
"Mba Winda kenapa? " Tanya Hanin pada Pramudya.
"Kamu mau punya ponakan. " Jawab Pramudya.
"Alhamdulillah, selamat ya. " Ucap Hanin.
"Makasih ya Hanin. " Ucap Winda dalam keadaan lemas, karena merasakan mual yang sangat hebat.
"Dek, Abang mau tanya. "
"Tanya apa Bang? "
"Kamu benar pacaran sama Dicky? "
"Kata siapa? "
"Abang lihat kamu, akrab sama dia. "
"Benar Hanin, kalau memang iya ada hubungan, ya nggak apa - apa. Mba juga senang, keluarga juga pasti setuju. " Ucap Winda.
"Gimana ya Mba, Bang. Saya tuh belum bisa kasih jawaban, kita itu jalan apa adanya saja. Biar waktu yang, akan menjawab nya. Kalau saya sama Dicky jodoh, ya Alhamdulillah semoga ini memang jodoh buat Hanin, jodoh yang sebenarnya. Tapi kalau bukan, memang kita tidak cocok, ya Dicky bukan jodoh saya. Soalnya, saya ini janda, bukan perawan."
"Abang, hanya berdoa semoga rumah tangga kamu tidak gagal lagi, suatu saat nanti."
"Amin Bang. "
*****
"Kamu, masih marah sama ibu? " Tanya Ibu Siti dari seberang.
"Nggak bu, marah kenapa? "
"Soalnya, kamu nggak pulang - oukang, dan jarang hubungi Ibu. "
"Maaf Bu, Yogi banyak kegiatan. Jadi belum bisa pulang. "
"Kamu sedang sama siapa sekarang? "
"Sendirian Bu, biasa. "
"Bukan, maksud Ibu, kamu sudah punya calon yang bakal kamu, kenalkan sama Ibu atau belum? "
"Belum bu, Yogi masih belum menemukan yang cocok, dan kalau sudah ada pasti Yogi bakal kenalkan sama Ibu. "
"Maafkan Ibu ya. "
"Sudah bu, jangan di bahas lagi. Yogi yang harus minta maaf, Yogi yang salah. Yang sudah mengecewakan Ibu. "
"Ibu hanya ingin, yang terbaik buat kamu. "
"Iya Bu, makasih ya. "
"Ya sudah, kalau begitu. Kalau sudah tidak sibuk, kamu pulang, Ibu kangen sama kamu."
"Iya Bu. "
Setelah menelepon Ibu nya, Bowo datang dan duduk di samping Yogi, sambil menunjukkan photo seorang perempuan.
"Kamu itu, kayak agen perpacaran ya, stok buat para jomblo. " Ucap Yogi.
"Hahahahah.. kalau mau. "
"Nggak akh, takut kecewa lagi. "
"Coba dulu lah, beda sama Karina. "
"Mahasiswi lagi? "
"Bukan, dia pramugari. "
"Sering di tinggal juga dong. "
"Mau nggak? cantik nih. "
"Nggak."
"Kalau sama yang ini? "
"Siapa lagi tuh? "
"Model."
"Nggak suka. "
"Terkahir yang ini, dia seorang guru. "
__ADS_1
"Nggak akh. "
"Kamu mau nya, tipe seperti apa nanti saya carikan? "
"Saya cari sendiri, kapok saya. "
"Hahahaha, itu si Ryan sukses di kenalin saya."
"Cocok dia, kalau saya nggak cocok."
"Lagian kamu, dapat aja ya. Banyak stok cewek. " Ucap Yogi kembali.
"Bowo gitu loh. "
"Hahahahah... playboy cap Badak. "
****
"Yogi, kamu mau minum apa? " Tanya Pramudya.
"Yang seger dong. "Jawab Yogi
" Es jeruk ya. "
"Iya, yaudah nggak apa - apa, yang penting seger. "
Tak lama, Hanin datang, bersama Winda. Yogi menatap Hanin, dan Hanin tersenyum lantas langsung masuk kedalam bersama Winda.
"Dari tadi Bang? " Tanya Winda.
"Nggak kok, barusan. " Jawab Yogi.
Hanin yang pura - pura sibuk, agar terhindar dari Yogi. Pramudya datang membawa satu gelas es jeruk untuk Yogi.
"Yank, bawakan cemilan yang di toples. "
"Ya Bang. " Ucap Winda yang langsung membawakan nya.
"Bang, ada Hanin tuh. " Ucap Winda.
"Biarkan saja. " Ucap Yogi tersenyum.
"Ngomong - ngomong, Dicky pacaran ya sama Hanin? " Tanya Yogi.
