
Yogi bersama Hanin, duduk di sebuah ayunan jaring, sembari rebahan Yogi, Hanin bersandar di dada nya. Dengan menikmati deburan ombak pantai, yang berada di depan rumah yang Hanin tinggali.
"Kamu kenapa Yank, bisa sampai sini? "
"Saya ingin tinggal disini Bang, ini kan rumah Hanin. "
"Kenapa, mau tinggal di pulau kecil begini? jauh dari kota. "
"Hanin ingin suasana tenang, damai. Hanin kan buka usaha, jualan pernak pernik Bang, kan pakaian batin tulis dan cap. Tepat di dermaga itu toko punya Hanin. "
"Kamu jadi serius disini? "
"Kenapa Bang? Hanin disini loh. Ada peluang bagus, ini yang punya tadi nya teman Ayah. Dia ingin tinggal di desa, mau bertani. Kebetulan menawarkan rumah, sama toko nya. Ya sudah, kesini. "
"Berarti memang, kamu tinggalkan Abang itu udah niat banget ya? "
"Nggak juga Bang, kebetulan pas Hanin Resign itu. Hanin ada yang, yaudah saya beli."
"Terus kenapa, kamu blokir nomer Abang? terus kamu minta Abang cari yang lain, dan ninggalin Abang . Malah sekarang, Abang kesini kamu terima Abang lagi? "
Hanin tersenyum, lalu mengencangkan tangan Yogi yang melingkar di perut nya.
"Kan masih cinta. "
"Dasar nggak jelas. "Ucap Yogi dengan mengusal wajah nya di tengkuk leher Hanin.
*****
" Abang, makan dulu yuk. " Panggil Hanin saat menata makan malam di meja makan.
Yogi keluar, dari kamar setelah membersihkan tubuh nya. Yogi memeluk tubuh Hanin dari belakang, tak lupa mengecup pipi nya.
"Makan dulu, nanti kalau mau jalan - jalan, mumpung bagus lagi bulan purnama. "
"Abang, nggak bisa lama disini. Lusa juga Abang pulang, waktu cuti nya mau habis."
Hanin membalikkan tubuh nya, dan menatap dekat wajah sang kekasih. "
"Iya, nanti kan kita bisa ketemu lagi. "
"Kapan ketemu nya, kamu disini. Kecuali kamu disana. "
"Terus? "
"Apa kamu, mau tinggal disini saja? "
"Karena punya usaha disini. "
"Yaudah kalau itu mau kamu. "
"Kita long distance. "
"Apa boleh buat, mau nya kamu begitu. "
Hanin memeluk pinggang Yogi, dan Yogi menautkan kening nya di kening Hanin. Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Iya sebentar. " ucap Hanin.
Hanin berjalan menuju ke arah pintu rumah nya, dan membuka pintu nya.
"Eh.. Pak Hadi, ada apa ya? "
"Maaf mba, saya dapat laporan ada tamu laki - laki ya? "
"Oh maaf Pak Hadi, saya lupa kasih tahu bapak. "
"Iya, soalnya kan bukan wisatawan, saya hanya mendata saja. "
"Dia calon suami saya, Tentara. Nanti saya perlihatkan kartu Identitas nya. "
"Nggak usah mba, saya percaya. Kalau begitu saya pamit. "
Tak lama, Yogi datang dan Pak Hadi tersenyum ke arah Yogi. Hanin pun menutup pintu nya kembali.
"Kenapa Yank? "
"Kepala keamanan disini, saya lupa bilang kalau ada tamu di rumah. "
"Oh, terus gimana? "
"Ya nggak apa - apa, hanya memastikan saja."
"Oh, barang kali, Abang di usir. "
"Ya nggak lah Bang, masa di usir. "
*****
"Malam juga, masih ramai ya. " Ucap Yogi sambil bergandengan tangan berjalan di tepi pantai bersama Hanin.
