CEO ITU AYAH PUTRIKU

CEO ITU AYAH PUTRIKU
Menunggu Telpon


__ADS_3

"Maafin papa.. papa tidak ada waktu buat mencari kamu. ", gumamnya.


" Kakek.. " panggil Arsha yang mengagetkan Darmawan.


"kenapa kakek tidak dengelin Arsa.?" tanya Arsha.


"Arsha.. sudah bisa nyebut huruf 'R'?" tanya Darmawan.


"ER" cicit Arsha.


"Iya R." balas Darmawan.


"paa.. udah siang. papa nggak ngantor? ", tanya Dinda


" Ngantor. Arsha sudah bisa nyebut huruf R tadi. papa seneng." Jawabnya


"Ohh yaa.. coba Arsha sebut nama Arsha. " titah Dinda.


"Arsha." ucapnya.


"Ohh iyaa.. papa harus tau niihh perkembangan Arsha." ucap Dinda.


"Dinda.. " panggil papanya.


"Paa.. Kak Alex juga berhak tau perkembangan Arsha. Seorang ayah itu akan lebih dekat sama anak perempuannya. biarkan Dinda memberi tau kak Al setiap ada perkembangan baru Arsha." ucap Dinda.


"Ya sudah.. papa akan masuk. papa mau berangkat kekantor." kata Darmawan. lalu segera meninggalkan Dinda dan putrinya.


"Mau telpon papa nggak nihh? " tanya Dinda


"Iyaa.." jawabnya


Dinda segera mencari kontak yang sudah di save tadi pagi.


"Papa Arsha"


klik memanggil....


Hingga deringan ketiga Alex baru mengangkat.


"Halo.. " sapa Alex


"Ini Arsha kak. Arsha kangen katanya" ucap Dinda. masih agak grogi. .


"Ohh iya Arsha.. langsung beralih ke vidoe aja Din." ucap Alex.


Sedikit ragu, Dinda pun akhirnya beralih ke video call


"Hallo Arsha.. " panggil Alex. saat terhubung langsung nampak wajah putrinya


"Papa.. papa kemana? " tanya Arsha


"Papa lagi Di mobil nak. papa ada pekerjaan di tempat yang jauh dari Arsha. " jawabnya


"Arsha ikut paa.. ' ucap Arsha

__ADS_1


" Arsha sudah bisa sebut huruf R lo pa sekarang.' tambah Dinda.


"Ohh iya... pinter dong anak papa." jawabnya


setelah puas dan terobati rasa rindunya pada kedua wanita itu. Mereka segera mengakhiri obrolannya. karena Alex sudah sampai di tempat tujuanya.


...***...


"Bagaimana pekerjaan mu? aku rasa kita aman." ucap Seorang wanita yang saat ini tengah berada di sebuah Kafe tertutup.


"Semua lancar bos. lihat saja besok pagi pasti berita itu akan memenuhi stasiun televisi di kota dan luar kota" jawabnya


"Bagus. aku percaya sama kamu. karena selama ini pekerjaanmu semua beres." ucapnya


"Bagaimana dengan bayi perempuan itu. pasti dia sudah menjadi ****** kan? " tanya Wanita itu. pada Condet preman yang bekerja padanya.


"Ehmm.. kalo soal itu. saya tidak tau bos." jawabnya


"Bagaimana kamu tidak tau. bukannya kau telah meninggalkan di rumah bordil?" tanyanya


Karena tidak ingin bosnya semakin marah. Condet pun mengangguk.


"Ya sudah.. kau boleh pergi. ini uang sebagai bayaran awal. jika hasilnya bagus maka kau akan aku tambah lagi." ucap wanita itu.


Condet segera pergi meninggalkan dua wanita itu.


"Ma.. bayi siapa sih yang mama bicarakan itu? " tanya Sari pada mamanya.


"Kau tau om Harry kan. adik mama? " tanya Sarah pada putrinya


"Iyaa.. emang kenapa?" tanya Sari. yaa Harry saat ini tengah berada di rumah sakit jiwa.


