Cinta Di Ujung Janji

Cinta Di Ujung Janji
Menuju Halal


__ADS_3

Hampir satu jam, telat dari jadwal yang sudah di tentukan. Hanin sudah gelisah, bahkan kakak nya pun meminta nya untuk tenang.


"Bang Pram, adik kamu ini sedang gelisah. Cara apa kek, biar mereka cepat datang. " Ucap Winda.


"Sabar Yank, nggak bakalan kabur. Kan ada Bang Candra , satu mobil sama mereka." Ucap Pramudya.


"Masalah nya, ini sudah telat satu jam loh. "


"Iya sabar. "


"Bang, coba hubungi lagi dong, saya khawatir terjadi sesuatu. " Ucap Hanin.


"Pram, mana Yogi sama keluarga nya? " Tanya Pak Brata, yang sama gelisah nya.


"Lagi di jalan Yah. " Jawab Pramudya.


Hanin mencoba menghubungi Yogi, dan telepon pun di angkat nya.


"Bang, nyampe mana sih? perjalanan dari tadi nggak nyampe - nyampe, kayak perjalanan dari ibu kota saja. "


"Haduh Yank, ini mobil Bang Candra mogok. Ini lagi, tunggu montir nya kemari. " Ucap Yogi dari seberang.


"Ya Allah Bang, kita mau lamaran aja susah benar sih, kita jadi tunangan nggak sih? "


"Jadi Yank, jadi Kami tenang ya. "


"Semua nya pada bilang tenang, ini saya gelisah sama Ayah juga. Nggak enak sama saudara, ada tetangga juga. "


"Sabar ya sabar, kita jadi tunangan. "


"Yasudah, di tunggu. " Ucap Hanin langsung mematikan ponsel nya.


"Gimana? " Tanya Pak Brata.


"Mobil nya mogok, sedang tunggu montir nya." Jawab Hanin, dengan wajah bete nya.


"Pramudya urusan kamu, sampai kan keluarga kita, dan tetangga. Calon mantu, sedang ada trouble. "


"Iya Ayah. "


****


"Pak, masih lama nggak ya? " Tanya Yogi.


"Masih Pak, ini sedang di coba. Mesin nya, mati an terus. " Jawab pria yang sedang menangani mobil Candra.


"Bang, mobil butut saja masih di pakai, gaji gede masa nggak kuat beli mobil yang agak bener dikit napa. Sudah tahu, nih mobil keluar masuk rumah sakit. Sekarang, sekarat lagi, mau sampai jam berapa. "

__ADS_1


"Yogi, bukan nya saya tidak mampu, beli mobil. Masalah nya, ini mobil pemberian dari mertua saya, katanya mobil legendaris."


"Iya, legendaris pada masa nya. "


"Sudah, lagian kan mereka sudah tahu kita ada masalah. Jadi kamu santai Yogi, jangan buat stress Candra sama yang sedang betulkan mobil Candra. " Ucap Ibu Siti.


"Ini juga, Ibu dandan nggak bisa lihat waktu. Yang mau tunangan anak nya, malah yang heboh ibu nya. "


****


Satu persatu keluarga pulang, hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore. Pramudya memutuskan untuk menyusul Yogi, sedang kan Pak Brata sudah berganti pakaian dengan mengenakan sarung dan kaos oblong.


"Kamu nggak ganti pakaian, masih menggunakan kebaya? " Ucap Pak Brata.


"Nggak Yah. "Ucap Hanin.


" Abang mau menyusul dia, kalau masih belum jadi Abang bawa Yogi sama ibu nya. "


"Kenapa nggak dari tadi saja sih Bang, giliran rumah sudah sepi baru menyusul. "


"Maaf dek, Abang baru kepikiran sekarang."


"Alah sama saja, Abang sendiri sama Bang Yogi itu sebelas dua belas. "


"Sudah Bang, jangan banyak bicara. Cepat sana, susul Bang Yogi. " Ucap Winda.


****


Hingga Candra, merasakan tak enak dengan junior nya, dan berkali - kali menenangkan Yogi bahkan berkali-kali minta maaf.


"Sabar Yogi,maaf ya. "Ucap Candra.


" Yaudahlah Bang, mau gimana lagi. " Ucap Yogi.


