CEO ITU AYAH PUTRIKU

CEO ITU AYAH PUTRIKU
Kebaikan Alex


__ADS_3

"Mama mau pulang dulu. karena Butik masih rame saat saat begini." pamitnya. Neni segera menjabat tangan mertuanya dan mengecupnya


"Hati hati ma.. terimakasih ma sudah menyempatkan untuk mengunjungi Neni." ucap Neni


"Hemm.. " jawabnya lalu segera pergi.


Neni menatap kepergian sang mama mertua.


"Maafin Neni ma.. sudah ngecawain mama." lirihnya. Airmata Neni lolos begitu saja.


Neni mengambil ponselnya. dan segera mengetik pesan ke Dion.


"Mas..." pesan Neni. dan masih belum di buka.


ting..


Neni segera membuka notif nya


Savana.


"Kak.. kakak di mana? "


Neni


"Di Rumah sakit."


Savana


"Aku kesitu. kakak pingin di bawain apa? "


Neni


"Kamu kesini aja kakak udah seneng dek."


Savana


"Ok.. OTEWE. "


Neni tersenyum melihat pesan terahir adik iparnya.


Ting...


deringan notifikasi kembali masuk.


^^^Mas Dion😘^^^


^^^"Ada apa sayang? "^^^


Neni


"Sepiii.. 😭😭"


^^^Mas Dion😘^^^


^^^"Sebentar lagi mas selesei."^^^


Neni

__ADS_1


"hati hati mas di jalan."


Neni Rindu Mas Dion😘


^^^Mas Dion😘^^^


^^^"Mas juga.. dah dulu yaa.. mas mau survey lagi gudang."^^^


Neni sudah tak membalas lagi pesan suaminya. karena Savana sudah datang.


"Kak.. ini tadi mama titip ini buat kakak." ucap Sava sembari mengangsurkan bingkisan untuk Neni


Neni segera menerimanya dan membuka isi kotaknya. mata Neni berbinar saat melihat kiriman dari mertua.


"Kakak kira mama kecewa sama kakak." ucap Neni


"Kecewa kenapa kak? " tanya Savana


"Karena kakak belum bisa ngasih cucu buat mama." jawabnya


"Mama tidak seperti itu kak. Mama hanya syok dengan musibah yang menimpa kakak dan mas Dion." jawabnya. Sebenarnya Savana hanya menutupi yang sebenarnya. dan bingkisan itu dari papa Savana tadi.


Siang tadi setelah dari rumah sakit.


flashback


Riana sempat bicara pada Savana. "Mama yakin. Istri kakakmu itu wanita yang tidak membawa keberuntungan. baru saja gagal hamil. ehhh malah ada kabar gudang terbakar.." omelnya pada Savana


Savana yang tak percaya hal itu pun menyangkal. "Mama.. ini seperti manusia zaman purba. yang masih percaya hal hal begituan." sahut Savana


Mendengar sangkakan dari putrinya. Riana semakin jengkel. "kau mau membelanya? ' tanya nya


"Papa.. sejak kapan papa disini? " tanya nya


"Sejak mama masuk dan ngomel ngomel nggak jelas." jawab pak Zayn.


"Ihh.. nggak jelas gimana? jelas jelas Neni itu wanita pembawa sial." ucap Riana


"Ma.. mama ingat. dulu Dewira juga gitu kasusnya. apa Dewi juga wanita pembawa sial? nggak kan? " tanya papanya


"Bahkan orang tua David malah semakin baik pada Dewi. selalu memberi dukungan." ucapnya


Riana terdiam. mengingat masalalu putrinya yang mengalami hal seperti Neni.


"Yauda.. papa mau ke kantor dulu. Tadi papa habis dari gudang milik Dinata group. dan syukurlah.. yang terbakar hanya barang barang yang sudah tidak terpakai." ucapnya.


Riana mendongak menatap wajah suaminya yang lebih tinggi dari dirinya. "papa dari sana? " tanya nya


"Iyaa.. papa dengar tadi dari bang Jalal. dan papa langsung meluncur kesana. sepertinya ada yang sengaja mau bakar." jawabnya.


Flashback


"Ayo kak.. buruan di makan. enak kok." ucap Savana. Neni hanya mengangguk lalu tersenyum pada Savana.


"Mas datang..'" ucap Dion yang baru masuk.


"Mas.. " sambut Neni.

__ADS_1


Mas Dion segera menghampiri Tempat di mana Neni berada. lalu mengecup kening nya. Dion melirik di atas nakas ada tas adiknya


"Ini..? " tanya Dion


"Savana di sini. dia sedang di toilet." jawab Neni


"Ohh Syukurlah.. adek mas itu emang peka pada emas " jawabnya


"Mas.. tadi dokter bilang Neni sudah bisa pulang." ucapnya


"Ohh iyaa.. sebentar mas temuin dokternya dulu. kalo begitu kita segera pulang aja yaa. " ucapnya


Neni mengangguk. Neni kembali menikmati oleh oleh dari mertuanya.


"Kak.. seperti bau tubuhnya kak Dion." celetuk Savana yang baru keluar


"Iyaa sedang ngurus administrasi."jawabnya.


...***...


"Ma.. sudah yaa.. jangan sedih kakak Neni tidak kenapa napa. dan tadi kak Dion baru saja telpon kalo malam ini kak Neni sudah boleh pulang.' ucap Dinda yang menghibur mamanya


Semenjak siang tadi. Tiara tidak ada senyum diwajahnya. memikirkan Neni dan bayinya.


" besok antarkan mama ke Neni ya nak. mama belum bisa tenang kalo belum lihat langsung keadaan Neni." ucap Tiara


Dinda bingung. karena suaminya pasti tidak restuin. secara Dirinya tengah hamil besar


"coba nanti Dinda telpon kak Al ya mam." ucap Dinda


"Sekarang saja nak." ucap Tiara.


Dinda dengan ragu menelpon suaminya baru deringan pertama langsung di angkat


"Kak.. "


"Iya sayang.. kangen yaa. " goda Alex


"iyaa. bawaan anak kita ini. rindu papanya mulu." jawabnya


"Sebentar yaa sayang. ini juga baru nyampai sayang." jawabnya.


"Kak Al.. Mama.. mama.." ucap Dinda yang masih ragu. karena selama ini Dinda selalu ngrepotin Alex.


"Mama kenapa? mama sakit? " tanya Alex


"Mama pingin ketemu kak Neni." jawabnya


Alex terdiam.. Semua tentang Keluarga Dinda sudah menjadi tanggung jawabnya. Dulu pak Darmawan menitipkan anak dan istri serta cucunya pada Dirinya.


"Yaa nanti kakak atur waktunya. biar kakak yang antar." jawabnya


Dinda begitu bahagia. suaminya benar benar suami yang penuh tanggung jawab.


"Terimakasih kak Al.. Terima kasihh.." ucap Dinda


"Terimakasih untuk apa.. kalian semua adalah tanggung jawab Kakak." jawabnya

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2