
Sarah.. wanita yang sudah tega membuat fitnah sehingga harus memakan korban jiwa.
Mutiara tidak ikut mengantar suaminya ke pemakaman. Hanya Dinda yang di temani Alex.
"Papa... hikzzz.." tangis Dinda saat melihat jenazah papanya sudah di masukkan ke lianglahat.
"Dinda.. sudah jangan di tangisi lagi. kakak tau ini sangat berat. kaka sudah berjanji untuk menjaga kalian." ucap Alex.
"Siapa yang sudah mebuat fitnah itu kak? Dinda nggak Terima. Dinda akan buat mereka juga sama merasakan kesedihan seperti yang Dinda alami." tanya Dinda
"Itu sidah menjadi urusan kakak. kau tidak usah ikut mencari nya. kakak yang akan memberi perhitungan pada mereka." jawabanya
Dinda menatap gundukan tanah yang sudah selesei. Hatinya kembali sakit. airmatanya kembali tumpah.
Semua orang sudah membubarkan dirinya dari pemakaman. tinggalah Dinda beserta Alex.
"Kita pulang Din. ini sudah mulai gelap." ucap Alex yang mengajak Dinda untuk pulang karena hari sudah mulai sore.
"Papa... Hikzzz Dinda pulang dulu." pamitnya
Alex segera menggandeng Dinda pulang. Di jalan Dio sudah menunggu bosnya.
"Bos.. " sapa Dion dan segera membuka kan pintu mobil untuk bosnya dan Dinda.
Dalam perjalanan pulang tidak ada obrolan. Dion tidak membahas Condet saat ini. karena ini waktunya tidak tepat.
Kini mereka sudah sampai. dan terlihat di rumah Sudah sepi. tinggal ada beberapa tetangga yang masih menemani Mutiara.
"Alex.. " panggil Alisia
"Mama.. mama masih di sini? " tanya Alex
"Mama, menemani tante Tia. kasian Tante Tia pasti sangat terpukul atas kepergian Suaminya. " jawabnya
"Kamu.. itu kenapa ada memar di keningmu? " tanya Alisia
"Ohh.. ini.. ini hanya luka kecil. " jawabnya.
"Ya sudah.. jika mama masih mau di sini. Alex keluar sebentar sama Dion." pamit Alex.
"Ya sudah hati hati yaa.. jangan lupa itu di obati lukanya. " pesan Alisia
Alisia kembali masuk. di sana ada Tiara yang sedang berbincang dengan tetangganya.
Dinda sedang duduk di bersama Neni dan juga Arsha.
__ADS_1
"Dinda..." panggil Alisia
"Tante duduk sini. sama Arsha biar Dinda buatkan teh hangat. " ucap Dinda
"Tidak usah Din.." jawabnya
"Tidak apa apa tante. biar Neni aja yang buatin." ucap Neni kemudian.
"Kakak.. di sini saja. " usul Dinda.
"Tidak apa apa. sekalian mau ke belakang kakak." jawab Neni
...***...
Di tempat yang beda
Ratu dan Lisa tengah duduk di teras rumahnya.
Ratu melihat gelagat mencurigakan mama nya. pulang pulang ketawa bahagia. dan langsung menyapa Ratu dan juga Lisa
"Kalian.. tidak melayat? " tanya Sarah mama nya Ratu
"Melayat? melayat siapa mam? " tanya Ratu lagi
"kalian tidak tau. jika Papa Dinda meninggal dunia. karena kena serangan jantung? " tanya Sarah
"Iyaa.. Darmawan kena serangan jantung. saat melihat berita pagi tadi mungkin." jawabnya sok sedih
"Berita apa tante? " tanya Lisa
"Mama juga nggak percaya sihh.. dengan berita itu. ", jawabnya. lalu masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar Sari putri sulung nya.
" Sayang.. ada berita baguss." ucapnya
"Ada apa ma? " tanya Sari
"Darmawan meninggoy. " ucapnya
"Kok bisa?? " tanya Sari tidak percaya.
