Cinta Di Ujung Janji

Cinta Di Ujung Janji
Selamat Jalan Sayang


__ADS_3

Hanin terus menangis di depan Camelia, di cium nya kedua pipi nya, dan tidak pernah lepas dari dekapan nya.


"Nak, kamu itu tidur nya lama sekali. Kenapa nggak bangun - bangun, kamu sedang mimpi apa sih, Mamah jadi sepi nggak ada kamu yang selalu menemani hari - hari mamah. "


Semua pelayat, yang menyaksikan ikut sedih, melihat Hanin yang terus mengajak Jenazah Camelia.


"Kamu tahu nggak sayang, sejak Papah kamu pergi meninggalkan kita, bagi Mamah kamu itu harta mamah. Dan teman hidup Mamah sampai tua, tapi apa Allah lebih sayang sama kamu. Kamu tahu, pakaian kotor kamu pun belum mamah cuci, masih terasa wangi telon kamu. Bahkan, sisa botol susu kamu juga masih belum mamah sempat cuci. Sekarang, kamu tidak akan pernah ada lagi di sisi Mamah, kamu tidur, dalam keabadian. Kamu anak pintar sayang, kamu tidak mau mamah kamu sedih, tapi apa akhirnya mamah sedih. "


Hanin semakin terisak, Winda terus mengusap punggung Hanin. Yogi tak kuat melihat, pemandangan itu. Namun, Yogi tetap terus berada di dekat Hanin.


"Sayang, Papah kamu kirim baju, paket masih dalam perjalanan. Mamah pasti nggak akan kuat, nggak kuat karena akan terus ingat kamu. Enam bulan, kita bersama. Walau hanya sebentar, tapi banyak kenangan nya. Tunggu Mamah, sama Papah di surga, kelak kita akan bertemu disana. Mamah yakin, kamu itu masih ada, hanya raga nya yang mati tapi jiwa kamu itu ada, masih ada. Mamah sayang kamu sayang, datang lah setiap malam, di mimpi Mamah. Datang lah, sebagai pengobat rindu, sekarang pun Mamah sudah kangen sama kamu. I love you sayang, cinta mamah akan selalu ada buat kamu, dengan doa Mamah, dalam setiap sujud mamah untuk kamu. Terima kasih, untuk hari - hari indah nya. "


Hanin mencium kening, kedua mata dan pipi Camelia, yang sudah terasa dingin. Yogi dengan perlahan menutup wajah Camelia, Hanin semakin terisak saat tubuh Camelia kini, sudah terbungkus kain kafan.


****


Hanin menangis, sambil memeluk nisan, yang bertuliskan nama Camelia, Yogi terus memeluk Hanin dari belakang.


Yogi pun sudah merasakan, begitu sangat sesak karena terus menahan tangis. Pramudya dan Pak Brata terus membujuk Hanin untuk pulang, namun Hanin tidak mau. Hingga Yogi memutuskan, untuk menemani nya.


"Kita pulang yuk, hari sudah mulai mau gelap, dan akan turun hujan. "


"Saya mau temani Camelia, dia pasti takut tidur sendirian Bang, dan pasti kedinginan nanti akan turun hujan. "


"Sayang, Camelia sekarang sudah bersama Para Bidadari surga. Camelia, sudah bahagia disana. Kamu harus ikhlas ya, Camelia sudah tenang, dan Camelia sudah ada di surga. "


"Saya kangen Bang, hiks.. hiks.. hiks.. "


"Sekarang kalau kangen, kirim doa ya. "


******


"Hanin sudah tidur? " Tanya Pramudya.


"Sudah Bang. " Jawab Winda.


"Yogi."


"Iya Pak. "


"Saya minta, kamu hibur Hanin. Hanya kamu, yang sekarang dekat dengan dia, hanya kamu yang akan bisa merubah hati nya. "


"Insya Allah Pak. "


"Sudah ada yang hubungi Nugi? " Ucap Pramudya.


"Saya sudah, katanya minggu depan Kapal nya baru menepi. "Ucap Yogi.

__ADS_1


Pak Brata meletakkan map, berisi hasil pemeriksaan Camelia. Yogi, pun langsung membaca hasil diagnosa dokter.


" Demam tinggi, akibat virus, menjalar ke saraf otak nya. " Ucap Yogi.


"Saya menebak, saat pernikahan Pramudya dan Winda itu rewel, seperti nya sudah merasakan sakit, tapi anak nya banyak diam. Tak tidak mencirikan, ada gejala penyakit." Ucap Pak Brata.


