
Di dalam Ruang rawat Darmawan, Neni segera duduk di sampingnya.
Darmawan segera mengungkapkan apa yang sudah di pendam beberapa hari ini. walau berbicara dengan terbata bata namun Neni masih bisa mendengar dan memahaminya.
Petugas laboratorium masuk keruang rawat Darmawan. Dan Darmawan segera di ambil darahnya untuk di lakukan test DNA. begitu juga dengan Neni.
Rasanya tidak percaya jika Dirinya adalah putri dari keluarga Darmawan. Namun apapun hasilnya Neni tak banyak berharap. jika memang dirinya adalah putri nya Darmawan yang hilang. Neni akan sangat bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya sendiri.
'Siapa yang telah menculikku dulu.. tega banget memisahkan seorang anak dari ayah dan ibunya.", batin Neni.
Di luar Alex Sedang mendengarkan cerita dari Dinda.
Derttt Derttt.. ponsel Alex berdering. Alex segera menjauh sebentar untuk menerima telponnya.
"Bagaimana Dion? " tanya Alex.
"Apa... Kalo begitu. usut terus preman itu. dan kurung dia di gudang yang biasa. buat dia mengaku. jika tidak bisa biar aku yang akan memberi perhitungan. " ucap Alex yang memerintahkan Dio untuk mengurung Condet yang sudah berani ikut campur urusan Alex.
Setelah obrolan Selesei Alex segera kembali ketempat Dinda. dimana di sana juga sudah ada Neni dan Mutiara.
ponsel Alex kembali berdering. kali ini dari mamanya.
Alex segera menggeser tombol hijaunya
"Ya Hallo maa" sapa Alex
^^^"Nak.. apa benar berita itu? " tanya Alisia^^^
"Berita apa mam? " tanya Alex
^^^"Berita jika Dinda itu wanita yang nggak benar? " tanya nya lagi^^^
"Semua itu salah ma.. itu adalah foto Dinda bersama tut tut tut." ucapan Alex terputus saat ponselnya sudah kehabisan daya.
"Kak.. papa ingin bertemu dengan kakak" ucap Dinda. sesaat setelah Dinda tadi dari dalam. karena papanya ingin bicara padanya
"Aku..? ada apa? " tanya Alex
"Masuklah kak. Dinda juga tidak tau." jawabnya
Alex segera melangkah masuk keruangan Darmawan. dan Alex segera duduk di samping brangkar tempat papa Dinda beristirahat.
"Pak Darmawan.." panggil Alex.
Darmawan segera meraih tangan Alex. dan meremas dengan lembut.
__ADS_1
"Ba.. pak.. mi.. nta.. to.. long.. ja.. ga.. ke.. lu.. Arsha. ga bs.. pak.. " ucap Darmawan pada Alex.
"Bapak tenang saja. tidak akan terjadi sesuatu pada keluarga bapak. saya akan menuntut dan menghabisi orang yang sudah berusaha ikut campur urusan keluarga bapak." ucap Alex di samping telinga pak Darmawan.
Darmawan. memegang erat tangan Alex.. Lalu pegangan itu mengendur pelan pelan. hingga tak ada lagi tangan hangat di kulit Alex.
Tuuuuuutttttttttttt....
"Pak.. pak Darmawan bangun pak.. " ucap Alex dengan rasa panik
"DOKTER... DOKTER... " teriak Alex.
Dokter segera berlari keruangan Darmawan.
"Dokter.... tolong pak Darmawan dokter. tolong selamatkan beliau." teriak Alex.
"Tenang pak.. kami sudah berusaha sebisa dan semaksimal kami. tapi memang Tuhan lah pemegang semua kehendaknya. " ucap Dokter.
Alex keluar dengan langkah gontai. bisa bisanya pak Darmawan meninggal saat dirinya saja yang ada di ruangan ini.
"Kak.. ada apa dengan papa? ' tanya Dinda
" Papa.. papa sudah.. tidak bisa di Selamat kan. " ucap Alex dengan seribu keberanian.
