
Tiara dan Rian pun keluar dan membiarkan Sonia beristirahat.
" Rian, sonia sakit apa sih.." tanya Tiara.
" jantungnya bermasalah, ada sedikit kebocoran yang membuatnya sering lemas dan susah bernafas.." jawab Rian.
" anak sekecil itu, sungguh kasihan.. terus yang tadi itu mamanya, kok masih muda sekali ya .."
" iya , dia masih muda, nikah di usia muda dan di tinggalkan suaminya selingkuh dan menikah dengan wanita lain..mungkin usia nya sama dengan kamu tapi sayang dia sudah menjadi janda..." ucap Rian.
" ehm..kok kamu tau segalanya.."
" maksud kamu"
" masasih seorang dokter harus tau segitu banyak masalah pribadi pasiennya.." ketus Tiara.
Rian pun memandangi Tiara...
" udah , kalau kamu cemburu bilang saja " goda Rian.
" ish...siapa juga yang cemburu " jawab Tiara.
" kata orang orang sih janda itu lebih menggoda lo dari pada perawan... tapi sepertinya memang bener juga sih..." ucap Rian yang membuat Tiara melotot dan mencengkram lengan Rian dengan keras.
" aduhhh Ra Ra lepasin sakit tau..udah dong cemburunya, aku cuma bercanda..." Rian meringis kesakitan.
Tiara mendengus kesal.." siapa juga yang cemburu"
Kemudian Tiara melangkah lebih cepat dan meninggalkan Rian, karena takut dokter salma marah karena terlambat ke bangsalnya.
Rian yang masih terdiam di lorong itu pun hanya menggeleng
" duh dasar cewek, menggemaskan sekali kalau sedang cemburu..bagus sih berarti dia cinta banget.." gumam Rian kemudian berjalan menuju ruangannya.
**
Di ruangan Tiara.
tok tok
" masuk"
terlihat senyum manis Denis yang membuka pintu ruangan itu.
"hai den, ada apa..?" tanya Tiara yang masih sibuk dengan laptopnya untuk membuat laporan kerja.
" Tiara, kamu sudah jadian ya sama dokter Rian...semua membicarakan mu tau, kamu dan dokter Rian menjadi trending di rumah sakit ini.." ucap Denis yang membuat Tiara berhenti menatap laptopnya dan melotot ke arah Denis.
" hahhh...maksutmu Den.. aku dan dokter Rian hanya berteman, gak ada apa apa di antara kami..." ucap Tiara.
" beneran"
" ehem "
__ADS_1
" jangan bohong kamu Ra, semua juga tau bagaimana kedekatan kalian"
" ehm ..em..aku.. aku...entahlah Den" kata Tiara dengan menunduk.
" Tiara, sudah waktunya kamu membuka hatimu , Raihan sudah tenang dengan studynya di mesir , kamu harus move on dong..." ucap Denis.
Tiara hanya mendengus mengeluarkan nafas panjang dan bersandar di kursinya.
" entahlah Denis, aku pun sebenarnya sudah mulai jatuh cinta sama Rian tapi aku masih takut den, aku takut dia meninggalkan aku ..."
" kamu jangan bodoh Ra, kami semua bisa melihatnya betapa Rian sangat mencintaimu..jangan kau sia siakan cintanya , kalau dia sudah lelah mengejarmu dan berpaling sama gadis lain gimana, misalnya sama mamanya sonia itu gimana, dia itu dah cantik, lembut, modis, janda pula ... bukannya janda lebih menggoda ya.." goda Denis yang sukses membuat Tiara melongo dan termenung sejenak..
" udah , kamu pikir kan baik baik apa yang baru saja aku katakan..aku mau Kembali ke ruanganku..hhh..." kata Denis sambil melangkah ke luar ruangan itu dan betapa terkejutnya ternyata di balik pintu sudah ada dokter Rian yang berdiri di sana..
" eh Dokter Rian ngapain anda di sini.." ucap Denis.
" ehs...hus...jangan keras keras ember banget sih..." ketus dokter Rian .
" ehm...dasar bucin.."
" eh..tumben kamu pinter, biasanya semua yang kamu kerjakan harus aku benerin... kali ini kamu sukses membuatnya berpikir untuk menerimaku..." bisik dokter Rian dengan senyum miringnya.
Denis mendengus kesal...
" untung saja kamu atasanku..."
dokter Rian melotot mendengar ucapan Denis barusan..
" heh...apa kamu bilang, dah sana pergi..mau aku hukum lagi..atau aku kasih kamu nilai merah .." gertak Dokter Rian.
