
Nugi menangis di depan pusara Camelia, sosok anak nya, yang belum pernah dia peluk secara nyata, hanya bisa tahu melalui video yang di kirim kan oleh Hanin, dan sebatas sambungan panggilan Video.
"Maafkan Papah, nak maafkan Papah. "
Hiks.. hiks.. hiks...
"Papah, belum sempat memeluk kamu. Maafkan Papah. "
"Camelia, tidak akan pernah membenci Papah nya, dia tahu bahwa Papah nya sayang sama dia. Kini dia, sudah bahagia di surga. Dia akan menunggu kita, disana Bang. " Ucap Hanin.
"Saya menyesal Hanin, tidak bisa ada saat dia pertama kalinya datang ke dunia. Maafkan Papah Camelia, papah banyak mengecewakan kamu. "
"Bang, kita sama - sama kehilangan. Kita juga, akan sama - sama rindu, Abang tahu Camelia bila lihat Video Abang, dia selalu tersenyum. Perpisahan kita, di akhiri dengan pergi nya Camelia. Seperti sebuah pertanda bang, seperti sebuah, kita putus ya putus sudah."
Nugi bangun dari jongkok nya, lantas menatap mantan istri nya, Hanin menatap ke arah pusara, yang masih melekat bau wangi bunga. Karena, Hanin setiap hari selalu datang untuk menggantikan bunganya nya.
"Cobaan kita berat Bang, rumah tangga kita hancur, karena kamu. Anak kita tiada, mungkin menjadi pelajaran buat kita. Mungkin ini hukuman buat kita, saya dan Abang. "
"Hanin, apa setelah kita tidak lagi memiliki anak, apa kita masih bisa jadi saudara? "
"Iya Bang, bagaimana juga kita pernah menikah, punya anak. Kita sama - sama, berdoa untuk Camelia. "
"Iya."
*****
"Abang kenapa? " Tanya Hanin saat datang ke bengkel.
"Nggak bisa, dan alat yang satu nya itu sudah jarang di jual. Satu minggu, tapi ini lebih dari satu minggu, karena Abang harus menghormati meninggal nya Camelia. Tetap saja, percuma tidak bisa di betulkan. "
"Bang, perjuangan Abang bukan, dari perbaiki mobil. Dari sini, Abang sudah terlihat berusaha. "
"Abang tidak bisa, melanjutkan perintah Ayah kamu. "
"Bang, setidaknya Abang itu sudah berusaha. Ayah pasti, akan mengerti kok dan akan menghargai usaha Abang. "
"Makasih ya. "
"Iya Bang, sama - sama. "
****
__ADS_1
"Kamu kapan balik lagi? " Tanya Yogi pada Nugi, saat kedua nya janjian untuk bertemu.
"Lusa, saya akan kembali. Yogi, tolong jaga Hanin, kamu yang sekarang ada di sisi nya. Bahagia kan dia, jangan kecewakan seperti saya dulu. Cukup saya saja, yang menyakiti nya. "
"Saya janji, akan menjaga nya. Jujur Yogi, hati saya, menyesal tidak bisa bertemu langsung dengan darah daging saya sendiri, pertama bertemu malah, pusara nya nya. Saya kadang, berfikir saya banyak salah sama anak sendiri, tidak hanya dengan Hanin. "
"Camelia, tidak akan membenci Papah nya. Dia tahu, kalau papah nya itu sayang sama dia. "
"Saya berterima kasih sama kamu, selama saya tidak ada, kamu sudah menjaga Camelia walau tidak secara langsung. Kamu sudah mau, menerima Camelia sebagai calon anak nya. Walau tidak sampai, tapi saya sangat berterima kasih. "
"Camelia, sampai kapanpun akan saya anggap anak. Saya juga, banyak memiliki kenangan sama dia. Anak itu, lucu dan menggemaskan. "
*****
"Jadi, Abang pulang besok? " Ucap Hanin.
"Iya, Abang tadi bertemu sama Yogi kemarin. Sekalian... " Nugi terhenti saat akan melanjutkan kata - kata nya.