"Pak, mobil nya jalan. " Ucap Montir.


"Alhamdulillah, jadi bisa jalan lagi? " Ucap Candra.


"Sudah Pak. "


Tak lama mobil Pramudya datang, dan melihat mobil telah selesai di perbaiki. Yogi berkacak pinggang, saat calon kakak ipar nya datang.


"Dari tadi kek, kamu kesini jemput. Giliran sudah, selesai baru kemarin. " Ucap Yogi.


"Ya Maaf, baru kepikiran. " Ucap Pramudya.


"Sudah, sekarang kan selesai nih mobil, di perbaiki nya. Kamu ikut sama Pramudya saja, biar Ibu sama saya. " Ucap Candra.

__ADS_1


"Nah betul itu. " Ucap Pramudya.


"Yasudah kalau begitu. "


****


Hanin yang sudah berganti pakaian rumahan, saat itu mobil Pramudya dan Candra sampai. Yogi langsung cepat keluar, dan masuk menemui Hanin dan Pak Brata, yang sudah berganti pakaian, dan sedang santai di depan televisi.


"Loh kok, sudah pada ganti pakaian? " Ucap Pramudya.


"Yank, kita jadi acara tunangan nya kan? " Tanya Yogi yang sudah kelihatan stres.


"Hanin, kok sepi? " Ucap Ibu Siti.


"Jadi Bang, tapi karena menunggu lama. Saudara sudah pada pulang. Terus, saya gerah Bang dari jam 2 siang, pakai kebaya, sampe habis maghrib baru pada datang. "


"Maafkan Abang ya. "


"Hanin, saya minta maaf sekali. Gara - gara mobil tua saya, jadi hampir gagal. " Ucap Candra.


"Ya sudah, Ayah siap - siap, dan kamu Hanin pakaian yang rapih. " Ucap Pak Brata, dan langsung Hanin masuk kedalam kamar nya, di ikuti oleh Winda.


Yogi yang tampak gugup, sampai habis dua gelas air mineral, kemasan plastik. Bahkan sang selalu menghibur putra nya.


Hampir menunggu 30 menit, Hanin keluar dari kamar nya, dan sudah berganti pakaian dengan menggunakan kebaya, dan rambut yang sudah di tata rapih, dengan curly gantung.


Yogi tersenyum saat calon tunangan nya, berdiri tepat di depan nya. Dengan senyuman mengembang, wajah yang tadinya tampak sama - sama kacau. Kini berubah menjadi cerah, secerah mentari.


"Malam ini, Abang dan ibu. Datang kemari, membawa sebuah harapan masa depan. Dimana, di awali dengan sebuah ikatan, yang nanti nya, akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Abang memang, bukan pria yang sempurna, tapi Abang memiliki cinta yang begitu besar sama adek. Malam ini, adalah malam yang indah buat kita berdua. walau hari ini buat Abang, kamu bahkan semua nya, hari yang sangat melelahkan. Tapi rasa lelah ini, terbayar sekarang. "


"Saya pun menerima cinta Abang, menerima niat naik Abang yang ingin melukai hidup baru, bersama saya. Dan dalam harapan doa, saya meminta agar kita tetap bersama hingga rambut, ini memutih. Hanya maut, yang akan memisahkan kita. Terima kasih, cinta yang selama ini, Abang berikan. Terima. kasih, untuk tetap menjadi kan saya seorang kekasih hati. Terima kasih, terima kasih Abang."


Yogi lalu mengeluarkan cincin nya, disaksikan oleh Pak Brata, Pramudya dan Winda. Candra serta Ibu Siti.Yogi menyematkan cincin tersebut, di jari manis Hanin.


"Hari ini, Abang melamar kamu, untuk di jadikan seorang istri, pendamping hingga maut memisahkan. "


Hanin tersenyum dan mengangguk kan kepala nya, dan Yogi mencium tangan Hanin.


"Makasih sayang. " Ucap Yogi.


"Alhamdulillah, akhirnya anak Ayah telah memilih. " Ucap Pak Brata.


"Selamat Yogi, akhirnya otw halal, seharian di buat kesal. " Ucap Candra.


"Makasih Bang, sudah mau menemani saya melamar adik dari junior Abang. "


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2