
PAPA.. JANG... PLAKKKKK... Ardi menatap putrinya yang baru saja tidak sengaja di tampar.
"Ra... Ra.. Ratuuu... " teriak pak Ardi.
Ardi segera berjongkok memastikan keadaan putrinya baik baik saja.
Masih bernafas Ardi segera memberi pertolongan pada putrinya. Ardi mengangkat Ratu di sofa.
"Ratu anak mama.. bangun nak. bangun sayang jangan begini." ucap Sarah. yang melihat kepada Ratu dalam posisi tak bisa merapatkan bibirnya.
"Maaf Buu.. kami harus membawa ibu ke kantor kami." ucap Polisi
"Tolong izinkan saya untuk menemani putri saya pak. kalo sudah bangun saya akan kesana sendiri." ucap Sarah berusaha bernegosiasi dengan polisi
"Maaf tidak busa bu.. ini akan menghambat kerja kami." ucap Salah seorang polisi.
"Ratu.. Bangun nak.. jangan buat mama menderita di san. Sari jaga adekmu ya sayang" pesan Sarah.
Sarah segera di bawa polisi.
Ardi semakin panik. Ratu belum juga bangun. "Sari.. cepat panggilkan ambulanc. Kita harus segera membawa adekmu kerumah sakit." ucap Ardi.
"Permisi pak Ardi.." sapa seorang pria.
" ohh iya.. pak Dion." jawab Ardi
"Mohon maaf Pak. saya di perintah bos Alex. untuk membawa putri bapak yang bernama Sari." ucap Dion
"Alex.. meminta Sari datang menghadap. ada apa pak Dion? " tanya Ardi
"Saya juga kurang tau pak." jawabnya.
Ttiut tiiut tiut.. suara mobil ambulanc sudah datang.
Dion menatap mobil itu dan berhenti tepat di rumah pak Ardi.
"Ini.. siapa yang sakit pak.? " tanya Dion.
"Putri saya pak. Ratu. Saya permisi dulu. harus membawa putri saya kerumah sakit" pamit Ardi
__ADS_1
Sari keluar dan ingin mendampingi papanya. "Sari kau tak perlu ikut papa. kau di jemput oleh pak Dion. karena pak Alex ingin bertemu denganmu." ucap Ardi. dan segera masuk ke mobil ambulanc. membiarkan Sari di bawa oleh Dion.
Pak Ardi tidak tau ada urusan apa pak Alex menyuruh Dion untuk menjemput Sari. Ardi hanya berharap ini bukan hal buruk.
Sesampainya di rumah sakit. Ratu segera di bawa ke ruang IGD. untuk mendapat pertolongan.
"Mari pak ikut saya keruangan." ucap Dokter setelah berhasil mendiagnosa pasien.
Ardi segera mengikuti Dokter keruangannya. "Bagai mana Dokter. Apa putri saya baik baik saja.' tanya Ardi.
"Maaf sekali bapak. karena tamparan yang begitu kuat. Rahang putri bapak patah hingga tak bisa di kembalikan.
dan juga karena terjadi pada trauma wajah yang berat, dimana tidak hanya cedera patah tulang rahang, melainkan beberapa tulang di wajah yang mengalami patah, ini yang menyebabkan lebih buruk keadaan pasien, keadaan putri bapak koma karena di dasar otak juga ada cedera yang mengarah ke tulang leher. jika Putri bapak tidak bisa bertahan mungkin kami tidak bisa menyelamatkan nya." jelas Dokter
(Sangking Emosinya pak Ardi. tamparan itu begitu sangat kuat. tau kan orang emosi itu otot dan dan syetan syetan berkumpul untuk bisa menguasai emosinya. 🤭)
Tubuh Ardi melemah. seluruh persendian tetiba saja terhenti. "Yaa Tuhan.. tolong sembuhkan putri saya." Doa Ardi dalam hati.
