
"Ayah, Hanin bagaimana? " Tanya Pramudya saat sampai.
"Hanin di operasi, karena posisi anak nya berubah. " Jawab Pak Brata.
"Tapi, nggak apa - apa kan mereka? "
"Nggak apa - apa, mereka selamat semua. "
"Alhamdulillah."
"Keluarga Ibu Hanin. " Panggil Suster.
"Kami sus. " Ucap Pramudya.
"Silakan ke ruang rawat, Ibu Hanin sudah di pindahkan. "
"Baik Sus, terima kasih. "
"Mari Pak, bisa ikut saya. "
Pak Brata dan Pramudya berjalan mengikuti langkah Suster , saat sampai Hanin terbaring lemah dan masih dalam keadaan pengaruh obat bius.
"Satu jam lagi, efek nya akan hilang. Mungkin nanti akan merasakan sakit nya, kalau ada keluhan bisa panggil saya atau tekan tombol darurat ini. "
"Baik Sus, makasih. " Ucap Pramudya.
"Bang, Ayah anak saya mana? "
"Anak kamu, ada di ruang bayi. Nanti juga sama Suster di bawa kesini. " Ucap Pak Brata.
"Bang, tolong hubungi lagi Bang Nugi. Kalau tidak, hubungi keluarga nya kalau anak nya sudah lahir. "
"Iya Abang coba. "
"Karena pesan dia, kalau lahiran nanti, kabari."
Pramudya mencoba menghubungi Pramudya namun tidak juga di angkat. Hingga berkali-kali, mencoba mengirim pesan tak di angkat juga.
"Gimana Bang? "
"Nggak aktif. "
"Apa dia ganti nomer ponsel nya? "
"Tidak aktif saat, dia di luar negeri kan? "
"Iya Bang. "
"Sudah, kamu masih ada Ayah sama Abang kamu. Jangan pikirkan suami dan keluarga nya, yang gendeng itu. " Ucap Pak Brata.
"Saya hanya , ingin Bang Nugi tahu. Anak nya sudah lahir, mau dia datang mau dia tidak peduli yang penting tahu anak nya lahir. "
"Dek, mungkin hubungan kamu sama Nugi, memang harus berakhir. Dan memang keadaan nya harus seperti ini, Nugi bukan terbaik buat kamu, tapi buruk nya Nugi tetap Ayah dari anak kamu. "
"Iya Bang. "
*****
"Camelia Clara Vitaloka. " Ucap Hanin sambil melihat bayi nya yang sedang di gendong Pak Brata.
"Nama yang bagus, Camelia cucu Kakek. Semoga sifat kamu tidak seperti Papah nya, kamu jaga Mamah ya nak. " Ucap Pak Brata.
"Abang sudah ke rumah keluarga nya, memang dia ada di luar negeri. Kerja di kapal pesiar, dan keluarga nya bilang tidak tahu. Memang nomer nya tidak aktif, katanya." Ucap Pramudya.
"Alasan saja, paling juga lari dari tanggung jawab. " Ucap Pak Brata.
"Biarkan saja Ayah, nanti akan dapat balasan nya sendiri. "Ucap Pramudya, dan Hanin hanya tersenyum getir.
__ADS_1
****
" Abang nggak usah repot - repot bawa - bawaan buat Camelia. " Ucap Hanin, melihat Yogi datang membawa sebuah kado besar.
Yogi menggendong Camelia, yang baru saja bangun dari tidur nya. Wajah nya yang masih merah, dan lucu membuat Yogi tersenyum tersenyum.
"Kamu cantik nak, cantik seperti Mamah kamu. Apa boleh, Om jadi Papah sambung kamu? " Ucap Yogi sambil melirik ke arah Hanin.
"Dek, Abang ingin menggantikan posisi Nugi, tapi bukan berarti Abang akan menggantikan Nugi untuk Camelia, Nugi tetap Ayah Camelia.Abang ingin melindungi kalian berdua, menjadi imam dalam keluarga, memberikan cinta untuk kamu dan Camelia."
"Saya belum bisa jawab Bang, saya masih bimbang. "
"Abang akan tunggu jawaban dari kamu."
*****
Satu minggu sudah, Hanin pulang dari rumah sakit. Camelia tenang dalam gendongan Mamah nya, tak henti Hanin memainkan pipi Camelia, yang seperti bapau.
"Anak mamah, nanti kalau sudah besar harus nurut sama Mamah, apapun yang terjadi, kita tetap sama - sama ya nak. "
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam, Eh.. sayang itu ada Om Yogi. Bawa apa tuh? " Ucap Hanin.