"Kalau kesana nya, nggak tahu tapi mereka dekat. " Jawab Pramudya.
"Kenapa? "
"Tanya saja kok."
"Bang, mba saya pamit ya. " Ucap Hanin mencium punggung tangan Pramudya dan Winda.
"Naik apa? " Tanya Pramudya.
"Naik angkutan umum, tadi lagi males buat bawa kendaraan sendiri. " Jawab Hanin.
"Abang antar ya? " Ucap Pramudya.
"Nggak usah, biar nanti Dicky yang jemput." Ucap Hanin.
"Dicky bukan nya, hari ini sedang ada kegiatan, di kecamatan. " Ucap Winda.
"Ya udah, naik angkutan umum." Ucap Hanin.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." Ucap Semua nya.
Yogi menatap Hanin, hingga keluar dari pintu gerbang. Pramudya dan Winda saling memandang.
"Kalau kamu, memang berat melepaskan adik saya. Kejar dia, jangan sampai dia pergi lagi bersama pria lain. " Ucap Pramudya.
"Saya, memang masih berat sama dia. Entah, putus tapi tidak bisa lepas. " Ucap Yogi.
"Kejar Bang, pertahankan dan perjuangkan hubungan kalian. " Ucap Winda.
"Saya berat semua nya, berat ke Ibu dan berat ke Hanin. "
Hanin mendengar semua pembicaraan Yogi, Hanin kembali, saat ingat ponsel nye tertinggal di meja makan. Dan Hanin langsung kembali masuk, Yogi kaget saat diri nya sedang membicarakan Hanin, Hanin malah masuk.
"Ponsel nya ketinggalan. " Ucap Hanin langsung masuk.
"Pram, dia dengar nggak ya? " Ucap Yogi.
"Mana saya tahu. " Ucap Pramudya.
__ADS_1
Hanin menoleh sebentar, dan langsung memasukkan ponsel nya kedalam tas.
"Jalan dulu ya. " Ucap Hanin.
"Hati - hati. " Ucap Winda.
"Iya."
*****
"Lagi, ngapain? " Tanya Nugi
"Lagi nonton televisi. " Jawab Hanin.
"Oh, kirain lagi apa. Nggak kerja? "
"Baru saja pulang. "
"Hanin, boleh Abang bicara serius? "
"Bicara apa Bang? "
"Mau kamu kembali lagi sama Abang? kita perbaiki hubungan yang sudah lama retak. "
"Maaf Bang, saya nggak bisa kalau minta kembali. Jujur Bang, saya tidak sanggup untuk berurusan dengan orang tua dari pihak pria. Saya ingin rumah tangga, yang tidak ada keributan dan menimbulkan pecah antara kedua belah pihak. "
"Abang paham, tapi Abang ini kembali. Abang janji, akan fokus ke keluarga, dan tidak seperti dulu lagi. "
"Maaf Bang, saya tidak bisa. "
"Please."
"Maaf ya Bang, nggak bisa. Cukup sekali saja, maaf sekali. "
"Apa karena Yogi? "
"Nggak Bang, tidak ada hubungannya nya sama dia. "
"Barang kali, karena Yogi. Jadi kamu , menutup hati buat saya. "
"Nggak ada Bang, nggak ada hubungan nya. Ini saya sendiri, sekali lagi saya minta maaf."
*****
"Jadi manta suami kamu, minta balikan? terus kamu gimana? "
"Tidak saya terima Dicky, cukup sekali saja."
"Apa kamu mau, kalau saya lamar kamu? "
"Maaf Dicky, saya masih pikir dua kali."
"Apa karena saya umur nya, di bawah kamu? "
"Tidak, bukan itu. "
"Kamu masih berat sama Bang Yogi?"
"Nggak juga, saya tidak mau gagal kedua kalinya, saya harus lebih selektif lagi. "
"Apakah, saya tidak masuk kategori? "
"Tolong, jangan di sudutkan sama pertanyaan seperti itu. "
****
" Abang!!" Hanin membuka pintu dan terkejut saat Yogi yang mengetuk pintu.
"Boleh Abang bicara?"
"Duduk Bang. " Ucap Hanin.
"Terima kasih. "Ucap Yogi.
"Abang mau bicara apa? "
"Tentang perasaan Abang ke kamu, Abang nyaman saat berada di samping kamu, tapi Abang berat pada Ibu dan kamu. Disitu Abang bingung, dan masih berharap kamu kembali."
"Bang, lebih baik saya yang pergi, saya tidak mau menjadi perusak dan pemisah hubungan antara anak dan Ibu, jadi saya minta maaf."
.
.
.
__ADS_1
.