"Bisa jadi Yah, soalnya Camelia itu tidak pernah rewel. " Ucap Pramudya.


*****


"Ayah...!!! " Teriak Hanin.


"Ayah...!!! " Teriak Hanin kembali.


"Hanin, ada apa? " Tanya Yogi yang tidur di rumah Hanin.


"Ayah mana Bang? " Tanya kembali Hanin.


"Ayah tidur, kenapa? " Tanya kembali Yogi.


"Ada apa Hanin? " Tanya Pak Brata bangun.


"Camelia, Camelia nggak ada. Tadi dia tidur, disamping Hanin. Sekarang mana dia, mana Camelia? "


Pak Brata dan Yogi saling menatap, lalu Yogi menenangkan Hanin. Begitu juga dengan Pak Brata, namun Hanin masih terus memanggil Camelia.


"Camelia sudah meninggal dunia, bahkan kuburan nya juga masih basah . " Ucap Pak Brata.


Hanin terdiam, dan langsung ingat, apa yang terjadi pada putri nya. Hanin lalu kembali menangis, dan Yogi langsung memeluk tubuh Hanin.


"Ayah meminta Abang, menginap disini, takut terjadi sesuatu sama kamu. Dan, nyata ucapan Ayah, kamu seperti ini. " Ucap Yogi.


"Hiks.. hiks... saya, merasa tadi Camelia tidur di samping Bang. Hiks.. hiks.. "


"Nak, maafkan Ayah. Tadi bentak kamu, Ayah ingin kamu bangun dari mimpi buruk ini. Kamu harus ikhlas, kamu harus kuat. Jangan seperti ini terus, Camelia pasti sedih lihat kamu. Dan ingat, Camelia itu sekarang sudah bahagia bersama Para Bidadari Surga, Camelia sudah bahagia disana. Dan kamu, mamah nya harus ikhlas. Kalau kamu kangen, kirim doa untuk Camelia, datangi makam nya." Ucap Pak Brata.


"Benar, apa yang dikatakan sama Ayah. Kamu harus ikhlas ya, jangan sedih terus. " Ucap Yogi.


Hanin menganggukkan kepala nya, dan Yogi lalu mengantar Camelia sampai depan pintu kamar nya.


*****


"Kapan kamu pulang? Ibu sakit, tidak bisa bekerja full sekarang. " Ucap Ibu Siti dari seberang.


"Bu, saya ini sedang berada, di rumah Hanin."


"Ngapain kamu, ada di kediaman wanita itu? "

__ADS_1


"Anak nya, meninggal dunia. "


"Inalilahi wainnailaihi rojiun, kapan? "


"Tadi siang. "


"Terus, kamu kenapa tidak pulang. "


"Bu, Camelia calon tunangan saya. Bagaimana juga, ibu harus terima."


"Nggak, titik. "


Ibu Siti langsung, memutuskan panggilan nya secara sepihak. Yogi hanya bisa mengusap dada nya.


*****


"Ayah sarapan dulu. " Ucap Winda.


"Nanti, tunggu Hanin saja. " Ucap Pak Brata.


"Kalau begitu, saya ke kamar Hanin." Ucap Winda, berjalan ke arah kamar Hanin.


Saat di ketuk, tidak di buka kan. Lalu Winda, membuka pintu kamar yang tidak di kunci. Saat masuk, terlihat Hanin sedang memeluk pakaian Camelia.


"Hanin, makan yuk. " Ajak Winda.


"Saya masih ingin, memeluk pakaian Camelia." Ucap Hanin.


"Tapi makan dulu, nanti bisa peluk lagi. "


"Camelia kamu sedang apa nak? mamah kangen. "


"Kalau begitu, saya ambil nasi dan lauk nya untuk di makan di kamar saja."


"Saya tidak mau makan. "


"Hanin, nanti kamu sakit. "


"Biar saya sakit, mati kan lebih baik. Agar saya, bisa bertemu sama Camelia. "


Winda, lalu keluar kamar nya, dan langsung mengambil nasi dan lauk nya di atas meja makan.


"Bagaimana kondisi nya? " Tanya Pak Brata.


"Masih seperti kemarin Yah. " Jawab Winda.


"Ayah juga merasakan, bagaimana rasanya kehilangan. Ayah juga tahu, apalagi di tinggal secara tiba - tiba. Sedih jelas, tapi untuk ikhlas nya, seperti sedang bermimpi buruk."

__ADS_1


__ADS_2