
Kenzi berbaring di tempat tidurnya. Hari hari menjelang kelahiran membuat Kenzi semakin gugup. "Aku rindu ibu" Kenzi berbaring di ranjangnya, menarik selimut agar menutupi tubuhnya. "Ya ampun, Lia lupa mematikan Pendingin ruangannya. Pantas saja aku mengantuk terus"
Kenzi Soedarjo 19thn
Hari ini Kenzi benar benar menghabiskan waktunya di dalam kamar. Urusan toko Kue sudah aman terkendali oleh Livia. Kenzi selalu mengelus perutnya, ketika merasakan tendangan yang cukup kuat dari perutnya. "Akhh rupanya anak ibu tidak sabar untuk melihat dunia" Kenzi terpekik kaget, karena tendangan anaknya yang cukup kencang.
Sementara di balik pintu Livia sedang merekam Video untuk Reyan. "Sudah tinggal kirim" Livia tersenyum senang, karena melihat Kenzi yang terlihat bahagia. Sekarang Livia berlalu pergi dari pintu kamar Kenzi.
"Sekarang ayo kita bangun, jangan bermalas malasan" Kenzi segera bangun, lalu berjalan ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.
tok tok tok
"Kenz.. apa kau di dalam?" Livia mencari cari Kenzi. entahlah, ada sesuatu firasat. Livia terus mengetuk pintu kamar mandi Kenzi. "Kenz" Livia memanggil manggil Kenzi.
Di dalam kamar mandi. Kenzi membersihkan dirinya di dalam bath up. setelah selesai dengan acara mandinya, Kenzi bergegas memakai baju hamilnya.
"Ya Allah" Kenzi memekik kaget melihat cairan bening yang mungucur deras dari dalam rok baju hamilnya.
"Arrghhh" Kenzi merasakan perutnya teramat sakit.
"Akhh Liv.." Kenzi berteriak dari dalam kamar mandi. Livia langsung mengambil alat untuk mendobrak pintu kamar mandi.
"Mundur Ziii" Livia langsung merusak pintu kamar mandi. "Ya tuhan" Livia kaget melihat Kenzi yang sudah terbaring di lantai kamar mandi, sambil memegang perutnya.
__ADS_1
Kenzi setengah sadar. samar samar Kenzi melihat Livia yang mencoba meminta pertolongan untuknya. "Kenzi!"
Suara itu...
"Kamu pasti kuat!!!" Reyan langsung menggendong Kenzi dengan wajah paniknya. Reyan langsung membawanya ke rumah sakit. Rey membaringkan Kenzi di kursi belakang. "Aku sedang berhalusinasi" Kenzi meraba raba wajah Reyan dengan tangannya.
"Zi.. jangan tutup matamu" Reyan menatap Kenzi dengan tatapan khawatir. Sedari malam Reyan tidak bisa tidur sama sekali, dan esoknya Reyan memberanikan diri untuk melihat langsung rumah Kenzi. benar saja, Reyan mendengar teriakan Kenzi.
"Kak.. sakit.." Mata Kenzi terasa berat. Reyan terus mengelus dan menepuk nepuk pipi Kenzi.
Tidak! aku mohon.. jangan sampai Kenzi dan anakku pergi... ambil saja nyawaku.. bertahanlah.. anak Dady....
Kenzi dan Reyan sampai di rumah sakit. Reyan melihat Kenzi yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit. Para dokter meminta Kenzi melakukan oprasi. namun Kenzi tetap keras kepala.
Reyan menemani Kenzi dalam ruang persalinan. Kenzi menggenggam erat tangan Reyan. suara melengking Kenzi membuat Reyan pucat pasi. "Arrggghhhhhhhhhhhhh"
"Kak Rey.." Kenzi mencari cari Reyan. melihat ke sekeliling ruang rawat inapnya.
