
"Kamu sudah kembali bekerja Hanin? " Tanya Pak Brata melihat Hanin, yang sudah rapih memakai pakaian kerja nya.
"Iya Ayah, dari pada di rumah jenuh. Dan saya sudah terlalu lama, di rumah. " Jawab Hanin.
"Sekarang kamu pegang kantor mana? "
"Kantor pusat Yah, jadi saya nggak bolak balik kesana. "
"Enak begini, dekat. "
"Kalau nanti buka cabang lagi, Hanin siap kok di kirim kesana. "
"Ya Ayah sih terserah kamu, mau nya gimana. Tapi ingat, jangan kelamaan jomblo. Masa idah kamu kan, sudah selesai kamu sudah bisa memilih pria untuk jadikan suami."
"Nggak Ayah, saya masih belum mau."
"Apa kamu, masih berharap kembali sama Yogi? "
"Nggak Ayah, sudah tidak ada harapan kalau saya menikah sama dia. Memang kami tidak akan pernah, bisa di satukan. "
****
"Hallo.. "
"Dicky, kamu ngapain ada di depan kantor saya? "
"Kamu lupa ya, tempat rumah produksi kain kamu itu depan, tempat saya dinas. "
Hanin tersenyum, tak sadar Dicky berdinas di koramil yang depan rumah produksi dimana Hanin kerja.
"Kantor kamu itu disini atau dimana sih? "
"Ya disini, orang rumah produksi sama kantor nya disini. Kamu nggak tahu apa, mobil truk besar keluar masuk itu, mau kirim barang ke luar negeri. "
"Ya tahu, kirain bukan disini produksi pakaian kain batik kan banyak. "
"Ya udah, saya mau makan siang. "
"Makan siang dimana?"
"Itu disana, lagi pengen makan siang di luar. "
"Saya temanin ya. "
"Makan siang juga? "
"Iyalah lapar. "
Dicky dan Hanin berjalan sama - sama ke arah salah satu rumah makan, mereka memasang Ikan bakar besar.
"Disini itu enak, masakan nya saya paling suka. " Ucap Hanin.
"Saya malah baru. "
"Memang nya, kalau malam piket lapar, nggak sering kesini? ini kan sampai malam. "
"Nggak, saya paling suka ngemil, kadang pesan mie rebus di warung kopi seberang. "
"Jangan sering makan mie, nggak baik juga. Makanan nya di atur. "
"Kalau kamu, mau nikah sama saya, pasti pola makan di atur. "
"Kamu itu, halu nya terlalu tinggi. "
"Saya serius, kalau kamu mau nikah sama saya, besok saya lamar kamu. "
"Umur saya itu jauh, saya janda. "
"Nggak masalah, kita hanya beda lima tahun."
__ADS_1
Makanan yang mereka pesan pun datang, Hanin dan Dicky lalu mengambil nasi masing - masing, saat akan mengambil daging ikan jari Hanin terkena durinya.
"Aaaaaawwwww." Hanin langsung memegang jari nya.
"Kenapa? "
"Kena duri. "
"Saya ambilkan ya. "
Hanin mengangguk kan kepala nya, dan Dicky mengambil kan daging ikan untuk Hanin. Saat sedang makan bersama, terlihat Yogi bersama teman nya datang untuk makan. Dicky dah Hanin melihat nya, Yogi belum sadar kalau di rumah makan yang sama ada Hanin dan Dicky.
"Pacar kamu. " Ucap Dicky.
"Mantan pacar. " Ucap Hanin.
"Serius, kesempatan dong. "
Hanin hanya tersenyum kecut dan tetap fokus pada makan nya, Yogi baru menyadari ada Hanin yang sedang makan bersama Dicky. Yogi dan Dicky saling melemparkan senyuman.
"Hanin, mantan kamu duduk nya di seberang tuh, dia ngelirik ke kamu. "
"Biarin aja, lagian sudah jadi mantan."
