
Hanin dan Yogi berada di dalam kereta, Hanin bersandar di bahu Yogi sambil memainkan ponsel milik Yogi .
Permainan game, perang yang di mainkan oleh Hanin, dan Yogi hanya menggeleng kan kepala nya, saat melihat tertembak oleh musuh, hingga dalam permainan beberapa kali kalah.
"Bisa nggak sih, main dari tadi kok malah kalah terus. "
"Diam, jangan protes. "
"Kalau nggak bisa, main game cacing aja tuh mudah. "
"Nggak mau. "
"Jangan bilang, game cacing nggak bisa. "
"Ih.. bisa lah, masa nggak bisa. "
"Sini Abang saja. "
"Ih lagi seru tahu. "
"Gemes tahu lihatnya. "
"Diem, sekarang pasti menang."
"Awas aja ya kalau kalah. "
"Udah diem, jangan protes lagi fokus. "
Setelah menempuh perjalanan 2 jam, kereta pun sampai, dan langsung menaiki taksi menuju ke rumah Yogi.
"Mau lihat kantor nggak? "
"Ada manager baru di sana, mungkin saya di kantor pusat Bang. "
****
Tepat pukul 12 siang, kedua nya sampai di rumah Yogi. Terlihat Ibu Siti, tengah berdiri dengan wajahnya yang angkuh. Yogi menggandeng tangan Hanin, dan mendekati Ibu Siti yang sedang berdiri.
"Bu." Yogi mencium punggung tangan Ibu Siti.
Hanin pun mencium punggung tangan Ibu Siti, namun tidak ada senyum untuk Hanin. Tapi Yogi tetap menguatkan Hanin, dan membawa nya masuk kedalam rumah.
"Kamu kenapa pulang, bawa dia? " Celetuk Ibu Siti, dan Hanin melirik ke arah Yogi.
"Bu, Yogi sengaja bawa Hanin kesini. Hanya ingin, meminta restu. "
"Apa kamu, tidak ingat kalau Ibu tidak setuju. "
"Bu, saya mencintai Hanin. Bagaimana juga, saya akan terus meminta restu dari Ibu. "
Ibu Siti menatap ke arah Hanin, dan Hanin langsung menundukkan kepala nya, sedangkan Yogi menggenggam sangat erat tangan Hanin.
"Ibu terlalu sakit, sangat sakit. Apalagi, saat kamu menolak saya, yang akan melamar kamu untuk anak saya. Dan malah sekarang, kamu kembali pada anak saya. Dan kamu Yogi, seperti tidak ada wanita lain. Apa stok, wanita itu hanya Hanin. "
"Maafkan saya Bu, tapi saya mencintai Hanin. Saya kemari ingin meminta restu."
"Tidak ada kata restu, sampai mati Ibu tidak merestui kalian. "
"Bang, saya pamit ya. "
__ADS_1
"Nggak, kita hadapi Ibu sama - sama. "
"Bang, bagaimana juga restu orang tua itu penting, saya tidak mau menjalani hubungan tanpa ada restu. "Ucap Hanin.
" Ibu akan merestui kamu Yogi, tapi tidak dengan Hanin, tapi dengan wanita lain yang kamu sukai. Asal jangan Hanin, ibu tidak setuju. "
"Bu, saya mohon. "
"Bang, percuma kita bersatu, tanpa adanya restu. "
"Bu, tolong bu. "
"Ibu capek, mau istirahat. " Ucap Ibu Siti langsung pergi meninggalkan Yogi dan Hanin.
Yogi bangun dari duduk nya, dan berjalan mengikuti langkah Ibu nya yang masuk kedalam kamar. Sedang kan Hanin, langsung pergi dari rumah Yogi.
***
"Bu, Yogi mohon bu. Restui kami, memang Hanin salah, tapi itu masa lalu. Yogi saja memaafkan dia, masa Ibu tidak mau. "
"Apa kamu tidak ingat, waktu Ibu datang kesana? Hanin secara tidak langsung, mengusir Ibu. Dan sekarang dia, datang kesini. Apa salah , kalau Ibu balas dia? "
"Bu, cukup bu. Allah saja, mengampuni umat nya. Masa Ibu tidak, Yogi yang tersakiti juga, Yogi maafkan dia. Saya tahu, Ibu sakit hati. Tapi Hanin kan sudah minta maaf, tolong bu maaf kan dia. " Ucap Yogi memohon.