"Dia kena serangan jantung. karena berita yang tadi pagi itu." jawab Sarah.
"Wahhh.. pasti tante Alis juga sudah tau dong mam. wanita seperti apa pilihan Alex itu. dan sebentar lagi pasti tante Alis akan kesini dan bilang minta maaf pada kita." kata Sari begitu antusias.
"Iyaa.. mama hebat kan?? Udah berhasil Menculik bayi mereka. dan sekarang lihat kan hasilnya. " ucap Sarah bangga dengan keberhasilannya.
__ADS_1
"Mama... " teriak Ratu yang tidak sengaja mendengar obrolan mamanya di kamar sang kakak. mereka lupa tidak menutup pintu.
"Ra.. Ratu.. apa yang kau lakukan di sini? " tanya, Sarah.
"Ratu nggak nyangka.. mama sekeji ini. Ratu nggak nyangka jika Ratu bisa punya mama yang tidak punya hati seperti ini.. Ratu kecewa pada mama.. Ratu kecewaaa... " teriak Ratu lalu segera berlari.
Brughhh.. "Papa.. " hiknzzz Ratu segera memeluk papanya
"Ada apa nak.. kenapa kamu berlari dan menangis seperti ini. " tanya Ardi papa Ratu
"Papa.. Ratu sangat sedih mendengar kenyataan jika papa Dinda sudah meninggal." jawab Sarah yang tiba tiba datang.
"Ratu sayang..anak papa.. semua orang pasti akan meninggal. jadi kamu tak perlu sedih. kamu kunjungi keluarga Dinda dan hibur dia. saat ini mereka memang sedang bersedih. cobaan terus datang di keluarga mereka. Dulu kakaknya Dinda hilang dan sampai sekarang mereka belum menemuksnnya. jika papa ada di posisi mereka papa pun pasti tidak akan sanggup. " jawab Ardi.
"Papa.. antar Ratu kerumah Dinda pa.. " ucap Ratu.
"Iyaa mama juga ikut. mama tadi belum sempat kesana soalnya." ucap Sarah. Sarah hanya nggak ingin Ratu menceritakan yang sebenarnya pada Dinda.
Ratu hanya mendengkus kesal sama mamanya. "Pinter sekali mama ini berakting" batin Ratu dalam hati
"Habis papa mandi yaa.. papa juga belum kesana. soalnya dengernya juga baru aja." jawabnya
"Ok paa.. Ratu juga akan berganti pakaian." jawabnya.
...****...
"Katakan siapa yang sudah membayarmu? " tanya Alex pada Condet
Dion sudah berusaha menghajar namun Condet belum juga mau buka mulut
"Ciihhh... Aku tidak akan mengatakannya padamu tuan muda. karena aku sudah berjanji pada majikanku. " jawab Condet
"Baiklah... Jika kamu memang setia pada majikanmu. mungkin kehilangan satu mata tidak masalah kan buatmu " tanya Alex
Alex segera mengambil belati nya yang sangat berkilau. sangat menampakkan ketajamannya.
"Masih belum ingin bicara? " tanya Alex
"Saya tidak takut akan ancamanmu." jawab Condet. setahu Condet Alex bukan orang yang tidak punya hati. jika mau melakukan sesuatu selalu pikir panjang.
Condet tidak tau. jika Alexander selain mempunyai hati yang lembut. tapi juga memiliki peran yang buruk pada musuhnya. tidak segan memotong anggota tubuh dari musuh yang sudah berani masuk dan ikut campur di kehidupan Alex.
"Ohhh.. baiklah... " sarkas Alex. dengan menampakkan seringaian yang tak pernah di lihat oleh siapapun.
Alex segera menempelkan belati itu di pipi. lalu di dibuat garis keatas. dan meninggalkan bekas luka disana.
__ADS_1
Aaaaa.... Teriak Condet.
...Bersambung 😂🙏...