Saat Mutiara melahirkan anak pertamanya. Mutiara mengalami koma. Karena sebelum melahirkan Mutiara dan Darmawan mengalami kecelakaan.


Sedangkan Sarah dan Mutiara teman sejak dari kuliah. Tidak begitu akrab. mereka akrab karena ada Alisia.


"bayi itu adalah anak Mutiara dan Darmawan. jadi bayi itu adalah kakak nya Adinda. " jawab mamanya.


"Kenapa mama melakukan itu? " tanya Sari


"Om Harry gila itu karena Tiara. Dia yang menyebabkan om mu jadi seperti sekarang ini." jawabnya.


Sari ternganga tidak percaya. "Jadi selama ini mama dekat dengan tante Tia itu... " tanya Sari


"Mama hanya berpura pura akrab. karena Darmawan kan juga teman bisnis papamu." jawabnya.


"Ternyata mama punya dendam pribadi pada keluarga Darmawan." batin Sari


Merekapun segera menghabiskan makannya. karena hari sudah sangat siang.


...**...


Sore hari


Neni tengah berada di dapur menyiapkan makanan untuk Arsha.

__ADS_1


Disana ada Darmawan juga baru pulang dari kantor.


"Di mana Dinda Nak Neni? " tanya Darmawan


"Sedang mengantar Tante Tia kerumah sakit om." jawab Neni


"Ohh.. ya sudah." balasnya


Darmawan ingin melangkah ke kamarnya. namun tidak sengaja matanya menangkap Leher Neni yang ada tompel nya.


Darmawan segera membuang jauh jauh pikirannya. Darmawan ingat saat Adelia itu di bawa oleh seorang perawat. Darmawan sempat menggendong. dan melihat ada tompel di leher bagian samping kiri Adelia.


"nak Neni. sejak kapan kamu tinggal di panti asuhan? " tanya Darmawan memberanikan diri


"Sejak orang tua saya meninggal Om. dan waktu itu saya berusia 5 tahun. karena tidak ada yang ngurus saya. saya pun di bawa ke panti oleh tetangga." jawabnya


"Ohh.." ucap Darmawan.


Plek plek plek.. suara langkah kaki mungil yang baru menuruni anak tangga


"Arsha sudah bangun? " tanya Darmawan


"Kake.. " panggil Arsha


"Cucu kakek.. " ucap Darmawan. lalu segera menggendong Arsha ke taman depan.


Darmawan menelisik wajar Arsha. ingin mencari kesamaan pada Alex. "Memang iyaa Kalo dilihat sekilas bentuk wajah nya seperti Alex. juga hidungnya. yang mirip Dinda hanya di mata dan bibirnya." batin Darmawan.


"Om.. Camilan Arsha sudah jadi. biar saya yang nyuapin." ucap Neni


"Sini biar om saja yang nyuapin. Kamu boleh masuk dan istirahat." jawab Darmawan


Neni hanya mengangguk. namun tidak benar benar meninggalkan Arsha bersama kakeknya. karena Arsha terkadang sulit untuk Diam kalo sedang makan.


"Arsha.. ayo kake suapin " ucap Darmawan


"Arsha mau sama tante Neni saja." jawabnya


"Kenapaa? " kakek pingin nyuapin Arsha


"Tidak.. mau sama tante Neni." jawabnya


Derttt.. Derttt..


ponsel Darmawan berdering.


Darmawan segera mengangkat telponya


"Iyaa ada apa Ver..? " tanya Darmawan pada sekertarisnya yang bernama Very


"Pak.. coba lihat laporan yang baru saja saya kirim lewat email bapak" ucap Very


"Ok.. " jawabnya. laporan apa sihh.. kok terkesan panik gitu Very.


"Nak Neni.. tolong suapin Arsha." panggil Darmawan.

__ADS_1


Neni yang masih berada di taman segera menghampiri. sedangkan Darmawan segera masuk ke ruang kerjanya


...Bersambung...


__ADS_2