Cinta Di Ujung Janji

Cinta Di Ujung Janji
Lebih Baik Mundur


__ADS_3

"Loh, kamu kok pulang sendiri? " Tanya Pak Brata.


"Tadi Bang Yogi langsung ada tugas mendadak. " Ucap Hanin bohong.


"Kamu nggak sedang bohong kan? "


"Nggak Ayah, ngapain sih saya bohong. "


"Soalnya, berangkat kemarin kenapa sekarang, sudah sampai disini lagi. "


"Ya Lagian, mau ngapain lama - lama. "


"Terus bagaimana, kapan lamaran resmi nya?"


"Nggak tahu Yah. "


"Kok nggak tahu, Ayah ingin tahu. "


"Saya mau istirahat dulu yah. "


Pak Brata diam, dan hanya menatap punggung putri nya, yang langsung masuk kedalam kamar nya.


Pak Brata menghubungi Pramudya melalui panggilan telepon nya. Dan panggilan nya pun tersambung.


"Assalamu'alaikum Ayah? "


"Walaikumsalam, nak Ayah ingin tanya masalah Hanin. "


"Tanya masalah apa yah? "


"Kamu tahu, Hanin kenapa? "


"Nggak tahu Yah, memang nya kenapa?"


"Pulang dari kota nya Yogi, dia seperti menyimpan sesuatu. "


"Hanin, sudah pulang? bukan nya baru kemarin, dia itu berangkat. "


"Iya, kan tujuan nya bertemu sama Ibu nya Yogi, tapi malah Ayah tanya kapan akan kesini, lamaran resmi nya malah tidak jawab."


"Duh, Pram nggak tahu Yah, tapi nanti tanya sama Hanin atau Yogi nya. "


"Iya, Ayah tidak mau menambah rusak suasana hati nya. "


****


"Pak, Hanin nya ada? " Tanya Yogi.


"Kamu baru sampai? " Tanya curiga Pak Brata, melihat bawaan Yogi.

__ADS_1


"Saya baru sampai. " Jawab Yogi.


"Saya mau bicara sama kamu. "


Yogi dan Pak Brata pun duduk berhadapan, Pak Brata menyalakan rokok nya, lalu menghisap nya dan asap nya di hembuskan ke sembarang arah.


"Seorang Ayah, bisa membaca yang sedang terjadi pada anak nya, saya pernah bilang jangan sakiti Hanin. "


"Maaf Pak, cerita nya tidak seperti itu."


"Ceritakan, biar saya tahu pokok masalah nya."


"Ibu saya tidak merestui hubungan kami."


Pak Brata mematikan puntung rokok yang masih panjang, dan menatap ke arah Yogi.


"Jadi hubungan kalian tidak di restui? "


"Iya, ibu sakit hati karena dulu Hanin menolak lamaran saya. "


"Terus, kamu ingin tetap melanjutkan?"


"Saya ingin nya seperti itu, tapi Hanin memutuskan untuk mengakhiri semua nya."


"Mungkin anak saya, sudah terlalu menyakiti hati ibu kamu. Jadi lebih baik kamu, hargai perasaan ibu kamu, dan tinggalkan Hanin. "


"Tidak Pak, saya akan terus maju. Memperjuangkan nya, karena saya sangat mencintai nya. "


"Nggak Pak, saya tidak mau. "


"Apa kamu, tidak sayang dengan ibu kamu? kalau kamu sayang sama ibu kamu, tinggalkan anak saya. "


Yogi terdiam, sedangkan Hanin mendengarkan percakapan antara dua pria dengan generasi berbeda


Hanin lalu keluar, dan duduk di samping Pak Brata, Yogi menatap ke arah Hanin dan Pak Brata beranjak bangun namun di tahan oleh Hanin.


"Tolong, Ayah duduk disini. Biar Ayah tahu, dan tidak terlalu memikirkan masalah Hanin. "


Pak Brata lalu duduk, dan siap mendengarkan apa yang akan di lontarkan putri nya.