"Kenzi"
"Ibuuuu" Nata mendekat memeluk anaknya. Kenzi benar benar sangat rindu pada ibunya. sang ayah juga hadir bersama kakak dan adiknya.
"Kak Kenzi.. semangat.. dimana bayimu" Kenzo melihat ke sekeliling ruang rawat inap sang kakak. Kenzi langsung berusaha bangkit untuk mencari anaknya. pikirannya sudah tidak karuan. "Tidak mungkin.. Ka Rey gak mungkin bawa anakku"
Nata langsung memeluk Kenzi yang sudah meneteskan air matanya. "Zi.. berpikirlah positif, mungkin saja Reyan sedang mengadzani bayimu" Nata mengelus puncak kepala Kenzi.
__ADS_1
Ceklek
Kenzi langsung melepas pelukan sang ibu, melihat langsung pintu kamarnya yang mulai terbuka. Reyan membawa bayinya memasuki kamar ruang inap Kenzi. "Nah itu bayimu Zi.." Tuan Yuda langsung mengambil alih gendongan Bayi Kenzi dari Reyan
"Wah, tidak ada miripnya dengan mu zi.." Tuan Yuda menggoda Kenzi. Kenzi langsung menatap sengit sang Ayah. "Ayah!!" Kenzi merentangkan tangannya. "Bawa kemari Ayah.. lihat dia haus" Kenzi melihat anaknya yang menggeliat.
Tuan Yuda langsung memberikan bayi Kenzi. Kenzi melihat wajah bayinya. "Tidak adil! padahal aku yang mengandungnya selama sembilan bulan" gunam Kenzi terlihat kesal. wajah bayinya benar benar mirip dengan wajah ayahnya, Reyan.
Semua terkekeh mendengar ucapan Kenzi. "Hanya Rey yang berusaha membuat, pantas saja dia mirip seperti ayahnya" ucap Kenzo mengejek sang kakak.
"Adik laknat!" Kenzo tertawa mendengar umpatan Kenzi. sudah lama Kenzo tak mendengar ocehan sang kakak.
Nata tersenyum melihat Kenzi. Reyan masih berdiri seperti patung. Reyan masih berpikir Kenzi belum sembuh dari traumanya. "Zii" Reyan mencoba mendekat.
Tuan Yuda langsung menatap mereka satu persatu. mengisyaratkan agar mereka keluar kecuali Reyan dan Kenzi. "Kennjiii"
"Dari mana kakak tau nama panggilan itu" Kenzi menatap tajam Reyan. Reyan semakin mendekat memegang tangan Kenzi, memberikan gantungan kunci yang ia simpan dengan baik. "Kennjjiii dan Leyyann"
"Gak mungkin! Kak Leyyan selalu melindungi Kennjiii!" Kenzi langsung melepas gengaman tangan Reyan. Reyan menatap sendu Kenzi, obsesinya benar benar menghancurkan segalanya. penolakan Kenzi saat itu membuat harga dirinya terluka.
"Ini Kenyataan Zi" Reyan memeluk Kenzi dengan erat, Kenzi berusaha melepaskan pelukan Reyan, namun Reyan semakin erat memeluk Kenzi. "Lepas! lepas! hiks hiks" Kenzi merutuki kebodohanya sendiri. tidak mungkin dia sampai tidak mengenali cinta masa kecilnya.
"Maaf" Reyan langsung melepaskan pelukannya, lalu berusaha keluar dari ruang rawat inap Kenzi. Kenzi langsung merasa kehilangan karena Reyan melepas pelukannya. "Kak Rey" Kenzi memegang erat tangan Reyan.
"Kenzi.." Reyan menatap sendu Kenzi. "Sampai kapanpun kamu tetep ada di hati Kakak, jika kamu meminta Kakak pergi, maka Kakak akan pergi dengan senang hati" Reyan melepaskan genggaman tangan Kenzi.
__ADS_1
"Kakak!!!"
Jangan pergi!!!!