
Hanin dan Yogi, sudah menempati rumah dinas, Hanin dan Yogi sama - sama berbenah, hingga malam tiba.
Satu persatu, barang bawaan kedua nya, sudah tersusun sangat rapih. Hanin melihat beberapa perabotan, yang di belikan suaminya.
"Abang, tahu saja, beli kulkas ukuran besar. Terus, ada oven, ada kompor listrik juga. Ada robot pembersih lantai. Ini sih, bakal jadi malas, nyapu. Belum mesin cuci, kamar mandi nya ada panas nya juga, untuk air nya."
"Kan, Abang tahu model seperti apa, istri Abang itu. "
"Makasih ya Bang. "
"Ya sudah, yang kecil - kecil besok saja. Sekarang istirahat ya, Abang capek banget."
"Sama Bang. "
Saat akan tidur, terdengar suara mobil. Bagas langsung bangun, dan mengintip dari balik gorden nya. Bagas langsung membukakan pintu, sedangkan Hanin sudah tertidur pulas.
"Assalamu'alaikum." sapa Pramudya dan Winda.
"Walaikumsalam." Balas Bagas.
"Loh, kok sepi? " tanya Winda.
"Hanin sudah tidur, dia kecapekan habis beres - beres. " jawab Bagas.
"Wah, perabotan nya bagus - bagus. Ini sih, kalah sama yang di rumah. " ucap Winda.
"Minta, sama Bang Pramudya. " ucap Yogi.
"Iya Bang, belikan dong. "
"Nanti kalau gaji nya naik. "
"Ah.. abang nggak asik."
Hanin sambil mengucak mata nya, berjalan keluar kamar. Dan langsung membulat lebar, kedua mata nya saat melihat, kakak dan Kakak ipar nya datang.
"Dari tadi? " tanya Hanin.
"Belum lama, baru 30 menit. " Jawab Pramudya.
"Kenapa, nggak bangunin sih Bang. "
"Kamu kelihatan capek, tadi Abang sudah mau tidur eh dengar suara mobil."
"Lah, kok di anggurin. Bang beli apa kek, di luar. Masa nggak di kasih apa - apa. Maaf ya Bang, Mba soalnya kita belum belanja. Baru ada air putih saja. "
__ADS_1
"Pada mau makan nggak? di depan sana ada penjual nasi goreng. "
"Nggak usah, jangan repot - repot. " ucap Pramudya.
"Iya, jangan repot - repot. " ucap Winda.
"Sana Bang, beli. "
"Saya tinggal dulu ya. " ucap Yogi langsung pergi, dengan mengendarai motor nya.
"Hanin, tuh lihat. Suami kamu yang sekarang, pola pikir nya beda sama Nugi. " ucap Pramudya mengingatkan.
"Iya Bang, nggak usah di ungkit lagi. " ucap Hanin.
"Iya nih, masa lalu. " ucap Winda.
"Bukan nya, apa - apa. Bukti kan, mana suami tanggung jawab mana yang nggak. Tuh, ini perabotan baru semua, kamu tinggal pakai. Dia itu mikir, gimana cara nya istri jadi nyaman. Nugi, baru nikah. Sudah banyak polah, kamu keluar duit, ngontrak kamu yang bayar, gaji nggak tahu tinggal berapa. Untung kamu cerai sama dia, untung dia minta rujuk kamu nggak mau. "
"Abang sudah. " ucap Winda.
"Nggak, biarkan saja. Ini pelajaran hidup buat kamu, jangan sampai kamu tularkan kelakuan kamu yang dulu sama anak kamu. "
"Iya Bang, paham saya juga. "
"Saya juga selalu bilang terima kasih sama Bang Yogi, sudah kasih kesempatan kedua. "
"Jangan kamu sia - sia kan, pria seperti dia. Karena tidak ada lagi, pria yang benar - benar tulus mencintai kamu seperti Yogi. Yang sudah di sakiti, tapi masih mau tetap bertahan sama kamu. Ingat, jadilah istri yang baik di mata suami. "
Yogi pun datang, membawa 4 bungkus nasi goreng, Hanin mengambil piring dan sendok untuk makan mereka berempat.
