Cinta Di Ujung Janji

Cinta Di Ujung Janji
Berusaha Tidak Ada Masalah


__ADS_3

"Biarkan Yah, jangan Ayah usir. Dia itu masih suaminya Hanin. " Ucap Pramudya, menenangkan hati Ayah nya.


"Ayah nggak sudi, dia datang menemui Hanin." Ucap Pak Brata.


"Iya, tapi jangan seperti ini. Ayah lihat situasi kita dimana, dan lihat kondisi Hanin. "


Pak Brata akhirnya tenang, dan menatap menantu nya, yang sedang duduk di samping tempat tidur.


Yogi pun di minta, Pramudya untuk ikut. Dengan alasan takut terjadi sesuatu di rumah sakit. Yogi hanya duduk dari jauh, tidak mau mendekat.


Pak Brata menatap dari jauh Yogi, dan dirinya lalu bangun dan berjalan mendekat ke arah Yogi. Sedang kan Pramudya hanya diam, menatap sambil duduk.


"Nak Yogi. "


"Eh Bapak. " Ucap Yogi langsung mencium tangan Pak Brata.


"Kamu apa kabar? " Tanya Pak Brata.


"Alhamdulillah, kabar baik Pak. Bapak sehat?"


"Alhamdulillah sehat. "


"Alhamdulillah."


"Maafkan Saya, kalau waktu itu. Saya sempat mendiamkan kamu. "


"Saya tidak masukan ke hati Pak. "


"Bapak seperti itu, karena kesal sama Hanin. Menduakan cinta, dan kamu lihat akibat ulah nya, dan salah pilih. Anak kan yang jadi korban. "


"Kamu tahu Yogi, saya sebagai orang tua nya, malu melihat Hanin seperti itu. Kamu yang tidak tahu apa - apa, akhirnya di singkirkan dan memilih Nugi sebagai selingkuhan nya. Saya tahu, anak saya itu menyesal. "


"Saya sudah relakan Pak, walau hati saya sakit. "


"Maafkan anak saya. "


Sedangkan di kamar, Nugi menyuapi Hanin dengan sepotong buah apel. Nugi pun sesekali mengusap perut Hanin.


"Apa Abang, sudah merasakan sayang? "


"Bagaimana juga, Abang adalah Papah nya. "


"Terus? "


"Walau kita tidak bisa bersatu, kita akan tetap merawat dan membesarkan anak kita bersama - sama. "


"Bagaimana kandungan istri Abang? "


"Alhamdulillah sehat. "


"Abang sudah kasih tahu, kalau Abang di rumah sakit nemenin kamu. "


"Pulang lah Bang, kasihan Adela."

__ADS_1


"Nggak, saya akan temani kamu. "


"Tidak usah Bang, lagian kita ini sudah memutuskan berpisah. Walau kita masih sah, tapi kita sudah memutuskan untuk mengakhirinya. "


"Maafkan Abang. "


Yogi tak sengaja melirik ke dalam, melihat Nugi yang masih mengobrol dengan Hanin. Yogi melanjutkan lagi langkah nya, hingga Pramudya menghampiri nya.


"Kamu mau pulang? "


"Iya, saya rasa nggak ada masalah. Saya pamit, sampaikan salam buat Pak Brata. "


"Iya nanti saya akan sampai kan. "


*****


"Jadi mba Hanin di rawat!! "


"Iya, Abang tadi habis ke rumah sakit. "


"Bang, Abang jagalah Mba Hanin sementara, dia sedang sakit pasti butuh Abang. "


"Nggak, Abang akan tetap disini. Kita kan sudah sepakat, untuk tidak membawa masa lalu. "


"Tapi dia masih istri Abang. "


"Sudahlah, dia nya juga nggak minta Abang buat disana. "


"Abang tahu, tapi hubungan Abang sama Hanin sudah berakhir. "


"Bang, adil lah. "


"Adela, cukup kamu atur Abang, cukup kamu mengalah terus. Kini saat nya Abang fokus sama kamu, anak yang di kandung Hanin, anak Abang, dan anak yang di kandung kamu anak Abang. Bagaimana juga, Abang sudah bertanggung jawab. ke Hanin, Abang bertanggung jawab pada anak nya bukan pada mamah nya. Tapi sama kamu, Abang bertanggung jawab semua nya. "


*****


"Yogi, keluarga Astri tanya, kapan kamu lamaran? kemarin kamu malah ketemu sebentar. "


"Nanti lah bu, terus kenapa? ibu seperti nya ngebet banget, bukan anak nya. "


"Ibu tidak mau, kamu menikah dengan perempuan model Hanin. Apalagi sekarang Hanin, calon janda. Ibu takut kamu kembali sama dia. "


"Kalau jodoh nya sama Hanin, bagaimana bu? masa ibu tolak. "


"Nggak pokok nya, Ibu tidak mau titik."


