
Di bawah guyur hujan yang begitu sangat deras, dan angin bertiup kencang. Yogi masih berdiri, di samping mobil, milik Hanin. Tubuh nya sudah menggigil, bahkan Yogi terus memanggilnya.
Hanin mengintip dari sebuah warung, setelah tadi keluar untuk ke kamar kecil, yang tak jauh dari mobil nya. Hanin lalu berjalan, sambil mengambil payung, dan memayungi Yogi.
"Hanin."
"Abang ngapain sih, teriak - teriak. Malu tahu, kayak orang gila. "
"Abang khawatir, kamu nggak ada. Pintu mobil terbuka, ponsel tergeletak di dalam nya."
"Takut kenapa? takut di culik. "
Yogi tersenyum, dan menatap wajah Hanin yang juga basah, karena percikan air hujan.
"Kamu tadi kemana? "
"Abang nggak tahu apa? di atas ada warung, saya numpang buang air kecil sekalian neduh. Karena hujan deras, mau ke mobil. "
"Kok pintu nya terbuka? "
"Kan buru - buru. "
Hanin menutup pintu mobil nya, lalu mengunci nya , dan menarik pelang tangan Yogi.
"Kemana? "
"Ke warung atas Bang, hujan semakin deras, tuh Hodie saya juga basah, walau pake jas hujan, ini bolong lagi jas hujan nya. "
"Itu kecaktol saat mau pakai. "
"Malu - maluin, orang warung sampai lihat. Teriak - teriak. "
"Abang khawatir, khawatir kamu terjadi sesuatu. "
Hanin mengadah ke atas menatap Yogi, karena tubuh nya lebih tinggi dari Hanin.
"Nggak baik Bang, khawatir sama anak orang, sedangkan yang perlu Abang khawatir kan itu adalah pacar Abang, berhak Abang khawatirkan dari pada saya anak orang nggak ada hubungan apa - apa. "
Yogi menarik tubuh Hanin, hingga tubuh nya merapat di tubuh nya. Yogi menatap, kedua mata Hanin sangat lekat, dan Hanin merasakan jantung Yogi berdetak begitu sangat kencang.
"Abang khawatir, saat Abang sudah jalan, tapi kamu belum juga lewat. Abang takut, kamu terjadi kenapa - napa. "
"Apa karena masih punya rasa sayang? "
"Iya, Abang masih sayang sama kamu, jujur dari kamu mulai lukai hati Abang, jujur Abang masih sayang sama kamu. "
"Cinta kita tidak di restui, saya mundur Bang. Saya yang salah, sampai kapan pun kita tidak akan di restui. "
Yogi mencium bibir Hanin, sontak payung yang di bawanya, terjatuh. Hingga kedua nya sama - sama, di guyur air hujan.
"Abang ingin hanya kamu, Abang minta kamu mau kan, memulai nya dari awal lagi? "
"Apa tidak ada perempuan lain, selain saya? "
"Tidak ada. "
"Naik Bang, kita sudah basah kuyup. "
****
"Mba Mas, ini kopi nya. " Ucap pemilik warung.
"Terima kasih. " Ucap Yogi, langsung meminum nya.
"Hujan nya awet Bang, kalau Abang tadi tidak balik lagi, sudah sampai rumah. "
"Ini kan gara - gara kamu. "
"Gara - gara, kenapa Bang? yang buat Abang balik lagi kan Abang, saya nggak nyuruh. "
__ADS_1
"Iya, tapi hati Abang. "
"Abang tahu nggak? saya itu sedang di perebutkan. "
"Sama siapa? "
"Mantan."
"Memang nya mantan kamu siapa? "
"Ya sudah kalau nggak sadar. "
"Siapa? "
"Ih nyebelin ya, kayak nggak ngerasa. "
"Hahahaha.. iya Abang, satu nya siapa? "
"Bang Nugi, masa si Dicky. "
"Oh terus? "
"Saya tolak. "
"Karena Abang? "
"Bukan."
"Karena Dicky. "
"Bukan juga. "
"Terus? "
"Karena hati saya. "
"Untuk Dicky. "
"Terus? "
"Saya masih belum bisa, menjalankan nya. Kadang, masih sedih setelah Camelia pergi Bang. "
"Abang mengerti. "
****
"Kamu dari mana? basah kuyup begitu . "
"Kehujanan Ayah. "
"Kehujanan bagaimana, kamu bawa mobil."