Rian tertawa kecil melihat kelakuan Denis kayak anak kecil.
kembali Rian melihat ke arah Tiara yang masih melamun di belakang meja kerjanya.
Rian masuk dan menutup pintunya pelan pelan.
Tiara yang masih melamun tidak menyadari ada Rian sudah duduk di depannya.
Rian terus menatap Tiara yang terlihat gundah gulana melawan perasaannya.
Tiara memikirkan sesuatu yang selama ini mengganggu hari harinya..
Disatu sisi dia sebenarnya juga sangat mencintai dokter Rian tapi ,di sisi lain masih takut mencintai lalu patah hati.
"hai cantik, lagi mikirin apa sih.." ucap Rian yang membuat Tiara tersentak kaget.
" ih...bikin jantungan ah... Rian kamu nih..."
" tapi gak pingsan kan, kalau pun pingsan mudah saja tinggal aku kasih kamu nafas buatan.." ucap Rian sambil tersenyum.
" hehhh...bisa aja kamu...kok kamu ke sini sih, ada apa lagi..." tanya Tiara penasaran.
" aku gak bisa jauh dari kamu Ra.."
__ADS_1
" ehm...em..maksut kamu apa Rian, aku gak ke mana mana, aku di sini kita bekerja di rumah sakit yang sama, jangan lebay ah..."
ucap Tiara sambil tersenyum dan menatap kedua mata Rian.
Untuk sejenak mereka saling menatap, dalam dan semakin dalam untuk mencari sebuah jawaban..
" Tiara masihkah kau ragu padaku.." kata Rian yang membuat Tiara melepaskan tatapannya dan menunduk untuk menata hatinya.
" Rian..bisakah kamu menjaga hatiku saat aku menerima kehadiran mu..
aku juga mencintaimu Rian tapi aku masih takut akan terluka lagi..
hatiku pernah mencintai seseorang tapi pupus sebelum cinta itu tumbuh subur..dan itu membuatku menyesalinya...sejak itu aku merasa sakit yang luar biasa ,
sakit rasanya Rian...antara menyesali , mencintai dan melepaskan..
belum tumbuh saja sakitnya seperti itu apalagi kalau tersakiti di saat subur suburnya, sungguh aku tak bisa membayangkan.."
tak terasa bulir bulir air mata terjatuh deras di pipi mulus Tiara.
Rian pun bangkit dan berjalan ke arah kursi Tiara, dia menunduk dan mendekap kepala Tiara...
" aku gak akan membiarkan hatiku untuk orang lain... hatiku hanyalah untukmu Tiara.. kamu tak perlu mencintaiku , aku hanya butuh kepercayaan darimu , aku ingin kau percaya aku selalu ada untukmu.." ucap Rian sambil mendekap hangat Tiara.
kemudian Tiara beranjak dan berdiri tepat di hadapan Rian, dia membenarkan jaz yang dipakai Rian..
" baiklah Rian, aku percaya sama kamu , tak bisa kubohongi hatiku, aku sangatlah nyaman berada di sisimu.." ucap Tiara dengan mata sembab.
" kau bisa pegang ucapanku tiara ..." bisik Rian sambil mencium hangat kening Tiara.
Rian mengusap lembut air mata Tiara yang membasahi wajah cantiknya.
" hei ,sayang.. sudah dong nangisnya..gak cantik lagi lo kalau nangis terus..."
" baiklah , tapi apa kamu gak kerja , mau di sini terus..dah sana kamu kembali ke ruangan kamu, gak enak dilihat para suster di luar.." ucap Tiara.
" ehem..aku pergi dulu ya, nanti aku antar kamu pulang .."
Tiara hanya tersenyum dan mengangguk..
Rian keluar dari ruangan Tiara dengan senyum yang mengembang.
sedangkan tiara merebahkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya dengan menghembuskan nafas panjang.
pikirannya menerawang jauh ..di atas awan...terlintas sesaat wajah Raihan yang tersenyum manis dengan candaannya.
namun tiba tiba terlintas kata kata terakhir Raihan sebelum dia pergi... semoga kau mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku, dan semoga nanti kita bisa bertemu lagi, walaupun dengan jodoh masing masing.
" ach....apa yang ku pikirkan... aku sudah menerima Rian hadir dalam hidupku, tidak seharusnya aku masih memikirkan Raihan yang sudah pergi mengejar mimpi dan cita citanya.. Raihan..semoga mimipimu tercapai, dan kau mendapatkan jodoh terbaik..." ucap Tiara dalam hati seta berusaha membuang jauh jauh pikiran tentang Raihan.
bersambung....
💞
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak ya sahabat pembaca..like & koment...
terimakasih sudah mampir*...😉🙏