"Eh, tunggu dulu. Kok mantan kamu, ada cewek dia datang. "
Hanin melihat, Yogi bersalaman dengan seorang wanita, dan usia nya jauh lebih muda.
"Kayak nya, itu cewek mahasiswi deh, liat dimana ya? " Ucap Dicky sambil mengingat.
"Oh.. iya, dia akan mahasiswi perawat. "
"Kamu kok tahu. "
"Tahu lah, satunya itu cewek teman saya. "
"Oh pacar nya Tentara lagi ya. "
***
"Bang Dicky. "
"Eh, Lusi. Lagi apa kamu disini? nggak sama Dito. "
"Kan, pacar saya sekarang ini. "
"Karina? " Tunjuk Dicky.
"Saya Bang, pacar nya Bang Yogi. " Ucap Karina, dan Hanin melirik ke arah Yogi.
"Oh."
"Ini pacar Abang? "Tunjuk Karina.
" Iya, ini pacar Abang. " Ucap Dicky sambil merangkul pundak Hanin.
"Kok tua ya. " Celetuk Karina, spontan Yogi ingin menahan tawa, dan Hanin menatap tajam ke arah Yogi.
"Biar tua, yang penting setia. " Ucap Dicky.
****
"Tuh, dengar kata Karina saya itu tua, dan nggak pantas sama kamu. " Ucap Hanin dengan wajah cemberut.
"Hahahahaha... nggak masalah lagi, bodoh amat, kan kita yang jalani. "
"Memang nya kamu serius sama saya? "
"Serius lah, masa nggak serius. "
__ADS_1
"Tapi saya itu tua. "
"Biarin, nggak peduli. "
*****
Hanin melihat, ada panggilan dari Nugi, di angkat nya panggilan telepon dari nya.
"Bang."
" Lagi ngapain kamu? "
"Biasa Bang, mau tidur. "
"Sudah ngantuk ya? "
"Ya gitu Bang. "
"Gimana kabar hubungan kalian? "
"Kita putus Bang. "
"Putus!! kok bisa? "
"Kita memang nggak jodoh. "
"Abang sedih dengarnya. "
"Abang sekarang masih sama dia? "
"Masih, Abang jalani saja. "
"Semoga ini yang terakhir ya Bang. "
"Amin, Abang doakan kamu juga, semoga mendapatkan lebih dari Abang. "
"Amin Bang. "
"Ya sudah, Abang mau kerja dulu. Selamat malam, mimpi indah. "
"Abang juga, selamat beraktivitas. "
Hanin menutup telepon nya, dan melihat Dicky menghubungi nya.
"Ini anak, ngapain lagi malam - malam telepon. " Ucap Hanin langsung mengangkat nya.
"Hallo sayang, mau bobo ya? " Ucap Dicky dari seberang.
"Sudah tahu tanya, ngapain sih malam - malam ganggu orang tua saja, nggak sopan."
"Malam ini kangen banget sama kamu, sebelum tidur kita teleponan dulu yuk, sebagai pengantar tidur. "
"Dicky, kamu tuh nggak pantas tahu, kalau mau begini sama ABG. "
"Salah nya dimana sih, kalau cinta itu tidak memandang umur. "
"Sudah gih, ngantuk saya."
"Kisah dulu dong."
"Ogah, saya matiin nih. "
"I love you."
Hanin mematikan secara sepihak, sedangkan Dicky tersenyum menang. Dicky membuka galeri photo nya, dan menatap photo Hanin, yang dirinya ambil secara sembunyi - sembunyi.
"Kamu itu, wanita yang menarik. Entah, seperti yakin kamu itu jodoh saya, karena rasa ini begitu besar dan kuat atas rasa yang saya miliki untuk kamu. "
Dicky mencium photo Hanin, yang berada di galeri ponsel nya. Lalu memejamkan kedua mata nya, sambil membayangkan wajah cantik Hanin.
__ADS_1
"Semoga kamu datang ke dalam mimpi indah malam ini. "