"Malah 24 jam, banyak yang habiskan malam disini, ada yang barbeque, ada yang menghabiskan waktu di club. Semuanya disini ada, bahkan rumah sakit kecil juga ada, jadi wisatawan nggak usah khawatir, kalau terjadi sesuatu. "
"Abang begini betah Yank, apa Abang usaha saja ya disini sama kamu. "
"Kalau Abang mau keluar dari Tentara nya. "
"Kamu nggak apa - apa, kalau Abang bukan Tentara? kan nggak keren lagi, nggak pakai seragam lagi. "
"Bang, saya itu cari pendamping hidup, bukan karena seragam nya. Tapi karena cinta, dan mau di ajak melangkah serius. Seragam itu hanya simbol, pekerjaan saja. Kalau di rumah,pria yang sudah beristri adalah seorang imam, bukan Tentara, karyawan atau apa. Itu hanya sebatas profesi di dunia. Sedangkan di akhirat nanti, Jabatan Abang itu tidak di bawa, yang di bawa perbuatan Abang yang akan di pertanggung jawab kan waktu di dunia. "
"Makasih ya, karena ada wanita yang hanya ingin seragam nya saja, bukan cinta yang benar - benar cinta, tapi cinta karena seragam. "
"Kan keren, bagi saya nggak Bang. "
*****
Yogi bangun dari tempat tidur Hanin, setelah melihat Hanin sudah tertidur pulas. Yogi langsung berjalan keluar kamar, dan mengambil ponsel nya. Yogi pun langsung menghubungi Ibu Siti.
"Assalamu'alaikum Bu. "
"Walaikumsalam, gimana? kamu sudah ketemu? " Ucap Ibu Siti dari seberang.
__ADS_1
"Ibu kenapa tidak bilang sama Yogi, kalau ibu pergi untuk menemui Pak Brata. "
"*Ibu lakukan untuk kamu nak, demi anak ibu satu - satu nya. Ibu tidak tega, melihat kamu sedih, cinta kamu begitu besar sama Hanin. Walau ibu, menolak mentah - mentah. Cinta kalian begitu kuat, karena ibu kalian harus berpisah. Makan nya, Ibu meminta Pak Brata untuk menyatukan kalian lagi. Maafkan Ibu nak. "
"Yogi yang berterima kasih sama ibu, terima kasih banyak Bu, sudah berkorban. "
"Kapan kamu, akan melamar Hanin? "
"secepatnya Bu, Yogi akan melamar Hanin secepatnya. "
"Ibu tunggu, kita sama - sama bertemu dengan Pak Brata. "
"Siap Bu, sekali lagi terimakasih."
"Bang..!! " Panggil Hanin dengan suara khas orang bangun tidur.
"Iya sayang, kok bangun." Ucap Yogi dengan membelai pipi kanan Hanin.
"Saya cari Abang tadi, di samping Hanin nggak ada. Waktu mau tidur kan, Abang ada disamping. "
"Tidur lagi yuk, di luar hujan. Dingin nih. "
Hanin dan Yogi berjalan masuk kedalam kamar tidur, Yogi membaringkan tubuh nya di samping Hanin, satu selimut bersama. Dan mereka berdua, akhirnya tertidur lelap dengan saling berpelukan.
*****
Yogi menikmati udara pagi, didepan rumah Hanin. Matahari terbit, terlihat sangat indah. Hanin keluar, dan memeluk tubuh Yogi dari belakang sambil menikmati kopi hangat.
"Abang betah Yank disini. "
"Yaudah besok jangan pulang. "
"Ah... sayang nya, nggak bisa. "
"Ini Bang, yang buat betah Hanin. Suasana seperti ini, yang tidak bisa dapat kan di kota."
"Kamu pintar ya, memilih disini. "
"Apalagi kalau sama Abang, pasti suasana beda loh." Ucap Hanin.
"Nikah yuk. "
"Kapan Bang? "
"besok." Ucap Hanin.
"Ayok, Abang siap kok. "
"Serius Bang? "
"Kapan sih, Abang nggak pernah serius. Pasti serius." Ucap Yogi.
.
.
__ADS_1
.