Ibu Siti langsung mematikan ponsel nya, Yogi hanya bisa tersenyum kecut. Nugi datang dan langsung duduk di samping nya.


"Wajah kamu, ruwet banget sih kayak kabel di jalanan. " Sindir Yogi.


"Biasa."


"Kamu dulu itu, tidak pernah menunjukkan masalah. Baru sekarang kamu tunjukkan, apa karena kita semua sudah tahu. "

__ADS_1


"Coba kamu jadi saya, sehari saja."


"Jangan kan sehari, satu jam saja. Saya nggak mau. "


Pramudya datang dan mereka bertiga pun duduk bersama, namun Yogi langsung beranjak bangun.


"Mau kemana? "


"Barangkali, kalian mau bicara serius. "


"Duduk lah, kita nggak bicara serius. Kita sudah lama tidak begini, kita dewasa saja lah, masa kita mau musuhan. Kita ini kan sahabat an, bagaimana juga Nugi Ayah dari ponakan saya. Yang nggak akan mungkin putus hubungan, dan yang memiliki masalah itu kamu dan Nugi, dan saya ikut terlibat juga. Dan kamu Yogi, kamu pun sudah berusaha menerima walau hati yang sakit, tidak bisa sembuh. Tapi kamu masih mau bicara baik - baik, seolah tidak ada masalah. " Ucap Pramudya.


"Maaf ya, masalah nya, saya yang buat jadi begini" Ucap Nugi.


*****


"Dek, nih susu buat ibu hamil. " Ucap Pram memberikan segelas susu.


"Makasih Bang. " Ucap Hanin langsung menegak nya.


"Gimana? ada yang di rasa? " Tanya Pram sambil mengusap perut adik nya.


"Alhamdulillah nggak, pulang dari rumah sakit sudah nggak ada keluhan. "


"Syukur lah, dek abang mau bilang. "


"Bilang apa Bang? "


"Kita bertiga, sama - sama lagi. "


"Ya udah sih Bang, ngapain lagi Abang juga ikut ribut. Yang punya masalah kan saya, Abang jangan sampai persahabatan itu renggang. "


"Di musuhi, tetap saja Nugi itu Ayah dari ponakan Abang. Bagaimana juga, nggak boleh putus. Sakit hati emang, kelakuan Bapak nya begitu. Masih untung dia tidak Abang laporkan. "


"Kalau Abang mau laporkan silahkan, kalau emang sudah nggak peduli sama kehidupan nya. "


"Kamu saja kemarin nggak kan, lebih baik mengalah. "


"Saya akan besarkan anak ini Bang, walau suatu saat Papah nya tidak lagi peduli. Saya sudah terserah apa mau dia, yang penting saya dan anak saya bahagia. Abang masih berinteraksi dengan dia, saya nggak ngelarang itu hak Abang, kalian kan dekat, dari jaman nya pendidikan sama - sama. Saya Bang, yang buat rusak kalian bertiga, dan masalah baru, Bang Nugi yang mulai. Masalah baru, tidak ada sangkut paut nya dengan persahabatan kalian, itu masalah saya sama Bang Nugi. Masalah renggang nya kalian , sudah selesai bukti nya kalian bertiga lagi kan. "


"Abang sama Nugi begini, karena dia bapak dari anak yang kamu kandung. Itu alasan Abang, kenapa sekarang masih dekat. Rasa sakit ada, sama seperti Yogi bicara terang - terangan. Sekarang, Abang tanya, bagaimana kemarin saat bertemu lagi dengan Yogi? "


"Beda lah Bang, ngobrol juga kayak dingin gitu. "


"Nah, Abang dekat juga ada beda nya, walau kita seperti nggak ada masalah. "


"Entah Bang, kalau saya lihat Bang Yogi rasanya gimana gitu. "


"Yogi, sebentar lagi punya kehidupan baru. Kamu harus ingat itu, bagaimana juga Yogi sudah jadi masa lalu. "


.


.

__ADS_1


__ADS_2