
Pagi. Istana Soedarjo
Kedatangan Anjas dan Anjani membuat kediaman Istana semakin mencekam. mereka tau Tuan Yuda menyiksa sang menantu
Dengan cepat Anjas, ayah Tuan Yuda mengalihkan fokus Tuan Yuda pada perusahaan.
Hati pilu Anjani pun langsung melepas ikatan Tangan dan kaki Nata di ranjang
"Nak.. dengarkan Mami.. kamu harus pergi.. kami selaku orang tua Yuda sangat meminta maaf padamu.. pergilah.. kami tidak ingin kamu di siksa seperti ini" ucap Anjani ibu dari Tuan Yuda
Anjas pun menganggukkan kepalanya. "Jika kondisi nya sudah membaik kamu boleh ke Istana lagi Nak.."
Nata hanya menggeleng tak mau pergi, mungkin pada saat anak anaknya belum lahir, mudah bagi Nata untuk kabur dari belenggu Tuan Yuda, tetapi beda dengan sekarang Kenza dan Kenzi harus ikut bersama Nata
"Mamih.. Nata akan pergi jika bersam Kenzi dan Kenzo" ucap Nata memeluk kedua buah hatinya dengan erat
"Nak.. masalah nya jika kamu pergi dengan Kenza dan Kenzi.. bagaimana cara kamu menghidupi merek dan mencukupi kebutuhan mereka" ucap Mamih Anjani
"Tolong jangan pisahkan saya dengan anak anak saya Mih.. saya mengandung nya 9 bulan di perut saya, dengan susah payah perjuangan saya.. saya tidak bisa Mih" Tangis pilu Nata memohon pada Papih Anjas dan Mamih Anjani
"Begini saja. jika Yuda mencari mu, dan mau meminta maaf langsung menjemput mu, kami akan menjemput mu" ucap Papih Anjas
"Tapi ini tidak adil Pih" ucap Angela
"Dia akan membunuh Nata jika membawa kabur anak anaknya" ucap Papih Anjas
"Papih saja selaku orang tuanya tidak bisa menenangkan anak Papih sendri, dia tidak suka di bantah Angela" Papih Anjas memijat keningnya
Tangis pilu Nata terdengar menyayat hati para pendengar nya, setelah perjuangan nya keluar Istana
Para pelayan, Nenek Asih, dan Angela berjibaku untuk membuat Nata bisa keluar dari Istana
Namun ada satu hal yang terus mengganjal saat kepergian nya. anak anaknya, Kenza dan Kenzi, ia memeluk dan menyusui si buah hati
Nata sempat bernegosiasi dengan Nenek Asih dan prang tua Tuan Yuda
"Nek.. bolehkah Nata membawa anak anak Nata Nek.. Nata tidak bisa tinggalkan anak anak Nata Nek" ucap Nata menangis memeluk Kenza dan Kenzi
Bayi kecil manis itupun menangis karna tau akan di tinggalkan sang ibu
"Nenek.. Nata mohon Nek..." ucap Nata menyentuh kaki Nenek Asih
Sementara kedua orang Tuan Yuda tetap kukuh membuat keputusan seperti itu, keputusan yang menurut author aja keji
"Nek.. bantu kami.. Nek.. hiks hiks" Nata masih memeluk Anak anaknya dengan erat
Kenza dan Kenzi ikut menangis bersama sang ibu. "Jangan pisahkan kami Nek.."
"Nak.. tapi jika kamu tidak pergi.. Yuda akan semakin sering menyiksa mu" ucap Nenek Asih membelai rambut Nata
"Kali ini menurut saja, kamu jangan khawatir Kenza dan Kenzi dengan siapa disini, Nenek Akan selalu menjaga mereka sampai Nenek sudah tidak bernafas lagi" Nenek Asih memeluk Nata, Kenza dan Kenzi
Angela pun ikut memeluk mereka bersama sama. Kak Nata.. tolong maafkan sahabatmu ini yang tidak bisa membantu apa apa
Nata membaringkan anak anaknya di kasur bersama sama. ia tertidur dengan pulas bersama anak anaknya
Sampai hari esok tiba, Nata terbangun di sebuah rumah sederhana.
Nata mengerjap kan Matanya, lalu ia membuka pintu rumah sederhana itu. sebuah pedesaan yang amat indah di penuhi dengan pegunungan dan perbukitan
Nata berusaha mencubit lengannya
__ADS_1
Aww.. Ya Allah ini nyata..
Tangisnya pun pecah, ia tidak tahu bahwa ia akan di pisahkan dengan anak anaknya secepat ini, sebegitukah keji nya, sampai sampai perpisahan dengan anak anaknya hanya sesingkat itu
Seorang warga desa langsung menghampiri Nata yang sedang menangis.
"Neng.. jangan nangis.. ayok ibu antar masuk kedalam" ucap ibu warga desa, ia memapah Nata masuk kedalam rumah. "Eneng.. cucunya Nenek Asih?"
"Iya bu.." ucap Nata tersenyum
"Cantik banget.. rumah ibu di sebelah rumah Neng.." tunjuk ibu itu kesebelah. "Nama ibu, Ibu Ratini.. kalo Neng siapa??"
"Saya Nata bu.."