"Kita tidak tahu, kapan akan bertemu lagi. Tapi, abang minta nanti , kalau suatu saat kita bertemu dengan keadaan yang berbeda tolong jangan tidak saling sapa. Anak kita sudah tiada, tolong jangan putuskan hubungan silahturahmi. "
"Bang, kita tutup masalah kita. Kita buka lembaran baru, bukan berarti kita melupakan anak kita. Tapi, hiks.. hiks.. hiks.. kita simpan dalam hati, Camelia itu selalu bersama kita Bang tapi disini, di hati. " Ucap Hanin sambil meneteskan air mata.
"Abang pun merasakan Hanin, boleh Abang minta satu buah kenang - kenangan milik. Camelia? "
"Bang, ini selimut Camelia. Bau nya masih bau minyak telon yang dia sering pakai. Ini belum saya cuci, karena saya selalu kangen sama dia. Saat tidur, saya peluk selimut ini. Abang bawa, buat pengobat rindu. Selain video yang saya kirimkan. "
"Terima kasih Hanin, makasih. "
"Bang, bila nanti Abang menikah lagi, dan memiliki anak. Jangan Abang lupakan Camelia, dia sedang menunggu kita disana. Hiks.. hiks.. hiks... walau Abang, memiliki kebahagiaan baru, selalu Abang simpan ya di hati. Dan jangan buang, benda milik Camelia. Tolong simpan, simpan di tempat yang layak."
"Iya, Abang akan simpan. " Ucap Nugi, sambil meneteskan air matanya.
"Jaga diri kamu baik - baik, semoga kamu bahagia dengan Yogi. Kamu nanti kabari Abang, kalau nanti nikah sama dia. "
"Pasti Bang, asal Abang tidak ganti nomer ponsel nya. "
"Iya, Abang tidak akan ganti, kalau ganti Abang janji akan kasih tahu. "
"Saya tidak mau janji, sudah kenyang saya makan janji. "
"Iya, Abang tahu. "
__ADS_1
*****
Hanin memasukan pakaian Camelia, kedalam sebuah koper. Begitu juga mainan - mainan, milik peninggalan Camelia. Hanya tersisa bantal dan guling, yang tetap berada di atas tempat tidur.
Hanin meraba nya, dan mencium nya. Setetes air mata, jatuh ke atas bantal tersebut. Hanin tersenyum, dengan meletakkan di samping bantal tidur nya.
"Mamah yakin, setiap malam kamu datang, dan temani mamah tidur. Mamah yakin, dalam tidur nyenyak nya Mamah, kamu selalu terjaga menemani Mamah. Sayang, cinta Mamah, cinta Papah akan tetap selalu ada buat kamu. Hingga waktu tiba, kita akan berkumpul lagi disana. Tunggu Mamah sayang, tunggu Papah sayang. Di dunia Mamah sama Papah memang berpisah, tapi sampai kapanpun, kami tetap orang tua utuh buat kamu. Surga untuk mu sayang, tempat terindah untuk kamu disana. Bermain lah, tersenyum lah bersama para Bidadari surga. "
Hanin merebahkan tubuh nya, dengan kedua mata yang terpejam, kedua tangan nya memeluk guling mungil milik Camelia.
****
"Nak, Papah pamit. Papah mau kembali, mencari rejeki. Maafkan Papah ya nak, Papah selalu jauh sama kamu. Tapi doa papah, tidak akan terhenti. Di sela waktu, Papah akan selalu mengirim kan doa untuk kamu. "
Nugi mencium nisan Camelia, ukiran namanya, Nugi raba. Dan Nugi, kembali mencium nisan tersebut.
"Papah pamit sayang, nanti kalau pulang. Papah akan kesini lagi, Assalamu'alaikum nak."
Nugi berdiri dengan hati yang sangat sesak, dan mata sembab nya, Nugi melangkahkan kedua kaki nya menjauh dari malam Camelia.
****
"Apa ini ? " Tanya Pak Brata pada kurir ekspedisi yang menurunkan sebuah paket dengan kardus sebesar TV tabung 32 inc.
"Paket, dari Eropa buat nama Hanin. " Jawab nya.
"Oh iya Mas, makasih ya. " Ucap Hanin yang muncul dari belakang Pak Brata.
Hanin lalu menandatangani, penerimaan barang, dan kurir memphoto sebagai tanda bukti penerimaan.
"Makasih bu. "
"Sama - sama. "
"Dari Nugi!! " Ucap Pak Brata.
"Ini di kirim buat Camelia, waktu Camelia masih ada, sama kado pernikahan buat Bang Pramudya. "
.
.
__ADS_1
.