"Kamu keluar dari kamar Ibu, sudah waktu nya Ibu tidur siang. "
Yogi pun keluar dari kamar Ibu Siti, dan kembali ke ruang tamu. Tapi saat melihat ruang tamu, kosong. Tak ada Hanin, Yogi pun mencari Hanin. Hingga masuk kedalam butik, milik Ibu Siti.
"Mba, lihat Hanin? " Tanya Yogi, pada salah satu karyawan butik.
"Mba Hanin, tadi naik angkutan umum." Jawab nya.
"Ke arah selatan. "
****
"Ibu kok nggak bilang mau kesini, tahu mau kesini kan saya siapkan semua nya."
"Saya ikut bermalam disini ya. " Ucap Hanin pada nikita.
"Ya Allah bu, ya boleh saja. Siapa sih yang nggak boleh. "
"Makasih ya, besok juga saya akan pamit. "
Lalu terdengar bunyi ponsel dan terlihat nama Yogi menghubungi nya, namun tidak di respon nya.
"Kenapa nggak di angkat? " Tanya Nikita.
"Biarin saja. " Jawab Hanin.
Hanin terus nya mengabaikan panggilan tersebut, hingga panggilan ke 100 ponsel Hanin mati total.
Sedangkan Yogi , mencari Hanin kesana kemari, di sekitaran rumah nya. Lalu Yogi memutuskan untuk mencari lebih jauh lagi, menggunakan motor nya.
"Ya Allah Yank, kamu kemana si? maaf kan Ibu Yank, kamu sampai pergi. " Ucap Yogi sambil mengendarai motor nya.
Sedang kan Hanin baru saja menyalakan ponsel nya, setelah di biarkan mati total. Banyak panggilan masuk, dan chat dari Yogi.
Terlihat sudah pukul 12 malam, namun saat melihat di salah satu aplikasi chat, terlihat Yogi masih online.
__ADS_1
"Bang." Sapa Hanin, yang memutuskan menghubungi nya.
"Ya Allah Yank, kamu dimana? "
"Di rumah Nikita. "
"Dimana alamat nya, Abang kesana? abang cari kamu, sejak kamu nggak ada di rumah."
"Saya besok pulang saja."
"Jangan, kita besok temui Ibu lagi. "
"Seperti nya, hubungan kita tidak akan pernah, di restui. Bagaimana cara Ibu menolak saya, mungkin kita tidak berjodoh Bang. "
"Nggak, kita berjodoh hubungan kita akan di perjuangan kan. "
"Jangan membantah Ibu Bang, jangan kecewakan Ibu. Bagaimana juga, saya pernah menyakiti hati nya. Saya yang salah, sudah menyakiti hati Ibu. Maafkan saya Bang, lebih baik jangan di teruskan. "
"Katakan, alamat nya dimana ? Abang kesana sekarang. "
"Pulanglah Bang, sudah malam. Saya akan menginap di rumah Nikita, Abang capek cari saya seharian. "
"Yank."
"Assalamu'alaikum."
Hanin mematikan ponsel nya, dan langsung memejamkan kedua matanya, air mata keluar dari kedua sudut mata nya.
"Maafkan saya Bang, yang membuat semua nya berubah. "
****
"Yogi, kamu makan nak. Ibu masak kesukaan kamu. " Ucap Ibu Siti.
Yogi keluar dengan seragam lengkap nya, dan tas yang sudah berada di punggung nya. Ibu Siti, langsung diam saat akan mengambil kan nasi dan lauk di atas piring untuk Yogi
"Saya pamit bu. "
"Kamu kok sudah mau pulang lagi? "
"Tujuan saya kemari kan, mau minta restu. Tapi sama Ibu, tidak dapat restu. Saya pamit, mau kembali bertugas. " Ucap Yogi langsung mencium punggung tangan Ibu Siti.
Ibu Siti terdiam, saat menatap punggung putra nya, pergi. Sedang kan Yogi, lebih memilih menaiki motor nya untuk kembali ke tempat dimana dirinya bertugas.
****
"Makasih ya, sudah mengijinkan saya bermalam disini. "
"Sama - sama bu, maaf ya nggak bisa di jamu semaksimal mungkin. "
"Ah kamu itu, ini saja sudah cukup. Sekali lagi makasih. "
"Bu."
"Iya."
"Pacar Ibu, pasti sedih. Saya tahu, dia itu sangat mencintai Ibu. "
"Saya tahu itu, tapi takdir tidak bisa menyatukan kita. "
__ADS_1