Muatiata hanya terpaku. tak di sangka suaminya akan meninggalkan keluarga tercintanya lebih dulu
"Hikkzzzz papa..." ucap Mutiara begitu sangat lirih. Bik Ning segera menenangkan Mutiara begitu juga dengan Neni. Neni segera memeluk Mutiara
"Tante.. tante yang sabar yaa.." ucap Neni
Arsha bingung melihat semua yang ada di sini menangis dan bersedih.
"Papa.. mama kenapa? " tanya Arsha
"Kata mama kita tidak boleh sedih. kenapa mama dan nenek menangis? " tanya Arsha
Alex segera memeluk Arsha dan juga Dinda.
kalian semua adalah tanggung jawabku.
"Hikzzz.. kenapa papa ninggalin kami.. kenapa paaa.. papa bencikah sama Dinda? " racau Dinda yang saat ini ada di dekapan Alex.
"Tidak... papa sudah ikhlas. papa tidak membenci Dinda. papa sangat menyayangi kalian. hanya saja papa sudah terlalu lelah." jawab Alex.
"Tantee.. " teriak Neni saat menyadari Mutiara pingsan.
__ADS_1
"Dokter... tolong.. " teriak Neni.
Mutiara segera mendapat pertolongan dari dokter untung hanya syok saja. dan tidak ada yang perlu di hawatirkan dari Mutiara.
Dinda sudah tak mampu lagi untuk berdiri. tubuhnya begitu sangat lemah. hanya bisa menangisi semua yang terjadi pada dirinya.
45 menit kemudian.
"Maaf Pak.. Ini jenazah nya sudah siap untuk di makamkan. " ucap seorang petugas rumah sakit.
Darmawan langsung di urus di rumah sakit. dan di bawa pulang ke kediamannya sudah bersih tinggal menunggu proses pemakamannya.
Alex hanya berharap di rumah Dinda sudah aman dari orang orang. Walau komplek elit. tetap tidak semuanya orang berhati bersih. terutama RTnya. sebagai seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan yang bijaksana.
Namun saat mendengar berita dari keluarga Dinda salah satunya anak buah Alex yang berjaga di sana. mereka tetap mempunyai empati dan peduli pada orang yang sedang kena musibah.
Jenazah pak Darmawan segera di bawa pulang dengan menggunakan mobil Ambulans.
Sampai di rumah ada rasa hawatir pada diri Alex. namun begitu melihat tetangga banyak yang membantu dan berdatangan. rasa hawatir itu menghilang.
Mutiara dari tadi hanya diam. begitu juga dengan Dinda. airmata tak behenti mengalir.
bik Ning mencoba menghiburnya karena di sana juga ada Arsha yang selalu nempel pada mamanya.
Alisia datang untuk mengucapkan belasungkawa pada keluarga yang di tinggal.
"Tia.. kau yang sabar yaa.." ucap Alisia
"Alis.. kenapa mas Darmawan cepat sekali meninggalkan kami. Kenapa mas Darmawan tidak tahan dengan ujian berat ini? " tanya Mutiara
"Bukan tidak tahan Tia. hanya saja Tuhan lebih menyayangi suamimu. kamu jangan bersedih terus. lihat putri dan cucumu. mereka juga ikut sedih jika kamu sedih." hibur Alisia.
"Terimakasih Alis. kau memang dari dulu selalu ada di saat aku susah. " ucap Mutiara.
Dulu waktu Mutiara kehilangan putrinya yang sudah meninggal. Alis yang selalu datang menghibur. Sampai Mutiara kembali ceria. sampai 3 tahun kemudian Mutiara di nyatakan hamil lagi.
Kebahagiaan dan kesedihan Mutiara, Alisa sangat tau. bahkan apa yang menjadi makanan favorit saat hamil.
Jenazah pak Darmawan segera di angkat untuk di bawa ke makam. di mana Pak Darmawan akan di istirahat kan.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat dengan rasa puas.
Sarah.. wanita yang sudah tega membuat fitnah sehingga harus memakan korban jiwa.
...Bersambung...
__ADS_1