
Hari berganti waktu berlalu..
Sudah satu bulan berlalu, Rian sudah bertolak ke Australia, untuk mendalami ilmu kedokterannya , dan mungkin untuk memulihkan serpihan hatinya yang telah hancur luluh lantah karena prinsip dan keyakinan.
Sedangkan Tiara sibuk dengan aktifitasnya sebagai dokter di sebuah klinik di daerah tempat tinggalnya.
🌹🌹🌹
Sore menjelang malam ..
Tiara baru pulang dari klinik ..dengan lusuh dan terlihat lelah Tiara bersandar di kursi ruang tamunya.
Rama, sang adek yang sudah lulus SMA dan sedang bingung memilih tempat kuliahnya.
Melihat kakaknya yang terlihat lelah, dia datang mendekat dan ikut duduk di sampingnya.
" kak.."
" ehm..."
" kakak lelah ya "
" iya dek, kakak lelah.."
" aku tau kakak lelah bukan hanya karena kerjaan tapi kakak lelah karena mencari kesibukan agar bisa menghilangkan bayangan kak Rian, iya kan.."
" jangan sok tau kamu dek"
" Rama sudah gede kak, Rama ngerti bagaimana perasaan kakak, tapi menurutku tak seharusnya kakak mencari kesibukan dengan menambah jam kerja sendiri dan lembur lembur, nanti kalau kecapekan kakak bisa sakit..."
" entahlah dek, kakak sudah tak bisa merasakan apapun selain rasa sakit di hati kakak, mau menangis saja rasanya sudah tak bisa...dan kalau kakak gak mencari kesibukan, bayangan Rian masih terlihat jelas di mata kakak..dan ingatan akan Rian malah semakin kuat, semakin kakak ingin melupakannya, rasanya semakin jelas bayangannya..kakak gak tau lagi harus bagaimana.." jawab Tiara sambil menunduk dan memegangi jidatnya.
" kak, kemarin Rama bertemu bu minah..kakak masih ingatkan guru ngaji kita , guru ngaji kakak juga..bu Minah menanyakan kakak...bu minah ingin bertemu kakak , kangen katanya, dulu kakak paling rajin ngajinya juga paling cepet khatam.. sekarang bu minah ngajar ngaji di masjid Agung dekat klinik kakak lo, kalau ada waktu kakak mampir saja ke sana, pasti Bu Minah senang ketemu kakak.." ucap Rama.
" baiklah.. sekarang kakak mau mandi dulu " jawab Tiara kemudian beranjak menuju kamarnya untuk berganti baju.
" ok kak, nanti kita makan bakso nya biar Rama suruh Farel beli di perempatan, enak lo kak.."
" terserah "jawab Tiara.
setelah selesai melakukan segala aktivitas, tubuh Tiara rasanya sudah gak kuat lagi ingin rasanya cepat cepat rebahan tapi membuat laporan belumlah selesai..
__ADS_1
" aduhhh hari ini kok capek banget rasanya..." gumam Tiara kemudian menutup laptopnya dan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.
🌺🌺🌺
Keseokan harinya.
Tiara berangkat ke klinik di antar oleh adiknya ..
" kak, besok Rama mau berangkat ke Surabaya, Rama sudah daftar di kampus A dan berhasil diterima kak, besok Rama mau ke sana.." ucap Rama dengan bahagia.
" selamat ya dek, kakak senang kamu bisa kuliah di sana, tapi hati hati di sana kota besar , jaga iman kamu, tetap ibadah dan hindari pergaulan yang gak benar..kamu harus kuliah yang benar jangan sampai mengecewakan bapak dan ibu juga kakak ya, nanti untuk biaya sedikit sedikit kakak juga bisa bantu kamu.." Tiara menasehati Rama.
" baik kak.." jawab Rama dengan senyum manisnya.
Tiara berjalan menuju klinik dan masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Tiara adalah dokter yang rajin , cantik dan baik serta cerdas.
***
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat , jam sudah menunjukkan pukul 16:00..
Tiara teringat tentang bu Minah, guru ngajinya.
Jarak antara masjid dan klinik tidak begitu jauh, jadi Tiara hanya berjalan kaki beberapa menit saja.
Sesampainya di halaman masjid , Tiara bergegas menemui bu Minah di serambi masjid bersama beberapa anak anak yang belajar ngaji.
" assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
" kak Dita, ayo ajarin adik adik dulu ya , ibu ada tamu sebentar ya.." perintah bu minah kepada Dita anak yang paling besar di sana.
" hai Tiara apa kabar mu sayang, makin cantik aja kamu.. wah ibu dengar kamu sudah menjadi Dokter ya ...hebat kamu nak..tapi ngajinya tetap kan.." ucap Bu Minah sambil memeluk Tiara.
