
"Maaf, ibu siapa ya? " Tanya Pak Brata.
"Saya Siti Pak, Ibu dari Yogi. " Jawab Ibu Siti.
"Oh, gimana bu, ada yang perlu di bicarakan?"
"Pak, saya minta maaf. Saya sudah membuat anak bapak merasakan sangat bersalah terus, saya sadar kalau anak saya dan anak bapak, sama - sama, saling mencintai. Tapi karena restu dari saya, tidak merestui hubungan mereka, sehingga Hanin dan Yogi harus berpisah. "
"Saya sudah tahu banyak cerita nya, seharusnya kita sebagai orang tua, jangan terlalu ikut campur, hingga membuat hubungan mereka jadi goyah. Saya juga dulu begitu, karena apa? takut anak saya di sakiti lagi. Tapi saya sadar, kebahagiaan menurut kita sebagai orang tua, pilihan kita terbaik tapi belum tentu, buat mereka itu yang terbaik."
"Saya minta maaf ya Pak, kalau saya salah sama Hanin. Saya sudah membuat dia menangis, membuat dia tersiksa. "
"Saya maafkan, saya juga minta maaf. Kalau sempat, tidak merestui hubungan mereka berdua. "
"Kalau boleh minta tolong, saya ingin menyatukan mereka lagi. Tolong Pak, bantu untuk satukan lagi. "
"Saya tidak bisa memaksa hubungan mereka, mereka berdua yang harus mengambil keputusan. "
"Yogi, putra saya masih sangat berharap sama Hanin. Dia selalu menunggu kabar, tolong Pak Hanin dimana? "
"Saya tidak bisa membantu, karena yang akan ambil keputusan itu Hanin, bukan Saya. "
"Saya paham Pak, tapi tolong Hanin dimana? biar Yogi datang menjemput nya. "
"Apa anak ibu, bisa menjamin tidak akan menyakiti hati anak saya? dan apa ibu juga bisa menjamin akan menyayangi Hanin seperti anak ibu? "
"Saya janji, akan menyayangi Hanin seperti anak saya sendiri Pak, saya memang jahat kemarin sama Hanin. Tapi saya sadar, melihat kedekatan hubungan mereka, karena sikap saya yang keras kepala, membuat anak saya hati nya terluka. "
"Baik, saya akan kasih tahu Hanin dimana. Tapi kalau sampai, anak saya disakiti lagi, seperti dulu Saya akan ambil kembali anak saya, untuk tidak berhubungan dengan putra Ibu. Pengalaman pertama karena anak saya, salah memilih mungkin akan di jadikan pelajaran untuk Hanin, dan saya sebagai orang tua nya untuk lebih selektif. "
*****
"Bu, Ya Allah ibu kenapa pergi nggak bilang - bilang. Ini sampai rumah malam, tahu pulang sampai sini kan bisa Yogi jemput. " Ucap Yogi menyambut ibu nya.
"Kamu khawatir ya? "
"Iya lah Bu, Yogi kan sedang pulang, kecuali Yogi nggak ada di rumah. Ibu mau ngapain, Ibu mau kemana Yogi nggak tahu, nggak khawatir. Ini ada di depan mata, nggak bilang kemana nya sama karyawan, sama anak juga. Gimana nggak khawatir. "
"Nak, dengarkan Ibu. "
"Yogi akan mendengar Ibu, mau bicara apa? "
"Kamu pergi, ke Pulau kiara, disana ada sebuah pemukiman, hanya satu rumah yang bergaya rumah Panggung.Kamu datangi rumah itu, ibu ingin kamu berangkat sekarang. "
"Bu, Pulau Kiara itu jauh. "
"Ibu tahu, kamu kesana ya. Tolong kali ini, kamu turuti permintaan Ibu. "
"Sebenarnya, siapa sih Bu disana? "
"Kamu akan tahu, Ibu minta kamu siapa - siap, terbang kesana. "
"Ta - tapi bu. "
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Ibu tidak akan memaksa. "
"Ini bukan perjodohan lagi kan? "
"Bukan, ini lain. "
"Apa ibu tidak ingin membocorkan siapa , yang akan saya temui. "
"Kamu akan tahu sendiri disana, kamu kesana ya. "
"Ya Bu, demi Ibu. "
Ibu Siti tersenyum, dengan membelai salah satu wajah Yogi putra nya.
