
Neni segera turun. Dan melihat Dion yang menatapnya. "Apa loohh.." gumam Neni saat melewati depan Dion.
Dion hanya nyengir kuda melihat tingkah Neni.
"Terimakasih nak Dion. sudah mengantar Putri tante." ucap Tiara.
Sedangkan Neni dan Dinda sudah masuk lebih dulu. Neni itu walau usianya lebih tua dari Dinda tapi sifat kekanakan masih sering muncul. apalagi Dia tak pernah mendapat pelukan kasih sayang dari orang tuanya. jadi sikap Tomboy masih sering tersemat di pribadinya.
"Kak.." panggil Dinda
"Hemm.. kenapa kalian belum tidur? " tanya Neni
"Nungguin kakak.. jam segini mama tuu hawatir kalo anak perempuan nya belum pulang." ucap Dinda.
"Maaf mobilnya mogok. ponsel kakak mati jadi nggak bisa memberi kabar deh.." jawabnya.
"Tadi kak Alex dan keluarganya datang kemari. ", ucap Dinda
" tumben sekalian. ada apa emang? " tanya Neni
"Melamar Dinda kak." jawabnya
" Haaa.... benarkah..? " teriak Neni..
Dinda mengangguk. "Kakak bisa nggak kecilkan suara kakak itu.. Arsha baru saja tidur loh." ucap Dinda
"hehe.. maaf.. habis kaka seneng banget denger kalian mau nikah." jawab Neni.
"Kakak do'ain moga setelah menikah kalian segera ngasih keponakan lagi yang banyak buat kakak." ucapnya
"Ihh,. jangan banyak banyak lah kak. kakak juga harus ngasih aku keponakan yang lucu." ucap Dinda.
"Mana ada yang mau sama kakak. kakak aja kayak gini." jawabnya
"Kakak semua orang itu sudah ada jodohnya masing masing. jangan bicara begitu." ucap Dinda
"Sudah malam Din. biarkan kakamu istirahat." ucap Tiara pada Dinda.
"ok mam.. " jawabnya
...***...
Pagi ini.
Neni sangat terburu buru. hingga diriny tidak sempet pakai mukeup karena ada janji bertemu dengan Alex pagi ini.
"Kak.. kakak nggak sarapan dulu? " tanya Dinda.
"Kakak buru buru.. ada rapat penting sama papanya Arsha." jawabnya.
"Ini masih pagi loh kak.. kenapa buru buru sekali.? " tanya Dinda
"Kakak belum sempat mereview." jawabnya sembari memakai sepatu
"Sayang.. minum susu dulu nak. tadi pak very sudah telpon mama. katanya pak Very sudah mereview nya. jadi kau tenang saja." ucap sang mama
Neni bisa bernafas lega mendengar penuturan mamanya.
__ADS_1
Neni segera menyusul untuk gabung sarapan.
"Neni.. di poles sedikit lah wajahnya itu biar terlihat segar." ucap Tiara
"Hehe.. iya ma.. nanti aja di mobil." jawabnya.
"Berangkat bareng Dinda aja deh sayang. tadi pak supri bilang mobilnya belum jadi." ucap Tiara
"He'enmm.. tak apapa." ucap Dinda.
Setelah selesei sarapan Dinda segera pamit mamanya. begitu juga dengan Arsha dan Neni. mereka keluar dengan menggandeng Arsha. Neni ikut berjalan di belakang Dinda.
"Nanti kakak pulangnya gimana? " tanya Dinda
"Nanti mobilnya pasti dah jadi." jawab Neni sembari memoles wajahnya.
"Hari ini jam praktek ku hanya sampai jam 10 kak.", ucap Dinda
" Terus kamu mau kemana? " tanya Neni
"Mau cari baju pengantin. sama mama Alis." jawabnya.
"aihh.. enaknya punya mertua baik. suami penyayang dan kaya." celetuk Neni.
"Kakak.. " sahut Dinda. hehe.. Neni hanya nyengir.
...***...
"Sayang.. ini sepertinya bagus deh." ucap Alisia. saat ini mereka tengah berada di butik.
"bagus sih mam. tapi Dinda kurang suka modelnya." jawabnya.
"boleh ma.. Dinda coba dulu yaa.." ucap Dinda.
