Ceo Pemaksa (Revisi)

Ceo Pemaksa (Revisi)
Perubahan sikap


__ADS_3

Nata semakin jenuh berada di dalam Istana Soedarjo. semenjak anak anaknya memilih tinggal di luar Negeri Nata merasa sangat kesepian. Apalagi saat ini ia seperti burung dalam sangkar emas. Kaya tapi tidak bisa bebas. "Bosannya.. Ponsel disita, kabel telpon rumah di cabut, dan yang terparah di seluruh istana di kelilingi penjagaan yang ketat"


Tok tok tok


"Masuk!"


Kajol masuk membawa makan malam yang ia siapkan untuk Nata. "Nyonya, semoga anda menyukai masakan saya" ucap Kajol tersenyum ramah.


Nata membalas senyum ramah Kajol. "Terimakasih Kajol! tolong panggilkan Felix. aku membutuhkan sesuatu"


"Baik Nyonya akan saya sampaikan" Kajol langsung membungkuk lalu pergi dari kamar Pribadi Tuan Yuda. banyak para kakak pelayan yang bekerja di Istana. namun hanya Kajol dan Felix yang mendapat hak istimewa untuk ke lantai atas dan kamar Pribadi Tuan Yuda.


Nata langsung memakan hidangan yang Kajol sajikan. "Lapar sekali.. bisa bisanya Telpon rumah untuk memanggil pelayan juga ikut di putus oleh Tuan Yuda" Nata sangat kesal dengan suaminya.


"Sejak anak anak pergi sifat suamiku kembali seperti semula"


"Kapan kalian datang" Nata berdecak kesal karena Kenzo dan Kenza tak kunjung kembali. "Aku seperti burung dalam sangkar emas. dengan mudahnya aku tertipu oleh rayuan suamiku" Nata kesal mengacak ngacak rambutnya. suasana istana yang dulu hanya dan penuh keceriaan kini berubah.


Nata mengambil Ponsel jadul yang ia sembunyikan secara diam diam.


"Halo? Ziii"

__ADS_1


"Ibu? Ya ampun.. ibu kenapa baru telpon Kenzi? kenapa semua nomer telpon istana dan hp ibu tidak aktif" Kenzi sangat khawatir tentang ibunya.


"Zi nyalakan speakernya? Terdengar suara sautan Kenza.


"Ibu butuh bantuan kalian. mungkin nomer ini sudah tidak akan aktif lagi dalam beberapa menit" Nata menelpon dengan gelisah. Istana sudah menjadi penjara baginya.


"Ayah kalian terlihat kesal setelah mampir ke rumah Kenzi? apa ada masalah?" Nata semakin gugup, berjalan kesana kemari sambil melihat jam dinding.


"Ya bu.. memang ada masalah.. aku kira sudah selesai" ucap Kenzi tak enak hati


"Apa maksud ibu? apakah ayah mengurung ibu sebagai tahanan??" tanya Kenza dengan nada tinggi


"Ya Nak.. tolong ibu.. ponsel ini akan mati di banting oleh ayah kalian! entah ada masalah apa dia dengan kalian! tapi tolong ibu" Nata meneteskan air matanya. sudah hampir sebulan lebih ia di kurung bagaikan tahanan spesial yang hidup mewah tapi dalam lapas tetapi tidak bebas.


Nata langsung mematikan panggilan telponnya. "Ya ampun.. Felixx"


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" Tanya Felix dengan sopan. Felix terlihat curiga melihat gerak gerik Nata.


"Hmm tolong buatkan aku makanan" ucap Nata tersenyum gugup. Felix langsung pergi membuat makanan lagi.


**********

__ADS_1


Braakkkk


"Kau!!" teriak Tuan Yuda keras. Tuan Yuda mendorong Nata sampai terjatuh di lantai. "Berani beraninya kau mengadu pada anak anak? apa masih belum cukup puas? dengan fasilitas yang saya berikan pada kamu!"


Nata langsung terdiam mendengar setiap kata yang tuan Yuda ucapkan. "Aku puas tuan! sangat puas! bisakah aku pergi dari sini? bila perlu kau boleh menendangku pergi dari sini"


"Aku tidak tau kesalahan apa yang ku perbuat sampai sampai Tuan Yuda mengurungku di sini?" Nata menatap tajam mata suaminya, Tuan Yuda.


"Hah.. apa anda berbuat kesalahan Tuan? itu sebabnya anda mengurung saya? apa anda tidak berani mengakui kesalahan anda lalu meminta maaf?" Nata menyentuh dadanya yang terasa sesak karena perubahan sikap suaminya.


"Seperti masa lalu anda hanya membutuhkan anak anak dan obsesi anda. Tuan membawa saya karena saya hamil anak tuan bukan!! tolong lepaskan saya Tuan! hutang saya telah lunas. saya bukan budak anda! saya bahkan telah melahirkan anak anak saya dengan anda dengan selamat" teriak Nata dengan keras


Di luar pintu kamar.


"Tuan.. para orang suruhan anak anak anda telah datang kemari" ucap Felix


Tuan Yuda mendekat pada Nata. "Kau bebas sekarang! aku melepasmu sebagai budakku"


Air mata Nata terus menetes karena mendengar ucapan suaminya. "Jadi selama ini, dia bersandiwara" gunam Nata pelan. air matanya menetes deras. tatapan matanya sendu. "Cintaku bertepuk sebelah tangan" gunam Nata sambil menepuk meluk dadanya dengan keras. rasa sesak melanda Nata, air matanya terus menetes.


"Terimakasih Tuan.." Nata tersenyum kecut melihat suaminya. Tuan Yuda hanya terdiam mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


Nata langsung keluar dari kamar. Tujuannya saat ini hanyalah anak anaknya. "Selama ini aku hanya di anggap sebagai budaknya. budak berstatus sebagai istri" Nata sampai di di depan teras istana Soedarjo. Nata tersenyum kecut melihat kemegahan istana Soedarjo. "Kau hanya burung dalam sangkar emas"


"Hiksss hikss"


__ADS_2