"Jangan nangis Neng.. kita disini akan jangan Neng Nata.. suami Neng Nata galak yah.." ibu Ratini melihat bekas luka di punggung Nata
"Nggak kok bu" ucap Nata mengelak
"Aduh.. si Eneng... Nenek Asih sudah cerita.." ucap ibu Ratini
"Tenang saja Neng.. ini kampung kelahiran Nenek Asih. disini warga menerima dengan tangan terbuka" ucap bu Ratini mengelus puncak kepala Nata
"Ouh iya bu.. apa disini ada ladang untuk bekerja..."
"Ada Neng.. tinggal mampir kejuragan saja.. nanti di sana banyak kerjaan" Bu Ratini mengambil air minum untuk Nata
"Ini Neng. diminum.. tadi bu Ratini sudah sediakan"
"Besok Eneng pake aja baju khas desa sini, nanti Neng Nata ibu anter ke juragan" ucap Bu Ratini
"Neng.. hari sudah sore.. ibu pamit pulang.. ibu sudah sediakan bahan makanan tinggal eneng masak" ucap bu Ratini
"Ibu hati hati. Terimakasih.." Nata memeluk bu Ratini
"Sama sama Neng"
Nata mulai memasak makanan sederhana untuk lauknya sarapan, ia mulai menyalakan tungku nya
Dengan sabar, akhirnya masakan itupun jadi, namun hati kecilnya menangis karna tak bisa pergi membawa anak anaknya
Pagi menjadi Siang.
Nata mulai menjalankan sholat Dhuhur dengan mukane seadanya, walaupun Nata masih belum menutup aurat ya
Sore telah tiba.
Nata membersihkan rumah sederhananya, para muda mudi lewat memberikan sapaan ramah pada Nata
Mereka mengira Nata anak perawan baru di desa terpencil ini.
Setelah beberes rumah, ia langsung menunaikan sholat Magrib, dengan tangis pilu ia berdoa agar Tuan Yuda mendapat hidayah, dan semoga ia bisa bertemu Kenza dan Kenzi secepatnya
Hoek.. Hoek... Hoek... Hoek...
Nata melepas mukenah nya lal berlari kearah kamar mandi. setelah muntah muntah badannya pun lemas
"Ya Allah semoga tidak terjadi apa apa dengan ku.. bagaimana jika aku sakit.. aku harus punya biaya ke kota untuk melihat anak anak ku" Nata terduduk di Ruang Tamu sederhana
Semakin malam, Nata pun tak bisa menahan kantuknya lebih lama lagi, Nata pergi ke kamar untuk beristirahat
๐๐๐๐
Pagi pagi, Nata memasak sarapan sederhana, ia melihat gentong airnya yang semakin kosong
__ADS_1
tok tok tok tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Nata berjalan untuk membuka pintu Rumahnya
"Neng.."
"Iya bu Ratini silahkan masuk.." Nata membuka pintu rumahnya
"Sudah sarapan bu.. bareng saja sama Nata" tawar Nata
"Sudah Neng.. sok sarapan dulu.. kita nanti ke ladang mencari pekerjaan demi sesuap Nasi" ucap Bu Ratini terkekeh
"Ini Neng.. di pakai.. ini pakaian ibu saat muda" bu Ratini menaruh pakaian nya di meja
Pakaian nya sangat terbuka. batin Nata
"Terimakasih bu.."
"Sama sama Neng.."
"Ibu.. Nata cuci piring sebentar lalu ganti baju" ucap Nata
"Siap Neng" bu Ratini menunggu Nata sambil melihat lihat rumah sederhana Nenek Asih semasa kecil
Bagi warga desa sini, cuma rumah ini yah paling wah di antara rumah warga desa yang lainya
"Ayok Neng.. bawa botol air dan bekal untuk di ladang.." Bu Ratini membantu Nata agar cepat selesai
Dengan jalan kaki Nata sudah terbiasa jalan jauh, ia berjalan bersama bu Ratini, para pemuda bersiul kencang melihat Nata
30 menit berjalan, sampailah Nata di ladang juragan Baron
"Neng.. ayok.. ke juragan Baron" ucap Bu Ratini menggandeng Nata
"Juragan.." ucap Bu Ratini
"Sapa ini.. Ratini..??" tanya juragan Baron menunjuk Nata
"Dia.. saudara saya.." ucap bu Ratini. "Dia mau kerja di sini juragan"
"Boleh.. boleh.. Nama kamu siapa??"tanya juragan Baron
"Saya Nata Juragan" padangan juragan Baron memandang tubuh Nata dengan tajam
"Baik lahh.. Neng Nata.. kamu.. di bagian menjemur saja.." karna juragan Baron bisa memantau tugas para pekerja yang menjemur cabai ataupun sayuran dan beberapa ikan asin
"Terimakasih juragan" Nata tersenyum melihat juragan Baron
Deg.. Deg.. Deg..
"Permisi juragan" ucap bu Ratini membawa Nata ke bagian menjemur
Mata Juragan Baron tidak bisa lepas dari Nata. Baru aku melihat gadis yang sangat manis
Guys.. Guys... jangan lupa LIKE DAN VOTE yah๐ sebentar lagi author kuliah, melanjutkan hidup๐คฃ๐คฃ
Jangan lupa kita saling dukung๐๐ biar Novel ini bisa update walaupun Aya kuliah lagi๐ค semangat semangat
Maaf yah jika ceritanya singkat, karna author sendiri tidak suka bertele tele kalau buat cerita๐๐๐๐๐ค
__ADS_1
Aya sayang kalian๐๐คฃ๐๐
Bersambung