"Bang, maaf kan saya Bang. Memang saya salah, jadi kita nggak harus melanjutkan hubungan ini. Cukup sampai sini saja, dari awal saya yang salah, saya mempermainkan hati anak nya, bagaimana tidak sakit hati seorang ibu, apalagi saat kedatangan nya kesini dengan niat baik, malah saya tolak. Lebih baik, kita sudahi saja Bang, jangan lanjut kan lagi. Abang sayang kan sama ibu, cinta ibu itu lebih besar Bang, sekali kecewa akan terus membekas, sakit hati nya. Lebih baik, saya mundur Bang, saya tidak mau menjadi pemisah antara Abang sama Ibu. "


"Nak Yogi, maafkan anak saya , dan saya juga minta maaf, saya mendukung apa yang Hanin putuskan. "


Yogi menundukkan kepala nya, dan lalu mengangkat kepala nya dan menatap ke arah Hanin dengan mata yang berkaca - kaca.


"Mungkin saya ini, pria yang bodoh karena menerima kamu lagi, bahkan ingin mempertahankan wanita seperti kamu. Karena cinta yang begitu sangat besar, dan memberikan kesempatan kedua. Apa salah, kita melanjutkan nya, apa kita memang tidak bisa bersatu. "


"Abang tidak salah, setiap orang punya keputusan, tapi karena kesalahan saya yang sangat fatal, hubungan kita tidak akan pernah bisa bersatu. Maafkan saya Bang, saya mundur. Saya tidak mau, Abang sama Ibu menjadi renggang karena saya. "

__ADS_1


*****


"Yogi, kamu baru sampai? " Tanya Pramudya saat Yogi baru sampai di Barak.


"Kamu cari saya? "Tanya Yogi.


" Iya, kamu ada masalah sama Hanin?"


"Kita putus. "


"Kenapa? "


"Ibu tidak merestui hubungan kami."


"Masalah dulu kah? "


"Iya, ibu terlalu sakit hati nya. Saya juga, tidak bisa berbuat apa - apa. "


"Sabar ya, kalau jodoh kalian bisa bersatu. "


"Nggak, kita tidak bisa bersatu. Bagaimana juga, kita jalani tidak akan indah. "


"Hanin memilih Nugi, karena janji setia, tapi apa malah mengkhianati nya, kamu yang setia malah di tinggal pergi , kini kembali bersatu tapi tidak di restui. " Ucap Pramudya.


"Pram, sampai kan pada Hanin. Kalau saya tetap mencintai nya. Sampai kapan pun, dia akan tetap di hati saya. Mungkin dengan keputusan mundur nya dia, saya akan mengikuti apa kata ibu, mungkin akan menjalani hubungan dengan pilihan nya. Saya sudah mengecewakan hati nya, mungkin dengan seperti ini, Ibu akan bahagia."


"Saya akan sampai kan, pesan kamu pada Hanin. "


*****


"Assalamu'alaikum sayang, mamah seperti biasa, bawa kan kamu bunga segar, dan air mawar, mamah kangen kamu sayang, mamah hanya bisa mengunjungi makam kamu, dan mengirim doa, ini cara mamah melepaskan rindu sama kamu. "Ucap Hanin mengusap pusara nya.


" Sayang, kalau kamu masih ada, dalam keadaan apapun Mamah tidak akan kesepian. Mungkin, Mamah di takdir kan sendiri, tanpa kamu, tanpa Om Yogi. "


Hanin mengusap sudut matanya, tak sengaja air mata pun jatuh membasahi pipi nya.


"Sayang, makasih ya sudah hadir di dunia, walau sebentar. Mamah akan kangen kamu sayang, tunggu mamah di surga ya nak, selamanya kamu akan tetap di hati Mamah. "


Saat hendak berdiri, Yogi datang dengan membawa buket bunga, dan dia letakkan di atas pusara Camelia.


"Abang akan tetap sesekali mampir ke makam Camelia, dia sudah abang anggap sebagai anak Abang. Walau kita tidak pernah bersatu, Camelia tetap ada di hati Abang. "


"Maafkan saya Bang. "


"Sudah seribu kali maaf, kamu ucapkan dari mulut kamu, beribu kali juga saya memaafkan kamu. Kesempatan kedua sudah kita jalani, tapi apa kamu mundur begitu saja, tidak mau memperjuangkan nya. "


"Rasa kehilangan anak, saya mengerti Bang, saya tidak mau Ibu, merasakan jauh dari Abang, dan seolah meninggalkan nya hanya demi wanita seperti saya. Janji setia, mungkin hanya sebuah ungkapan janji saja. Tapi saya, tidak mau menjadi jurang pemisah."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2