Alisia menunjukkan jempolnya. lalu Dinda segera masuk keruang ganti. untuk mencoba gaun pengantinnya.
setelah beberapa menit Dinda keluar dengan gaun yang sudah di pilih.

"maaa.. bagaimana? " tanya Dinda.
"Wahh.. cantik sekali kamu dengan gaun ini." ucap Alis.
Dinda tersenyum lalu berputar untuk kembali melihat dirinya di pantulan cermin.
"ini saja yaa sayang." ucap Alis.
"iya mam.." jawabnya.
Setelah perlengkapan pengantin di beli. Dinda dan Alis segera pulang. karena harus menjemput Arsha.
...**...
Neni belari terburu buru ke kantor Alex. jam rapatnya adalah jam 10. namun Neni malah datang tepat jam 10. tentu dirinya akan telat.
"Duhhh bisa bisanya aku terlambat di seleksi pertama dengan Alex yang baru sekali ini. kalo hanya dengan Alex tak masalah. ini ada beberapa kolega kolega yang bergabung Di Trave group." batinya
__ADS_1
Neni segera masuk lift setelah sampai di kantor Alex. tidak tau jika Lift itu sedang rusak.
Didalam lift juga ada pria yang sedang menunggu lift naik. sambil main ponselnya.
Setelah lift tertutup.
Bruughhhh..... Suara panjang yang membuat kepanikan Neni. Pria itu juga merasakan hal yang sama.
Wajah Neni memucat saat Lampunya padam.
"Ini.. kenapa.. tolong.. tolongg... " teriak Neni dari dalam lift. sambil menggedor gedor pintu lift
"Siapa kau.. kenapa kau ada disini.?" tanya Neni saat tanganya ada yang memegang.
"Ak.. aku tidak bisa bernafas di dalam kegelapan. tolong aku..." ucap Pria itu yang tidak jelas.
Neni semakin panik. "Siapa kamu..? " tanya Neni lagi
"Siapapun kamu yang telah mau menolongku. aku akan sangat berhutang budi padamu" ucap pria itu
"Apa yang harus aku lakukan? " tanya Neni
Pria itu tiba tiba jatuh. Neni semakin panik apa yang harus saya lakukan. kata Neni dalam hati.
"katakan.. apa yang harus kulakukan? " tanya Neni lagi
"beri aku nafas buatan." ucapnya
Nafas buatan itu seperti apa. Neni tidak tau apa itu nafas buatan.
"beri aku nafas buatan dari mulut mu. " ucap Pria itu.
Neni semakin bingung. (tidak pernah mendengar nafas buatan dari mulut. jika ia, di hisap atau di tiup sihh..) batin Neni
Mendengar nafas pria itu tersengal sengal Neni segera memberi pertolongan dengan nafas buatan sesuai yang di minta pria itu.
Neni menaruh kepala pria itu di pangkuannya dengan sedikit di dongakkan.
Neni segera menempelkan mulutnya ke mulut pria itu.
awalnya Neni menghisap nafasnya. namun pria itu tetap tidak ada respon. lalu Neni berusaha dengan meniup. Yang ada dalam kepalanya hanya ingin menolong. Neni tidak ingin berada di dalam satu ruangan yang gelap berdua saja. sedang yang satunya tengah sakarat karena mrasa tidak memiliki oksigen.
"Banguunnn jangan mati disini. aku tak ingin di tuduh sebagai pembunuh. banguunnn" teriak Neni.
Neni kembali memberi nafas buatan lagi. Pria itu terbtuk batuk lalu terbangun. " terimakasih.. kau sudah menolongku. aku akan melakukan apapun yang kau mau." ucap Pria itu.
"Sudah.. yang penting kamu tidak mati di ruangan ini." ucapnya
Pria itu terduduk dengan kepalanya bersandar di paha Neni.
Pria itu kembali terbatuk batuk. oksigen kembali berkurang..
Neni kambali panik. "Apa di gedung ini tidak ada cadangan oksigen apa.. menyebalkann sekalii.." gumam Neni
Tanpa pikir panjang Neni segera memberi nafas buatan. bersamaan dengan pintu terbuka dengan lampu yang sudah mulai terang.
"Dion.. bu Neni... " panggil Alex saat melihat Neni tengah mencium Dion.
__ADS_1
"Ka.. kauu.. " teriak Neni dan langsung melemparkan kepala Dion.
...Bersambung...