
"Udahh sana. buruan pulang. besok bisa kesini lagi." usir Dinda. yang masih berdiri di tempatnya.
Alex segera berdiri. lalu berjalan mendekati ke arah Dinda.
Dinda merasakan gemetar. mendadak keringat dingin itu kekyar. 'Duhh apa yang akan di lakukannya. kenapa sihh kak Alex malah semakin mendekat. tidak tau apa jika aku tak bisa bernafas saat ini.' batin Dinda.
Alex segera mendekat. lalu mengambilkan Handuk yang ada di sebelahnya. segera memberikan pada Dinda.
"Tenang saja. kakak tidak akan menodai kehangatan hubungan ini. Kakak hanya ingin pamit pada Dinda. sebelum kakak pergi." ucapnya.
Dinda tak percaya dengan perlakuan Alex. Bahkan di saat sepi seperti ini Alex tak mengambil kesempatan.
"Ehemm... " Deheman papa Dinda berhasil mengalihkan pandangan Alex ke Dinda.
"Sudah malam. sebaiknya cepat pergi dari kamar putriku." ucap Darmawan. Yang di angguki oleh Alex "Iya Pak. "
"Kakak pergi dulu. Kaka ada pekerjaan ke luar kota. jika Arsha kangen kau bisa menelpon di nomer ini." ucap Alex.
Dengan tangan gemetar Dinda mengambil nomer ponsel yang Alex berikan.
Alex kembali menghampiri Arsha dan mengecup kening nya.
Alex tersenyum lalu mengangguk. "kakak akan segera pulang. Setelah itu kakak akan bawa kamu pergi dari rumah ini. kita akan segera hidup bahagia bersama." Ucap Alex sebelum meninggalkan Dinda
Alex keluar dari kamar Dinda. tak lupa Alex juga menutup pintu kamar Dinda.
Dinda segera bernafas sebanyak banyaknya. rasanya Dinda baru saja di kurung di dalam ruangan yang sangat gelap dan tidak ada oksigen.
"Bisa bisanya kak Alex membuatku salah tingkah seperti ini." Gumamnya lalu tersenyum. Dinda melepas handuk yang Alex Pakaikan tadi.
"Terimakasih kak.. kau memang pria yang baik." gumamnya.
Dinda segera merebahkan dirinya di samping Arsha. "beruntung sekali nak. kau mempunyai ayah sebaik ayahmu.. " bisiknya pada Arsha. lalu mengecup kening Arsha.
...**...
Alex sudah sampai di apartemen nya.
Alex segera melepas pakaiannya. untuk berganti dengan baju santai.
Alex tersenyum di depan cermin. membayangkan wajah merona Dinda saat di dekati tadi. "Dinda.. Dinda.. kenapa aku bisa jatuh cinta padamu." gumamnya
__ADS_1
Alex mengambil ponsel nya. menatap layar ponsel yang tidak nyala.
"apa kau akan menelponku Dinda.?" gumam Alex. berharap Dinda akan menelpon nya malam ini. Alex masih berharap Dinda akan menelpon. sedangkan yang di tunggu udah nyenyak bersama putrinya
pagi telah tiba.
Alex terbangun dan mendapati dirinya masih memeluk ponsel nya. "Ternyata kau tidak menelponku? " batinnya. "Menyebalkan" Gumamnya.
Alex segera beranjak dari tempat tidurnya. dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Menatap Dirinya di pantulan cermin. "lumayan masih ganteng." puji nya.
Setelah selesei Alex segera keluar. Terdengar seringan telpon yang begitu nyaring. Dengan semangat Alex segera berlari ke ponsel itu berada. berharap itu adalah telpon dari Dinda.
Lagi lagi Alex di buat kecewa ternyata ponsel dari Wahyu.
"Menyebalkan sekali." racaunya. lalu segera mengeser tombol hijaunya
"Yaa siapkan semuanya. aku tunggu 15 menit kau sudah menyiapkannya. " ucap Alex dengan lemah.
Setelah obrolan selesei Alex segera menaruh kembali ponselnya. menatapnya sebentar "kenapa Aku ini.. sangat berharap banget telpon dari Dinda. Dinda juga kenapa nggak menghubungi ku. apa Arsha tidak kangen papanya? " batinnya.
Setelah memakai pakaian kantor nya. Alex segera pergi kedapur. menyeduh kopi dan mbuat Roti panggang. Alex kembali melirik ponselnya. dan masih saja gelap.
Sudah tak berharap lagi Dinda akan menelpon dirinya. Alex segera menikmati Roti panggang dan kopi nya.
Alex segera meraihnya .
"Mama.. " ucapnya
"Ada apa maa? " tanya Alex.
"Antar mama kerumah Dinda nak. mama kangen sama Arsha." ucap Sang mama dari balik layar telponnya.
"Maa.. Alex ada pekerjaan di luar kota. mama sendiri aja. apa minta bang Boby untuk mengantar. " jawab Alex yang masih merasakan dongkol.
"Kakamu Boby sedang mengantar papa. Setelah tadi mengantar Falyta." ucap sng mama Felyta adalah calon istri Boby.
"Maa.. Alex sudah mau ke kantor. biar Johan saja ya ma. yang antar mama." usul Alex.
"Ya sudah.. mama tunggu Johan datang." jawab mama Alex
Alex segera menelpon Johan untuk mengantar mamanya.
__ADS_1
Sedangkan kini Alex sudah berada di kantornya. Alex sudah di tunggu Wahyu juga Dion.
"Apa kalian sudah menyiapkan semua? " tanya Alex setelah sampai di kantor.
"Sudah bos.." jawab Wahyu.
Dion segera membuka mobil untuk bosnya. sedangkan Wahyu Membuka pintu sendiri.
Di perjalanan Alex terlihat sangat gelisah. berkali kali menatap layar ponselnya. Wahyu yang ada si samping ya cuma merasa heran
'Si bos senang ni tumben sekali wajahnya begitu kusut. seperti orang yang sedang jatuh cinta. namun cinta di tolak." batin Wahyu.
"Di.. apa kau menyimpan nomernya Neni? " tanya Alex.
"Tidak bos.. emang ada ap ya bos?" tanya Dion yang belum paham.
"Tidak.. hanya ingin menanyakan kabar Arsha." balasnya
"Kan nomer Ibunya Arsha ada bos." ucap Dion lagi.
"Aku tidak memilikinya." jawabnya.
Sedangkan Wahyu hanya diam menjadi pendengar yang sejati. Mendengarkan obrolan bos nya dengan Dion orang kepercayaan bosnya.
'Siapa Arsha, Dinda, dan Neni. baru kali ini Bos nya membicarakan 3 wanita bersamaan. apa bosnya ini sedang mencari pendamping hidup. Syukurlah kalo begitu. itu artinya bosnya ini benar benar seorang pria" batinnya.
...***...
Di rumah Dinda
Arsha asyik bermain dengan kakeknya. Dari pagi Arsha tidak menanyakan keberadaan papanya.
Sedangkan Dinda ingin rasanya menelpon Alex namun tidak memiliki alasan untuk menelpon.
Dinda melihat papanya yang duduk melamun ditaman.
'apa yang sedang papa pikirkan. kenapa papa mengabaikan Arsha yang dari tadi ngajak ngobrol? ' batin Dinda
( Adelia.. di mana kamu sekarang? apa kau masih hidup? ) batin Darmawan.
"Maafin papa.. papa tidak ada waktu buat mencaru kamu. ", gumamnya.
__ADS_1
...Bersambung...