"Om bawa boneka besar. " Ucap Yogi.
"Camelia, belum ngerti Om. " Ucap Hanin dengan gaya bicara menirukan anak kecil.
"Abang, Camelia mana ngerti. "
"Kan, boneka awet nggak akan cepat habis."
"Tapi makasih ya. "
"Iya, sama - sama. " Ucap Yogi.
"Boleh Bang. " Ucap Hanin.
Yogi menggendong Camelia, namun tiba - tiba Camelia menangis, dan Yogi memberikan lagi pada Hanin.
"Kok nangis sih? "
"Mungkin nggak nyaman. "
"Uwalah.. nggak nyaman ya sama Om. Ini calon Papah kamu loh. "
"Pede banget ya nak, ngaku - ngaku calon Papah. "
"Gimana? jawaban kamu. "
"Bang, saya saja baru melahirkan. Baru selesai nifas nanti, saya baru maju Bang. "
"Abang akan tunggu, walau itu sampai tahun depan. "
"Saya tidak mau janji Bang, saya takut mengingkari lagi. Saya sudah pernah mengkhianati Abang, dan saya masih ingin menata hati. Memang ada rasa penyesalan, kenapa saya tinggalkan Abang , tapi tunggulah Bang, saya tidak mau buru - buru."
"Iya, Abang akan tunggu. "
"Saya masih takut dengan janji akan setia, tapi nyata nya janji itu palsu. "
*****
"Bang, lucu banget ponakan kamu. " Ucap Winda sambil menggendong Camelia. "
"Sebentar lagi, kita buat ya. " Ucap Pramudya, dan Winda menoleh ke arah Pramudya dengan tersenyum.
"Mau kan, kita buat anak. Tapi kita menikah dulu. " Ucap kembali Pramudya.
__ADS_1
"Mau Bang. "
"Alhamdulillah, nanti Abang akan lamar kamu."
"Makasih Bang, sudah balas cinta saya. "
"Terima kasih, kamu sudah berjuang untuk menaklukkan hati yang beku sebeku es. "
Winda tersenyum lalu Camelia menangis, dan langsung Winda memberikan pada Hanin, yang sedang berada di dalam kamar nya.
"Hanin nangis. " Ucap Winda.
"Oh iya mba, makasih ya sudah jaga sebentar." Ucap Hanin setelah mandi.
"Nggak apa - apa, saya sedang belajar."
"Kapan katanya? "
"Mau . "
"Alhamdulillah, selamat ya. "
"Ah.. belum di lamar. "
"Tapi kan, udah ada rencana. "
"Iya sih. "
*****
"Keluarga Nugi, tidak ada yang mau nengok cucu nya ya. " Ucap Pak Brata.
"Yang penting mereka tahu Yah. " Ucap Hanin.
"Suatu saat, Camelia akan tahu. Dan akan lebih berat ke siapa. "
"Tapi saya tidak akan larang, Camelia bertemu sama Papah nya."
"Iya, karena suatu saat butuh wali saat dia nikah nanti. "
"Kapan juga Papah nya datang, pernah pintu rumah ini selalu terbuka buat dia. "
*****
"Saya ingin lamar Winda. " Ucap Pramudya.
"Ayah ingin kamu menikah dengan wanita pilihan Ayah. "
"Yah, tolong jangan halangi hubungan saya sama Winda, dan bila Hanin kembali sama Yogi, Ayah juga jangan halangi mereka. "
"Apa yakin, pilihan kalian tidak akan gagal hah.. Ayah tidak mau melihat kalian gagal dalam rumah tangga. "
"Ayah, kita tidak akan terus gagal. Kegagalan, bagi kita itu ujian. Tolong Yah, restui kami. "
"Ayah perlu berpikir, karena Ayah tidak mau terulang lagi. " Ucap Pak Brata langsung berdiri meninggalkan Pramudya dan Hanin.
"Bang, terus berusaha dekati Ayah. Buktikan kalau yang sekarang, tidak seperti yang kemarin. "Ucap Hanin.
" Iya dek, dengan yang ini Abang sudah yakin, dan mantap sampai kakek Nenek. "
"Jangan sampai, hubungan yang Abang perjuangkan sia - sia lagi. Mungkin jalan nya seperti ini, cara bersatu dengan Mba Winda. "
"Iya dek, Abang akan terus berusaha. "
.
.
__ADS_1
.