"Maaf ya, beli nasi goreng saja. Pasti pada lapar, belum makan malam." ucap Yogi.
"Jadi merepotkan. " ucap Winda.
"Nggak mba, malah kita senang mba sama Abang main kesini. " ucap Hanin.
****
Hanin memilih sayuran, di pedagang sayuran keliling. Hanin, menyapa para ibu - ibu yang sedang belanja sayuran.
"Ini kan, bukan nya mantan istri nya Om Nugi Ya? " tanya salah satu ibu - ibu.
Hanin hanya tersenyum, sambil menganggukkan kepala nya. Lalu lanjut memilih sayuran kembali.
"Om Nugi nya kemana dia? "
__ADS_1
"Dia kerja di luar negeri, di kapal pesiar. "
"Oh, disana. Saya kira ada disini, kamu tahu nggak. Waktu masih jadi suami kamu, dia berhutang loh sama suami saya besar nya 10 juta, belum itu sama ibu Kasim, ya bu, sebesar 5 juta. Dia keburu di pecat kasus."
"Kalau yang itu, maaf banget. Saya tidak tahu apa - apa, apalagi sampai hutang banyak juga, saya tidak ikut makan. Karena saya, juga kerja waktu itu. Dan Bang Nugi juga, malah saya yang nafkahi diri sendiri. "
"Maaf ya mba Hanin, dia memang masa lalu mba, saya dan Ibu Kasim hanya menjelaskan saja. " ucap Ibu Prapto.
"Ibu bisa hubungi nomer ini. " ucap Winda menunjukkan nomer telepon Nugi.
"Nomer siapa? "
"Itu nomer nya. " tunjuk Hanin.
Ibu Kasim dan ibu Prapto mencatat nomer ponsel Nugi, dan menyimpan nya. Sedang kan Hanin, langsung menyelesaikan belanjaan nya.
"Makasih ya. " ucap Ibu Kasim.
"Sama - sama, hubungi saja bu. Siapa tahu langsung di transfer. Dan maaf, mungkin mantan suami saya lupa bayar, karena terlalu banyak hutang di luar sana. "
****
"Abang ini gimana sih, punya hutang nggak di bayar. Saya malu tahu, sama Ibu Prapto dan ibu Kasim. Abang ini, seharusnya daya ingat nya itu tajam kalau masalah hutang. "
"Maaf Hanin, Abang lupa. Nanti Abang transfer. "
"Nanti juga hubungi sendiri orang nya, kalau sampai tahu Bang Yogi dapat omongan begitu, dia bakalan marah. Marah nya kenapa? marah nya masalah mantan, malah bicaranya sama istri saya. Nah kalau sudah begitu, gimana coba. Jangan bikin penyakit Bang, coba ingat lagi. Saya tinggal di asrama sekarang, siapa - siapa yang Abang hutangin. Jangan sampai ada yang, menyeletuk di belakang. "
"Hampir semua, itu Abang punya. "
"Ya Allah Abang, sekarang saya tidak akan tanya, itu uang buat apa. Yang saya ingin, Abang bereskan semua nya, mau di cicil atau apa. Jangan sampai tiba - tiba, ada yang menagih sama saya. "
"Iya Abang minta maaf, sebenarnya itu, adalah hutang untuk kedua adik saya, sama ayah dan ibu, kalau tiba - tiba minta. "
"Saya nggak mau urus masalah itu, saya sudah nggak mau dengar cerita nya lagu. Pokok nya, bayar. "
Hanin mematikan ponsel nya, dan langsung menegak air putih dingin. Karena emosi tingkat tinggi, sampai kepala Hanin tiba - tiba serasa pusing dan berat.
"Ya Allah, begini saja membuat kepala sakit. Ini bisa jadi pikiran saya, tadi saja dua orang secara tidak langsung kalau paham, diminta untuk bayar hutang. Itu sih, nanti dulu. Sekarang siapa nya saya, dulu dia suami. Sekarang dia bukan suami saya, saudara saja bukan, hanya teman. Teman mengobrol, tidak lebih. "
.
.
.
__ADS_1