Cinta Di Ujung Janji

Cinta Di Ujung Janji
Hilang Tanpa Kabar, Datang Tiba - Tiba


__ADS_3

Hanin membawa berkas ke pengadilan Agama, sejak 4 bulan kelahiran Camelia tidak ada kabar dari Nugi. Dalam dekapan nya, sebuah map berisi berkas cerai, sudah tersusun rapih.


"Apa kamu siap dek? " Tanya Pramudya.


"Apa Abang, masih tetap maju dengan menentang keputusan Ayah? " Tanya kembali Hanin.


"Abang akan tetap maju. " Jawab Pramudya.


"Saya pun maju Bang, Bang Nugi ingkar janji lagi, katanya akan bertanggung jawab pada anak nya, bukti nya sekarang malah dia tanpa kabar. Tapi saya tetap akan memakai nomer yang sama, saya yakin suatu saat dia akan menghubungi saya. "


"Yuk, Abang antar kamu masuk. "


Hanin dan Pramudya memasuki pengadilan agama, untuk menyerah kan berkas gugatan perceraian Hanin dan Nugi.


****


"Nih minum. " Ucap Pramudya sambil memberikan minuman rasa jeruk, di sebuah cup.


Pramudya menggendong Camelia ala koala, yang semakin gemuk dan berat. Camelia terus meronta meminta turun, namun Pramudya langsung berdiri dan memberikan sebuah mainan.


"Nanti nak, Om capek tahu. Kita santai dulu di taman, tuh lihat banyak anak - anak pada main. " Ucap Pramudya, bahkan orang yang melihat seperti layak nya keluarga kecil.


"Bang, sini capek. "


"Biar aja, Camelia sama Abang. "


"Jadi gimana Bang? kapan bicara lagi."


"Abang akan bawa Winda ke rumah, memohon sama Ayah. "


"Saya nanti akan bantu bicara sama Ayah ya Bang. "


*****


"Yah, jangan begitu lah. Jangan jadikan alasan, kalau anak - anak Ayah gagal dalam rumah tangga, malah Ayah seperti ini. " Ucap Hanin.


"Ayah takut nak, takut dan kecewakan lagi. Pramudya di tinggal sama istri nya, hanya beberapa jam mereka bersama. Dan kamu pun sama, di tinggal suami. Itu ketakutan seorang Ayah, kalau ibu kalian masih hidup, pasti akan melakukan apa yang Ayah lakukan."


"Ayah, mba Winda itu pilihan Bang Pram. Dia itu sangat mencintai Bang Pram. Malah lebih dulu Winda dari pada Vivian. "ucap Hanin.


"Ayah restui ya. " Bujuk rayu Hanin pada Ayah nya.


"Panggil Abang kamu. "


Hanin tersenyum lalu bangun memanggil Abang nya, dan membawa Abang nya untuk duduk di samping Pak Brata.


Pramudya duduk di samping Ayah nya, dan Hanin duduk di seberang nya. Dengan wajah tampak bahagia, Hanin menatap kedua nya.


"Pram."


"Iya Ayah. "


"Kamu beneran serius, sama Winda? "


"Iya Ayah, saya serius. "


"Besok kita lamar dia ya. "


"Hah.. be - besok. " Ucap Pramudya kaget.


"Kata nya kamu mau nikah, kok kaget gitu. "


"Ta - tapi kan Yah, jangan besok. Saya sama Winda belum siap. "


"Jadi mau nikah atau nggak? "


"Ya mau lah Yah, masa nggak mau. "

__ADS_1


"Kamu hubungi Winda, besok kita berdua antar kamu melamar dia. "


"Makasih Yah, makasih. " Ucap Pramudya sambil mencium kedua tangan Ayah nya.


****


"Dek, makasih ya. "


"Sama - sama Bang. "


"Sekarang, tinggal kamu. "


"Saya ada Camelia Bang, saya bahagia walau hidup berdua dengan nya. "


"Abang doakan, semoga kamu mendapatkan yang terbaik lebih dari Nugi. "


"Amin Bang, saya doakan ini adalah yang terakhir buat Abang. "


*****


Hanin sudah kembali bekerja, dan mengerjakan beberapa berkas yang belum selsai. Beberapa berkas pun, ia tanda tangani, dan beberapa berkas masuk yang harus sudah masuk laporan ke dewan direksi.


