"Lama sekali kau mengantar mereka. Cepat bawa cucuku masuk ke kamarnya." titah Darmawan pada Alex.
Alex hanya nurut saja. biasanya kalo di kantor papa Dinda yang selalu nurut sama Alex. sekarang jadi terbalik.
"Kak.. tidurkan di sini saja" ucap Dinda. Alex segera membaringkan tubuh Arsha di atas tempat tidur Dinda .
sedangkan Dinda segera masuk ke ruang ganti.
Alex duduk di tepi ranjang sembari melihat wajah putrinya yang tertidur lelap.
Dinda keluar dari ruang ganti. hanya memakai pakaian tidur yang transparan dan se*si. Dinda tak tau jika Alex masih disini.
"Dinda.. " gumam Alex.
"Kaka Alex.. " teriak Dinda. lalu segera menutup bagian yang terlihat.
"Maaf kakak masih ingin melihat putri kakak." ucapnya.
"Udahh sana. buruan pulang. besok bisa kesini lagi." usir Dinda.
...Bersambung...
__ADS_1
( jangan bilang kurang lagi ya Akak. sedikit demi sedikit lama lama menjadi menggunung. 😁)