"Tadi mobil nya sempat mogok ya, terus coba betulin sendiri, eh nggak bisa terpaksa di betulin sama Bang Yogi. "
"Kamu masih berhubungan sama Yogi? "
"Jalin silahturahmi, apa salah nya. "
Pak Brata diam, dan melanjutkan membaca surat kabar nya, sedangkan Hanin langsung membersihkan tubuh nya.
****
Yogi menerima panggilan telepon dari ibu nya, dan langsung saja di angkat nya.
"Assalamu'alaikum Bu. "
"Walaikumsalam nak, kamu sedang apa? "
"Saya sedang mau makan Bu, kenapa? "
__ADS_1
"Kamu bisa pulang? "
"Harus ambil cuti Bu. "
"Ibu kangen sama kamu, dan ada yang ingin ibu bicarakan. "
"Iya Bu, nanti Yogi usahakan. "
"Kalau bisa minggu sekarang, ibu mohon nak."
"Insya Allah Bu. "
"Ibu tunggu ya. "
"Baik Bu. "
Yogi menutup telepon nya, dan sambil memikirkan tentang ibu Siti, yang tiba - tiba meminta nya untuk pulang.
"Ada apa ya? tumben Ibu minta saya pulang."
****
"Bang Yogi? "
"Hanin, Abang mau ketemu sama Ibu. Kamu mau kan, ikut sama Abang, kita coba lagi."
"Maksud nya? "
"Seperti kemarin, saat Abang bilang. Abang masih mencintai kamu, mau kan kita kesana sama - sama. "
"Bang, saya minta maaf. Saya tidak bisa, saya tidak mau Abang sama Ibu, gara - gara saya, hubungan nya jadi renggang. Saya mohon Bang, jangan paksa saya. "
"Hanin, Abang itu sayang, Abang itu cinta sama kamu, apa salah nya, kita coba lagi. "
"Bang, saya sudah bilang. Kalau saya itu, masih belum bisa, menerima semua nya. Saya, jujur masih sayang sama Abang, tapi kita terhalang restu dari ibu nya Abang. Kalau Abang mau pulang, pulang lah. Buka kehadiran saya, yang di harapkan tapi kehadiran Abang. "
"Abang, takut kita tidak bisa bersatu. "
"Takdir, tidak menyatukan kita Bang. "
*****
Yogi melihat rumah nya yang ramai, Yogi melihat banyak keluarga nya yang datang. Ibu Siti tersenyum menyambut, kedatangan Yogi.
"Apa ini bu? "
"Duduk dulu. "
Yogi masih menatap bingung, sedangkan keluarga besar nya semua datang. Bahkan Yogi, terlihat shock melihat banyak sekali seserahan.
"Bu, maksud nya apa? "
"Kira ke rumah Astri, kamu lamar dia. "
"Ibu ini, bagaimana sih, main lamar - lamar. Tidak bicarakan dulu , sama saya. Ibu pikir, lamaran main - main. "
"Yogi, kamu jangan bantah pilihan ibu kamu, katanya pilihan kamu itu, tidak ada bagus - bagus nya. Sudah menyakitkan hati orang tua, malah kamu disakiti kini kamu malah kembali sama dia. Apa kamu, tidak ada stok perempuan lain. Masih bagus, kamu di kasih Astri. "Ucap Pak Anwar, paman Yogi.
" Nggak, saya nggak mau. "
"Nak, kamu jangan bantah ibu nak. Kamu itu, masih tetap mau sama Hanin. Ibu sudah tua nak, ibu sakit - sakit an. Apa kamu, tidak mau apa menikah sama Hanin turuti perintah Ibu."
"Yogi, kamu itu bodoh kalau kamu kembali sama wanita, yang sudah menyakiti hati kamu. Bodoh kamu itu, seharusnya kamu jadi lelaki harus punya harga diri. " Ucap Pak Anwar.
"Benar kamu, kami semua mendukung apa kata Ibu kamu, kalau tidak di begini kan kamu itu akan terus sama wanita itu." Ucap Ibu Inggrid, sepupu ibu Siti.
"Yogi, Astri itu cantik. Saya baik suami, dan keluarga kita kenal siapa Astri. Dia juga suka sama kamu, kamu juga sempat kan punya rasa sama dia. Kamu bisa belajar, lebih mencintai nya, kamu jangan mementingkan perasaan kamu sendiri, penting kan masalah perasaan ibu kamu." Ucap Silvina, sepupu Yogi.
.
__ADS_1
.