"Apa tidak ada cara lain dokter? " tanya Ardi
"Mungkin bapak bisa membawa keluar negeri. disana pengobatannya lebih maju dan lebih bisa di andalkan." jawab Dokter
Ardi keluar dari ruangan dokter. "Kebangkrutan sudah didepan mata. Jika aku bawa Ratu keluar negeri. apakah aku masih sanggup membiayai nya?" tanya Ardi dalam hati.
Ardi melihat Ratu tak berdaya "Lebih baik aku bawa saja keluar negeri. di sana semoga ada harapan." batin Ardi
Ardi segera mengurus mencabutan pasien. tak peduli dengan biaya nya. asal putri tercinta nya bisa di sembuhkan.
Jika harus kehilangan harta benda tak masalah. asal pitrinya bisa sembuh.
...***...
"Dinda tengah berada di ruang tamu. bersama Alex dan juga Mutiara.
"Bos.. ini nona Sari sudah saya bawa kesini." ucap Dion yang baru saja sampai.
"Kak.. kenapa kakak membawa kak Sari kesini? " tanya Dinda.
"Dia yang akan menjelaskan. tentang foto yang tersebar bebas di televisi kemarin" jawab Alex
__ADS_1
"Apa maksud nya kak.? " tanya Dinda belum faham.
"Sari ceritakan apa tujuanmu menyebarkan berita tidak benar itu." tanya Alex.
Sari terdiam menatap benci pada Dinda. dan juga Mutiara. tidak kunjung menjawab pertanyaan, Alex kembali menanyakannya
"Katakan Sari.. sebelum aku juga akan membatalkan kerjasama dengan papamu." ucap Alex lagi.
"Jangan Mas... jangan lakukan itu. dan jangan laporkan aku dan mamaku kepolisi. aku mohon maaf mas" ucap Sari yang sudah berada di sebelah Alex.
"Katakan sebelum aku memba.. " ucapan Alex terpotong.
"Ok.. ok saya akan ceritakan." ucap Sari. Sari mulai menceritakan tentang berita itu dengan wajah tertunduk. tak punya keberanian walau hanya menatap wajah Mutiara ataupun Dinda.
"Dari mana kau dapat foto itu?" tanya Alex, setelah Sari selese menceritakan.
Sari semakin gemetar. rasanya sangat malu sekali. Malu pada Alex. karena sudah lancang mencuri fotonya. Sari Diam dan masih tetap menunduk.
"Katakan.. Jika tak ingin aku membatalkan kerja sama pada Cahaya Group yang dikelola papamu" ucap Alex lagi. Alex hanya mengancam ingin membatalkan kerjasama. denga Ardi. tidak ingin mengancam yang menyangkut kasus Sarah. karena yang di lakukan Sarah sudah sangat melanggar hukum. dan biarkan polisi yang menyelesaikan.
"Saya... maafkan saya mas Alex. saya sudah lancang mencuri foto di ponsel Anda. Waktu itu saya sangat cemburu pada foto itu." ucap Sari terbata bata. Dan Sari pun menyesal sudah melakukan tindakan bodoh
"Ya Ampun nak Sari.. Kenapa kau lakukan itu. kau telah membuat keluarga kami di permalukan. da juga papa Dinda harus kena serangan jantung." sesal Mutiara.
"Tante.. maafi Sari tante.. Sari memang salah tapi Sari mohon tolong bebaskan mama saya dari penjara." ucap Sari
"Apa??? mama kamu di penjara? kasus apa yang membuat mama kamu di penjara? " tanya Mutiara yang belum tau.
"Mama.. mama..."Sari tak melanjutkan ucapanya. lalu menatap Alex. Sedangkan Alex tak menghiraukan. Alex malah fokus pada ponselnya
" Mama.. mama sudah.. menculik anak tante." jawab Sari begitu lirih.
"Apaa...!!? Mama Dinda tak percaya dengan pengakuan Sari.
" Apa ini benar nak Alex? " tanya Mutiara.
Alex menatap Mutiara lalu beralih ke Sari. Setelah itu Memanggil Dion. untuk menunjukkan rekaman video nya.
...Bersambung...
__ADS_1