
"Ishh apaan sihh. kenapa dulu kakak.. " Ucapan Dinda terhenti saat pintu terbuka. dan nampaklah wajah Dion.
"Bos.. maaf mama anda dari tadi menelpon." ucapnya. Dion lupa saat mama Alex pesan agar Alex segera mengubungi nya.
"Terimakasih Dion." sahut nya.
Alex segera mengambil ponsel yang di bawa oleh Dion. percuma karena di dalam pesawat juga tak bisa bertelponan dengan mamanya.
Alex melihat ranjang yang ada di belakangnya. di sana terlihat dinda juga ikut merebahkan tubuhnya bersama Arsha.
Alex pun keluar dari ruangan itu. tak ingin menganggu Dinda dan Arsha. membiarkan mereka beristirahat dengan nyaman.
Sedangkan Neni. Neni tengah duduk ngobrol bersama Dion. Tak ingin menganggu, Alex segera pergi ke mini bar yang ada di peswat.
Alex mengambil minuman yang sedikit ringan. hanya untuk menghilangkan sedikit kepenatan yang tengah di rasakan.
"Bos.." panggil Dion.
Saat Alex melangkah tadi Neni melihat jika Alex berjalan ke sebuah ruangan. Neni segra memberi tau Dion jika bosnya sedang berada di salah satu ruangan.
Dion segera menyusulnya . sedangkan Neni, Neni lebih memilih masuk ke ruangan yang sudah disiapkan untuk beristirahat.
"Dion.. apa kau tau siapa orang tua Dinda? " tanya Alex
"Saya tidak tau bos. menurut dari data yang saya peroleh dari sebuah pendidikan yang Dinda juga belajar disana. Dinda adalah anak dari Darmawan." jawab Dion.
"Darmawan.. Darmawan siapa? " tanya Alex
Dion pun tak bisa menjawab. karena di dunia ini nama Darmawan pasti bukan hanya satu.
"Saya juga tidak tau itu bos" jawabnya.
Dion segera mengambil gelas satu lagi untuk dirinya. Alex pernah marah saat dirinya minum sesuatu sedangkan Dion tau. namun tidak menemani. semenjak itulah Dion selalu menemani bosnya minum yang hanya minuman ringan.
Arsha sudah bangun dan tengah berjalan mencari papanya.
__ADS_1
Namun Arsha tidak melihat satu orang pun di sini. yang ada hanya sangat mama yang tengah tertidur pulas.
mencari Neni. Arsha juga tak melihatnya. namun telinganya mendengar suara dua orang pria tengah ngobrol. Arsha segera membuka pintu ruangan di mana di sana ada Alex dan juga Dion.
"papa.. " panggil Arsha
Alex segera menoleh dan melihat putrinya sudah terbangun. Alex segera memberi Arsha susu yang sudah di siapkan di lemari pendingin.
6 jam sudah berlalu.
Kini mereka sudah berada di bandara. Alex segera menggendong Arsha. sedangkan Dinda membantu membawa koper yang ringan.
"Bos.. apa perlu saya mengantar bos sampai di kediaman Non Dinda?" tanya Dion.
"Tidak perlu Di.. biarkan Johan saja yang mengantar kau istirahat saja." ucap Alex.
Dion mengangguk dan segera memasukkan koper Dinda dan koper Neni kedalam mobil bosnya. kali ini Alex membawa Johan untuk mengantar mereka ke kediaman Dinda. di mana orang tua Dinda berada.
"Papa.. janan tindalin Alca ladi." ucap Arsha yang masih nempel di tubuh Alex.
"Papa tidak akan ninggalin kalian lagi. papa akan membawa kalian hidup bersama papa. itupun jika mama Arsha mau hidup sama papa." jawab Alex.
"Tata mama.. Mama mau melatutan cecuatu acal Alca bahadia." ucap Arsha pada Alex.
"Oh yaa.. Coba lihat mama Arsha. Sepertinya mama Arsha tengah besedih." ucap Alex yang memberi tau putrinya.
Arsha segera menoleh ke wajah mamanya. Arsha melihat mama nya tengah meneteskan airmata.
"Mama.." panggil Arsha dan langsung berhambur ke pangkuan Dinda.
"Ada apa sayang? " tanya Dinda
"Mama janan cedih." ucap Arsha sembari menghapus air mata Dinda, dengan tangan mungilnya.
"Mama tidak sedih. mama bahagia akan ketemu nenek dan kakek Arsha." Jawab Dinda
__ADS_1
Alex segera meraih tangan Dinda mencoba untuk memberi ketenangan. Alex tau apa yang dipikirkan Dinda saat ini. tidak lain pasti sikap orang tuanya nanti saat melihat dirinya kembali.
Tak berapa lama mobil yang di tumpangi masuk ke komplek perumahan jl Mayor. di mana Rumah itu adalah rumah keluarga Dinda.
Sedangkan Alex. Alex masih belum tau orang tua Dinda. karena Alex tak pernah berkunjung ke rumahnya. selama urusan pekerjaan mereka selalu membahas di kantor kalo tidak ya di tempat tempat terbuka.
"Rumah nomer 25 A. pak. berhenti di situ. " ucap Dinda
Mobil pun berhenti tepat di depan rumah Dinda yang megah. "Masih sama.. rumah ini tidak ada yang berubah. " batin Dinda
Dinda turun dari mobil dan juga Alex yang masih tetap menggendong tubuh Arsha. Neni berjalan di belakang mereka berdua sedangkan Johan membantu menurunkan Koper koper yang ada di belakang.
"Pak Asep." panggil Dinda.
Pak Asep yang sedang main ponsel segera menoleh dan menatap wanita yang sudah memanggilnya.
"No.. non Dinda.. " pekiknya . Asep segera membuka pintu gerbang nya
"Apa mama dan papa ada pak Asep?" tanya Dinda
"Ada. sebentar saya masuk dulu.." ucapnya
Dinda belum berani masuk sebelum papanya mengizinkan untuk masuk.
Didalam
Asep melihat tuannya sedang duduk nonton televisi bersama sang istri. mereka hanya tinggal berdua setelah Vita menyelesaikan pendidikan tarhirnya Vita langsung dapat kerjaan baru ke luar kota. Dan Vita pun pergi meninggalkan orang tua Dinda.
"Ada apa mas Asep?" tanya Papa Dinda.
"Tuan.. di luar.. di luar ada non Dinda " ucapnya
Sontak mata kedua orang Tua Dinda terbelalak kaget. tidak percaya putrinya akan kembali setelah pencarian selama ini tidak membuahkan hasil.
"Apa... Din. Dinda kembalii? " tanya Papa Dinda dengan wajah bahagianya. papa Dinda segera ke luar dengan mendorong kursi roda sangat istri.
__ADS_1
Dindaaaa..
...Bersambung...