Cinta Di Ujung Janji

Cinta Di Ujung Janji
Jujur


__ADS_3

Hanin membuka paket yang dikirim oleh Nugi , satu persatu Hanin mengeluarkan barang - barang yang di belikan Nugi untuk Camelia.


Pak Brata mengusap punggung Hanin, saat itu Pramudya dan Winda sedang berada di rumah.


"Ini hadiah, buat Abang sama mba Winda. " Ucap Hanin menyerah kan sebuah kado berbentuk kotak.


"Makasih." Ucap Wilda.


Hanin hanya diam, menatap barang yang di kirim oleh Nugi, menatap begitu banyak nya pakaian dan mainan.


"Saya bingung, mau di apakan ini semua. Camelia , tidak bisa merasakan pemberian dari papah nya. "


"Kalau boleh, buat kami juga nggak apa - apa." Ucap Winda.


"Ambil mba, asal jangan di kasih ke orang lain. "


"Makasih ya. "


"Sama - sama mba. "


"Barang - barang, Camelia agar kamu tidak teringat terus, taruh saja semua di kamar tamu. Kamar itu khusus, barang - barang, kita alih fungsi kan. " Ucap Pak Brata.


"Terserah Ayah saja. "


*****


"Kamu, mba lihat sekarang nggak masuk kerja lagi? atau kamu keluar? " Tanya Winda.


"Saya masih belum semangat kerja. " Bawah Hanin.


"Mba paham, tapi jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. "


"Iya mba, ngomong - ngomong mba itu resign ya dari rumah sakit? "


"Benar, soalnya Abang nggak mengijinkan kerja. "


"Oh, gitu ya. "


Terdengar suara, motor. Dicky mengucapkan salam, saat baru tiba. Dicky dan Hanin saling tersenyum, dan Dicky langsung berjalan ke arah dapur.


"Dek, kamu kalau pulang, tolong bawa makanan buat Ayah sama ibu. " Ucap Winda.


"Iya, tapi saya mau numpang makan ya."


"Iya, nanti awas lupa. "


"Nggak kok. " Ucap Dicky.


"Kamu makan sana. " Ucap Winda.


"Nggak mba, makasih. " Ucap Hanin.


"Enak loh, masakan kakaksaya. Makan nya, saya selalu numpang makan sama dia." Ucap Dicky.


"Makan nya, cepat nikah. Kelamaan jomblo, kamu itu makin merepotkan. "


"Ish... mba, enak saja merepotkan. "


"Kan fakta. "


Hanin terkekeh saat melihat kedua nya saling adu mulut, hingga kedua nya tidak mau kalah.

__ADS_1


****


"Eh mba Hanin, maaf ya saya merokok. "


Hanin tersenyum dan duduk di samping Dicky di teras depan rumah, kakak nya.


"Nggak apa - apa, santai saja. "


"Saya turut berdukacita, maaf kemarin nggak ikut ke pemakaman, saya masih mengurus kepindahan disini. Ada beberapa berkas yang masih kurang. "


"Nggak apa - apa kok, minta doa nya saja. "


"Insya Allah, oh iya mba kapan nikah? "


"Kamu panggil saya Hanin, terasa tua saya di panggil mba. "


"Kan menghormati, umur kita kan jauh. Dan tua kamu dari pada saya. "


"Emang umur kamu berapa? "


"23 tahun. "


"Saya 26 , mau 27 . " Ucap Hanin.


"Hahahaha..tua ya. " Ledek Dicky.


"Nggak masih muda kok. "


****


"Loh kok bisa bareng sama Abang? " Ucap Hanin saat di jemput Yogi.


"Ya kan sekalian, motor Abang kamu itu mogok jadi ama Abang. " Ucap Yogi.


"Sama - sama, kita langsung pulang atau kemana? "


"Langsung pulang aja. "


"Ok, kita cabut dulu ya. " Ucap Yogi.


"Hati - hati. " Ucap Pramudya.


"Mba, saya pamit ya. Salam buat Dicky. " Ucap Hanin.


"Nanti mba sampaikan, nggak tahu kemana tuh anak. " Ucap Winda.


Dari dalam, mengintip dari jendela, Dicky memperhatikan Hanin. Saat tak sengaja, Hanin melihat Dicky tengah mengintip. Dicky langsung menutup gorden nya, dan langsung menjauh dari jendela.


****


"Hanin, Ayah bagaimana ya, dia kan belum lihat mobil nya? "


"Ayah sibuk, makan nya lupa kali. "


"Abang gagal. "


"Bang, memang nya keseriusan Abang ditentukan dengan perbaiki mobil? nggak kan."


"Tapi kan Ayah bilang begitu. "


*****

__ADS_1


Pak Brata memeriksa, yang di perbaiki oleh Yogi. Pak Brata tersenyum, dan menepuk pundak nya.


"Kamu sudah berusaha keras, sampai kamu kuras tenaga kamu. Memang ini, mobil tidak akan pernah bisa jalan. Kamu sudah cari kan, salah satu onderdil yang tidak ada, bahkan sudah langka untuk cocok sama mesin nya."


"Iya Pak, itu benar. "


"Saya salut sama kamu, akhir nya kamu berusaha dengan keras. Saya merestui hubungan kalian, tapi ingat jangan kamu sakiti Hanin. "


"Siap Pak, tidak akan. "


****


"Kamu mau kan, ketemu sama ibu? "


"Bang, anak saya belum juga 40 hari. Saya belum memikirkan masalah menikah lagi. Maaf ya Bang. "


"Nggak apa - apa kok, Abang mengerti. "


"Terima kasih Bang. "


"Abang akan tunggu, sampai kamu siap."


"Jujur Bang, saya masih belum bisa apa - apa. Saya masih suasana duka. Dan saya, rasa nya berat untuk beraktivitas. "


"Abang mengerti kok, tapi jangan berlarut ya."


*****


"Bang, mba boleh jujur nggak? " Tanya Dicky.


"Tanya apa? " Tanya kembali Pramudya.


"Saya, saya. " Ucap Dicky terhenti.


"Saya kenapa? " Tanya Winda.


"Saya itu, saya itu menyukai seorang wanita. "


"Terus? " Ucap Winda.


"Tapi dia sudah milik orang mau lain. "


"Jadi ceritanya , kamu mencintai milik orang dan kamu itu orang ketiga." Ucap Winda.


"Bagus itu, sebelum janur kuning melengkung. " Ucap Pramudya.


"Kalau boleh, tahu siapa? "Ucap Winda.


Dicky menarik nafas nya, dengan panjang , dan menatap ke arah kedua kakak nya.


" Saya, saya mencintai Hanin. "


Uhuk.. uhuk, Pramudya langsung minum air , mendengar pengakuan Dicky hingga tersedak. "


"Kamu jangan ngaco ." Ucap Pramudya.


"Benar Dicky, kamu jangan jadi orang ketiga." Ucap Winda.


"Saya suka aja, dia itu lucu manis. " Ucap Dicky sambil mengingat wajah Hanin.


"Apa kamu tidak memiliki stok, wanita lain. Adik Abang itu janda, dan umurnya tua dari pada kamu. "

__ADS_1


"Nggak masalah. "


__ADS_2