Tiara tersenyum dan membalas dengan hangat pelukan bu Minah.
" Alhamdulillah bu, Tiara sekarang sudah menjadi Dokter..." jawab Tiara.
"ayo ayo duduk di sini kita ngobrol sebentar ya.." pinta bu Minah.
__ADS_1
"Ternyata masih banyak ya bu anak anak yang ngaji sama ibu.." ucap Tiara.
" iya Ra, saat ini nyari guru ngaji itu susah sekali, kebanyakan mereka melihat bayaran nya ..ya tentu saja kalau guru ngaji itu gak ada gajinya, tapi kalau menurut ibu gajinya itu langsung dari Alloh, Alloh sendiri yang menjamin..tapi ya sudahlah ibu nikmati saja .." jawab Bu Minah.
" bu, kalau Tiara bantu ibu gimana.."
" o iya ..beneran Tiara mau bantu ibu..wah tentu saja ibu senang sekali.. tapi bukanya kamu sibuk dengan profesi kamu .." tanya Bu Minah
" ya , kan pulang dari klinik masih jam segini bu, masih bisa bantu bantu kan.." jawab Tiara sambil tersenyum.
" baik lah.. ibu senang sekali kamu mau bantu ibu..ayo ayo ibu kenalkan kepada mereka..."
begitulah Tiara sangat senang bisa membantu Bu Minah mengajar anak anak ngaji..
Dan dengan kegiatan itu membuat Tiara semakin mendalami ilmu agamanya, bersama bu Minah, Tiara sering menghadiri pengajian pengajian.
Tiara semakin baik dalam hidup nya kenangan akan Rian pun perlahan mulai memudar.
Meskipun mungkin selamanya tidak akan bisa melupakan Rian tapi Tiara sudah bisa menerima kenyataan dan takdirnya yang ternyata tak berjodoh dengan Rian.
Bapak dan ibunya pun sangat senang, Tiara sudah kembali menjadi putrinya yang ceria.
Sudah dua tahun Tiara berada di desanya dengan segala kegiatan dan aktifitasnya.
Rama adik keduanya sekarang sudah kuliah di Surabaya dan adik bungsunya Farel sekarang sudah duduk di bangku SMA.
Tiara masih bekerja di klinik yang sama , tapi bedanya sekarang klinik menjadi lebih besar dengan 6 dokter jaga yang di bagi menjadi 3 shift.
Anak anak yang ngaji dengan Bu Minah dan Tiara juga semakin banyak, sehingga pihak masjid membangun empat buah gedung untuk Diniyah.
Mereka pun semakin semangat dalam belajar ngaji, selain itu di sela sela ngajinya , Tiara selalu menyelipkan tips tips kesehatan untuk para santrinya.. karena kesehatan sebagian dari iman, jadi sebagai santri yang baik harus menjaga kebersihan dan kesehatan.
Bu Minah sangat senang Tiara mau berpartisipasi mendidik anak anak di daerah ini.
" Tiara..ibu mau berterimakasih sama kamu, berkat kamu Diniyah ini menjadi maju dan berkembang..ini ada sedikit uang untuk gaji kamu, ya gak banyak sih..bila di banding gaji kamu di klinik..ibu gak enak ,sudah dua tahun kamu membantu ibu di sini tapi tak menerima sepeser pun untuk sekedar mengganti lelahmu.." ucap Bu Minah yang langsung membuat Tiara terdiam dan menatap lekat Bu Minah.
" Bu , ibu jangan begitu bu.. insyaallah gaji Tiara di klinik sudah lebih dari cukup.. Tiara gak mengharap imbalan apa apa bu ..dan iya bu , Tiara di sini bukannya tidak mendapatkan apa apa..tapi banyak yang Tiara sudah dapatkan di sini.. diantaranya adalah iklhas dan rasa bersyukur.. Tiara menjadi lebih iklhas menerima takdir Tiara bu..dan Tiara juga bisa bersyukur, ternyata hidup ini jauh lebih indah dari apa yang Tiara bayangkan selama ini..dulu Tiara merasa hidup Tiara bukanlah hidup tapi hanya permainan takdir..sungguh Tiara menyesal telah berpikiran seperti itu.." ucap Tiara sambil menunduk dan buliran air matanya jatuh deras tanpa aba aba.
" Tiara..." Bu Minah memeluk hangat Tiara yang menangis tersedu sedu.
" iya ,sayang kita tidak boleh berpikiran seperti itu, kita harus tetap berpikiran baik dengan rencana Alloh..karena apa yang Alloh rencanakan pasti itu yang terbaik untuk kita.. karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh, dan sebaliknya yang tidak baik menurut kita belum tentu tidak baik menurut Dia sang pemilik segalaNya.
__ADS_1
Tiara pun mengangguk dan menyeka air matanya..