
Setelah ritual bermesraan selesei. Neni beserta Dion segera membersihkan tubuhnya dari keringat dan air cintanya.
"Sini mas biar Neni sisirin rambutnya." tawar Neni
"Terimakasih sayang.. kau memang istri mas yang baik. beruntung mas dulu memilih mu menjadi istri mas." ucap Dion
"Bukankah dalam berumah tangga itu saling membantu mas. jadi ini semua sudah kewajiban seorang istri untuk membantu suaminya." jawab Neni
...**...
Sudah selama 3 bulan Dion menggunakan kursi roda nya. Sang istri selalu menemani suaminya di manapun sang suami ada acara acara penting bersama kolega maupun lawan bisnis.
Malam ini Neni beserta Dion menghadiri acara ulang tahun perusahaan temannya. di sana banyak orang orang penting yang hadir.
Neni mendorong Suaminya dengan gaun pesta warna Biru. senada dengan pakaian yang di pakai oleh sang suami. Rambutnya di biarkan terurai.
Dengan langkah yakin Neni masuk kedalam. Neni melewati beberapa orang wanita yang berpasangan. ada juga wanita yang sedang membicarakan orang lainn
Tidak terkecuali mereka pun juga membicarakan Neni dan Dion.
"Selamat malam Pak Dion. wahh.. istri anda walau mengurus anda setiap hari. namun tetap terlihat segar dan masih cantikk. pantas saja pak Dion begitu setia sama istrinya." ucap Seorang lawan bisnis
Dion menatap lelaki itu. "Terimakasih atas sambutan yang anda berikan pak Tiger." jawab Dion.
"Mas.. kita temui pak Vincent yuk." ajak Neni. Dion mengangguk. Neni kembali mendorong Dion.
"Kok mau yaa. mengurus suami cacat. padahal kan dia wanita yang cantik. tentu banyak pria yang antri untuk di jadikan istrinya. kalo aku sihh walau kaya tapi tak bisa apa apa mending di tinggal. Ogah urus suami yang hanya bisa nyusahin." ucap Seorang wanita lain
Neni mengelus punggung suaminya. "mas jangan dengerin kata mereka yaa.." bisiknya
Dio kembali mengangguk. tidak sekali dua kali mereka di cibir orang. dan bukan lah orang sama yang mencibir. mereka berbeda orang dan berbeda tempat.
"Selamat malam pak Dion. suatu kehormatan kami. bisa kedatangan anda. walau anda dalam keadaan tidak sempurna. namun usaha anda ahir ahir ini semakin maju. beruntung anda memiliki istri yang cantik yang dengan sigap mau membantu anda." ucap pak Vincent.
pak Vincent menatap Neni dari ujung kaki hingga kepala. lalu menggelengkan kepalanya. menggeleng seolah mengagumi semua yang ada pada istri ARDIAN BRATA DINATA.
__ADS_1
"maaf.. kami harus pulang. " ucap Dion
Dion tidak suka ada melirik istrinya sebegitu jeli lalu segera membalikkan kursi rodanya. Neni yang belum siap pun jadi tak bisa mengendalikan gerakan Dion.
Bruukk.. Dion terjatuh dari kursi rodanya.
"Mas.. mas tidak apa apa?" tanya Neni begitu panik.
"lepaskan tanganmu dari tubuh ku. Aku masih bisa berdiri sendiri tanpa bantuanmu " ucap Dion.
Semua yang hadir pada menatap Dion juga Neni. Neni segera bersimpuh ikut duduk di samping suaminya. "kenapa mas.. kenapa kau marah padaku? " tanya Neni
Dion berusaha berdiri. namun selalu gagal. Neni segera menelpon pak Fahri untuk masuk kedalam.
"Ayo mas. Neni bantu berdiri" ucap Neni
"Tidak perlu.. sudah cukup pengorbananmu untukku selama ini. Aku merelakanmu jika kau ingin pergi dariku." ucap Dion terbata bata.
"A.. apa maksudmu mas? " tanya Neni
"Ada apa mbak Neni. ? mas Dion k napa mbak? " tanya pak Fahri
"Kita pulang pak Fahri." ucapnya. Neni segera berdiri. sedangkan pak Fahri segera mengangkat Dion di atas kursi rodanya
Neni berjalan sendiri meninggalkan Dion yang masih di dorong pak Fahri.
Hati Neni begitu sakit saat mendengar ucapan Dion baru saja. "bagaimana bisa. mas Dion punya pikiran aku akan meninggalkannya. tidak ada dalam pikiran sedikitpun aku untuk meninggalkan mas Dion." batin Neni.
Sampai di dalam mobil. Neni hanya Diam. tak ingin melihat suaminya Neni benar benar kecewa pada ucapan suaminya.
tidak ada obrolan ataupun canda tawa seperti biasanya. Neni dan Dion sama sama diam.
Sampai di rumah. Neni berjalan lebih dulu. pak Fahri mendorong mas Dion sampai depan kamar. "Tinggalkan saya pak. saya bisa sendiri." ucap Dion
pak Fahri segera meninggalkan Dion di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
Dion ragu ingin membuka pintu nya. tapi Dion harus minta maaf pada Neni atas ucapannya tadi.
Dion segera membuka pintunya. dan Dion tak melihat Neni di kamar. Dion masih duduk sembari celingukan mencari Istrinya
Ceklek... pintu kamar mandi terbuka.
Nampak Neni baru saja membersihkan wajahnya dan terlihat sangat segar.
"Maafkan atas ucapan mas tadi Neni " ucap Dion.
Neni berhenti sejenak dan menatap suaminya. lalu kembali mengeringkan wajahnya dengan handuk.
"Mas tau mas salah. mas hanya malu pada diri mas yang tak bisa menjadi pria sempurna. tak seharusnya mas tadi mempermalukan diri mas sendiri di depan orang orang. mas tau kau begitu kecewa pada mas." ucap Dion lagi.
"Mas... hanya kasian padamu. mas tak ingin menjadi pria yang egois. kau berhak bahagia. kau tak harus mengurus mas setiap hari. kau tak harus menghabiskan usiamu hanya untuk pria cacat seperti mas" ucap Dion lagi.
Neni menghentikan aktifitasnya. lalu berjalan mendekat ke arah suaminya
"Mas.. ini sudah malam.. sebaiknya mas segera ganti pakaian. Neni sudah siapkan" ucap Neni
Saat Neni akan mendorong Kursi rodanya Dion mencekal tangan Neni. "Katakan jika kau mau memaafkan mas..." tuntut Dion
"Mas. sebaiknya sekarang ganti pakaian dulu. Nanti kita sambung lagi pembicaraannya." jawab Neni
"Tidak mau.. mas maunya selesei sekarang." ucap Dion
Neni segera mengalungkan kedua tangannya dan membungkuk memeluk tubuh Dion dari belakang.
"Neni tidak suka mas bicara sepeti itu. Neni tulus urus suami Neni. Neni tak pernah hiraukan omongan orang. Neni yakin suatu saat mas pasti akan sembuh seperti dulu lagi.' ucap Neni.
" Neni memang kecewa pada ucapan mas tadi. Neni memang malu saat mas mempermalukan diri mas sendiri tadi. Neni ingin kita sama sama kuat hadapi cibiran orang. Neni ingin kita tetap berusaha dan tetap bahagia dalam keadaan apapun." ucap Neni. lalu mengecup pipi suaminya dari belakang.
"Neni tidak ingin ninggalin mas sendiri. Neni tidak ingin anak kita lahir tanpa tau siapa ayahnya" ucap Neni
"Anak ???
__ADS_1
...Bersambung...