Suara ponsel Hanin berdering, dan melihat ada sebuah panggilan dengan nomer ponsel tak di kenal. Hanin pun lalu mengangkat nya.


"Hallo."


"Hanin, ini Abang. "


"Kemana saja kamu Bang, kenapa baru sekarang kamu hubungi saya? "


"Maaf, saat itu. Ponsel Abang hilang, saat itu Abang tidak bisa menghubungi siapa pun. Hanya titip pesan pada Ayah dan Ibu. "


"Kamu jangan bohong Bang, mereka bilang tidak tahu. Kenapa kamu tidak menghubungi saya, malah kamu langsung hubungi keluarga kamu. "


"Maaf, saat itu ada teman Abang, yang punya nomer adik Abang, meminta untuk hubungi atau kasih tahu kamu. Katanya kamu sudah di kasih tahu, dan katanya kamu melahirkan malah buat pegang cucu nya saja tidak boleh."


"Abang bingung, harus percaya sama siapa."


"Percaya saja, sama keluarga kamu Bang. Bagaimana juga, keluarga adalah orang yang paling dekat. "


"Maafkan Abang, Hanin siapa nama anak kita? "


"Camelia Clara Vitaloka, panggil dia Camelia."


"Kalau sudah sampai, Abang ingin video call sama dia. "


"Iya, nanti saya hubungi di nomer ini kan?"


"Iya, kamu hubungi ke nomer ini. "


"Ya sudah, saya sedang sibuk. "


"Abang kirim uang ya sekarang buat Camelia."


"Nomer rekening nya, masih tetap sama. "


"Abang transfer sekarang. "


Hanin mematikan ponsel nya, dan melihat sebuah notifikasi m - banking masuk. Sebuah nominal yang sangat besar.


*****


Terima kasih Pak Brata, nak Pramudya, maaf ala kadarnya yang kami sungguh kan." Ucap Pak Mulyono.


"Kami yang minta maaf, kalau kedatangan kami ini mendadak. " Ucap Pak Brata.


"Tidak masalah, malah senang. Terutama bagi anak kami, Winda. "

__ADS_1


"Benar Pak, dari kemarin Winda sudah sangat berharap bapak sama Pram itu datang kemari. Dan akhirnya, yang di tunggu - tunggu sama Winda ya momen ini. " Ucap Ibu Elena.


"Ih, Ibu malu - malui. "


"Begini, Om Tante. Saya bersama Ayah saya, ingin melamar Winda, saya ingin membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius lagi. " Ucap Pramudya.


"Kalau itu, jawaban nya sama Winda. Ayah dan Ibu, setuju dengan hubungan kalian. " Ucap Pak Mulyono.


"Kalau Winda, satu tujuan sama Bang Pramudya. " Ucap Winda.


"Alhamdulillah." Ucap Pak Brata.


"Ayah ingin, segera kalian atur tanggal nya. " Ucap Pak Brata kembali.


*****


"Abang bawa apa lagi sih? " Tanya Hanin melihat Yogi, membawa beberapa paper bag berisi pakai untuk Camelia.


"Buat Camelia. " Jawab Yogi sambil memangku Camelia.


"Pakaian yang kemarin saja, masih belum di pakai semua Bang. "


"Nggak apa - apa, Abang lihat tadi di Mall lucu - lucu. "


"Sekali lagi makasih Bang. "


"Sama - sama, kita jalan yuk. "


"Kemana? "


"Ke Mall, pusat permainan anak. "


"Belum ngerti Bang. "


"Terus kemana? "


"Di rumah saja, kalau nggak ada tujuan sih. "


"Dirumah ngapain? "


"Ya tiduran, sambil menonton televisi. Abang kalau mau pulang, silahkan pulang. "


"Cerita nya, mengusir. "


Hanin tersenyum ke arah Yogi, sedangkan Yogi menaruh wajahnya yang bete.


"Yasudah, kita jalan. Tapi Abang yang tanggung. "


"Iya, tenang saja. '


*****


Yogi dan Hanin, berada di pusat perbelanjaan. Hanin memanjakan diri, dengan membeli sepatu. Sedangkan Yogi, menjaga Camelia yang berada di stroller.


" Bang bagus nggak? " Tanya Hanin.


"Bagus." Jawab Yogi singkat.


"Hanin...!!! "


Hanin menoleh, dan menunjukkan senyum terpaksa pada seseorang yang memanggilnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2