Cinta Di Ujung Janji

Cinta Di Ujung Janji
Kemana Kamu?


__ADS_3

Satu bulan sudah, Hanin tanpa kabar, bahkan kakak nya, pun tidak memberikan informasi terkait adik nya, seakan pura - pura tidak tahu.


Yogi setiap hari, menanti kabar, tentang Hanin. Seperti biasa, di hari minggu, Yogi duduk sendiri di tepi danau sambil menatap orang yang sedang memancing ikan.


"Sudah dapat berapa ikan nya? " Ucap Candra.


"Yah, gimana mau dapat ikan, pancing nya saja kamu, taruh gitu aja. " Ucap Candra mengangkat pancing milik Yogi.


"Dari tadi kagak nyantol. "


"Ya kagak nyantol, orang nggak di kasih umpan, di mata pancing nya. "


"Lah, Abang dari tadi mancing, mana hasil nya? "


"Lepas."


"Sok - sok an. " Cibir Yogi.


"Dari pada Abang, kagak di kasih umpan." Ucap Yogi menyinggung Candra.


"Kamu dapat kabar belum dari Pram? "


"Dia bilang nggak tahu. "


"Mana mungkin, seorang kakak tidak tahu tentang adik nya. " Ucap Candra.


"Memang, Hanin itu benar - benar, menghindari saya. "


*****


"Dicky, siapa tadi? " Tanya Winda saat melihat ada seorang wanita baru pergi dari rumah nya.


"Oh, itu Sisil. " Jawab Dicky.


"Siapa dia? pacar kamu? "


"Belum, baru PDKT. "


"Bagus lah, kalau kamu sudah melupakan Hanin. "


"Kabar dia bagaimana? "


"Mana mba tahu, tanya sana sama Bang Pram."


"Dia tidak pernah jawab, hanya jawab nya tidak tahu. "


"Ya sudah, berarti itu jawaban nya. "


"Kenapa ya, Hanin sampai menghindari saya."


"Tidak hanya kamu, tapi semua pria yang dekat dengan dia. Mungkin, dia ingin sendiri, tidak ingin berurusan dengan masalah cinta. "


"Padahal, saya itu serius sama dia. "


"Sekarang, kan ada Sisil. Coba dekati dia, bukan nya dia kan suka sama kamu. Dan kamu nya suka tidak? "


"Ya ada sedikit ketertarikan. "

__ADS_1


"Dari segi umur kan, dia sama tuh nggak jauh beda, dari pada sama Hanin, lebih tua dia dan status nya janda. Kalau ada yang perawan kenapa, kamu nggak coba. "


"Ya mba, makasih ya saran nya. "


"Semoga, Sisil jodoh kamu ya. "


*****


"Kamu, jangan bohong Pram. Satu bulan tanpa kabar, masa kamu kakak nya tidak tahu."


"Sumpah saya tidak tahu, masa kamu nggak percaya sama saya. " Ucap Pramudya.


"Kamu sedang tidak bohongi saya kan? "


"Buat apa sih saya bohong, lagian Hanin sudah pergi jauh, kamu ngapain masih berharap sama adik saya. Dia sudah menyakiti kamu, dia pun sadar diri, lebih baik pergi dari pada menjalin hubungan sama kamu. Benar kata ibu kamu, ngapain kamu kejar wanita yang sudah menyakiti hati kamu. Bukti nya Hanin, mengalah dan sadar diri."


"Saya akan tunggu dia, biarkan orang mau bilang seperti tidak ada wanita lagi. " Ucap Yogi.


*****


"Ayah sudah dapat kabar dari Hanin, hari ini?" Tanya Pramudya.


"Hari ini belum, kemarin lusa dia telepon Ayah. Biarkan saja, Ayah sedang kasih dia kebebasan. Ayah ingin dia bisa bernafas lega, tanpa beban pikiran. Hanin juga tidak hanya sedih masalah hati, tapi kehilangan anak juga."


"Saya merasakan juga Yah, padahal Camelia itu, sumber kebahagiaan nya. Tapi Allah lebih sayang sama Camelia. "


"Kamu jangan khawatirkan dia, adik kamu itu sudah dewasa. Jadi kamu, tidak usah kepikiran sama Hanin. "


"Iya Ayah. "


*****


Yogi masuk kedalam kamar nya, saat sampai di rumah nya, Ibu Siti menghampiri Yogi yang sedang memejamkan mata nya.


"Kamu capek ya? "


"Ibu, iya bu. Belum tidur. "


"Boleh ibu bicara sebentar saja. "


"Mau bicara apa Bu? "


"Kalau ibu, datang ke rumah Hanin bagaimana? "


"Ngapain Bu, Hanin nya saja tidak ada."


"Apa kamu, tidak ingin ibu melamar dia untuk kamu? "


"Bu, Hanin nya saja, pergi meninggalkan saya, dan tidak tahu dia itu dimana sekarang. Lagian, kalau kita berjodoh, pasti kami akan di pertemukan. Dan kalau pun tidak, kita tidak akan pernah di pertemukan lagi."


"Apa karena ibu ya, Hanin pergi. "


"Bu, Hanin tidak akan pernah dendam sama ibu. Dia malah berharap maaf dari ibu, Yogi tidak bisa sampaikan, tentang ibu memaafkan Hanin. Karena Hanin, entah ada dimana."


"Maafkan ibu ya nak, ibu yang keras kepala."


"Sudah ya bu, Yogi juga salah. "

__ADS_1


"Ya sudah, kamu istirahat ya. "


Ibu Siti keluar dari kamar Yogi, dan berjalan ke arah ruang keluarga, dirinya lalu menghubungi seseorang, dengan menggunakan pesawat telepon rumah.


"Hallo, tolong pesan kan tiket kereta api, kalau bisa berangka hari ini."


Ibu Siti langsung menaruh kembali gagang telepon nya, dan menatap ke arah pintu kamar Yogi.


"Ibu akan, menyatukan kamu lagi dengan Hanin. Apa yang terjadi sama kamu, memang salah ibu. Maaf kan Ibu Yogi, maafkan."


****


"Mba Sari, Ibu mana? " Tanya Yogi saat baru bangun dari tidur nya.


"Ibu pergi Mas. " Jawab Sari.


"Pergi kemana? " Tanya Kembali Yogi.


"Saya tidak tahu Mas, Ibu pergi bawa tas pakaian kecil. "


Yogi langsung menelepon Ibu Siti, tapi tidak juga di respon oleh ibu nya. Hingga di chat nya, tapi hanya di baca saja.


"Ibu kemana sih, chat saja hanya di baca. Telepon nggak di angkat. " Ucap Yogi.


"Mas, Ibu hanya berpesan pada saya. Katanya kalau, Mas cari ibu sedang keluar kota. "


"Keluar kota kemana? "


"Saya tidak tahu, hanya itu saja. "


"Ibu sering keluar kota? "


"Baru sekarang Mas, sebelum nya tidak pernah. "


"Ya sudah mba, makasih ya. "


*****


"Yank, coba kamu lihat. " Ucapan Pramudya pada Winda sambil menunjukan sesuatu.


"Bang, kirim kapan ini? "


"Tadi malam, kamu sudah tidur. "


"Ya Allah, kalau Dicky tahu. Bisa marah dia, kita bohongin Dicky. "


"Bahagia banget ya, tapi di balik senyum nya ada rasa kehilangan . Berusaha untuk tegar, dan tersenyum. "


"Sampai kapan, Abang akan terus merahasiakan nya? "


"Sampai Hanin, mau kembali membuka hati nya. "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2