****
Yogi pun berangkat, dan sudah berada di dalam pesawat. Yogi akan ke Pulau Kiara, dimana Ibu nya menyuruh nya kesana.
Didalam pesawat, sebagian turis asing, yang dengan tujuan ke pulau Kiara. Pulau, dengan destinasi wisata, yang sangat indah. Dengan hamparan pasir putih, dan pemandangan yang sangat indah.
Penerbangan yang memakan waktu 2 jam, dan Yogi berlanjut menggunakan kapal boat untuk menyebrang selama 1 jam.
Yogi pun turun dari kapal, terlihat Pulau yang sangat indah, berjejer resort Yogi mencari rumah panggung, dan hanya satu rumah panggung disana.
Hampir 15 menit, Yogi mencari akhirnya menemukan, rumah panggung yang di maksud. Rumah panggung, bercat warna putih dengan ayunan di depan rumah nya.
Yogi pun berjalan, dan langsung mengetuk pintu rumah nya, tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Tok... tok...
"Assalamu'alaikum."
Tok.. tok...
"Assalamu'alaikum."
"Kemana sih, ah.. ibu kena tipu lagi. Orang nya nggak ada. "
"Bang Yogi. "
Yogi membalikkan tubuh nya, terlihat Hanin berdiri tepat di depan nya. Yogi tersenyum, dan tak percaya. Kalau dirinya, mendatangi wanita yang sebulan tanpa kabar.
"Hanin."
"Abang, kenapa bisa sampai kesini? Abang tahu dari siapa? "
"Jelas, Abang yang tidak tahu. Kalau yang Abang temui itu, ya kamu. "
Hanin berjalan mendekat, dan membuka kunci rumah nya. Yogi tak henti menatap wanita yang sangat dia rindukan.
"Masuk Bang. " Ucap Hanin.
Yogi menutup pintu nya dengan salah satu kaki nya, dan langsung memeluk tubuh Hanin.
__ADS_1
"Abang kangen sama kamu sayang. "
"Lepas Bang, jangan seperti ini. " Ucap Hanin berusaha, melepaskan pelukan Yogi.
"Nggak, Abang ingin peluk kamu. Kenapa kamu , tega siksa Abang. "
"Bang, Hanin bahagia seperti ini. Tolong Bang, jangan buat saya mencintai Abang lagi. "
"Apa kamu, sudah bisa melupakan Abang? " Tanya Yogi dengan memegang kedua pipi Hanin.
"Tolong Bang, kita tidak akan bisa bersatu. "
"Nggak sayang, kita bisa bersatu. Bukti nya, Abang sampai kesini. "
"Siapa yang kasih tahu Abang? Ayah atau Bang Pram? "
"Ibu."
"Ibu..!! "
"Abang juga tidak tahu, kalau Abang suruh kesini, untuk menemui seseorang. Dan Abang sumpah , tidak tahu kalau itu kamu yang harus Abang temui. "
Hanin langsung mengambil ponsel nya nya, dan menghubungi Ayah nya.
"Assalamu'alaikum, halo Ayah. Hanin mau tanya, kenapa Bang Yogi bisa sampai kesini? "
"Walaikumsalam, Ayah yang kasih tahu ibu nya. Kemarin , ibu nya datang kesini. Dia ingin kalian bersatu kembali. " Jawab Pak Brata dari seberang.
"Oh, pantas dia sudah sampai kesini. "
"Ayah sama ibu nya, sudah merestui hubungan kalian. "
"Terima kasih Yah, yaudah kalau begitu. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
"Apa kata Ayah? "
"Ibu datangi Ayah, meminta kita bersatu lagi."
Yogi tersenyum dan langsung memeluk tubuh Hanin, di cium nya pucuk kepala Yogi, Hanin pun membalas pelukan Yogi, yang semakin erat.
"Akhirnya kita bersatu sayang, tidak sampai rambut memutih kita di satukan lagi. Satu bulan, membuat Abang tersiksa apalagi kalau sampai rambut ini memutih. "
"Abang, makasih ya mau dengan saya lagi. Walau saya ini, sudah menyakiti hati Abang, luka yang terus membekas. "
"Sayang, Abang itu sayang sekali sama kamu. Biarkan orang mau bilang apa, tentang Abang karena memilih kamu lagi. Karena manusia, itu ada salah nya tidak selalu benar. Kalau ada kesempatan kedua, kenapa kita tidak lakukan."
.
.
.
__ADS_1