Cinta Dokter Tiara

Cinta Dokter Tiara
Chapter 52


__ADS_3

Sore menjelang malam di rumah Al Faish


Fahri duduk di teras depan rumah nya ..


" kenapa sih bayangan Felicia tak mau pergi dari pikiranku..." gumam nya sembari mengacak rambutnya sendiri dengan kasar.


Umi berjalan ke arah putra kesayangannya.


dan duduk di samping Fahri.


"sayang kamu kenapa sih?? ada masalah cerita dong sama Umi " sapa Tiara yang membuat Fahri tersentak.


" eh Umi ngagetin Fahri saja , sudah lama Umi di sini" tanya Fahri.


"astaghfirullahaladzim , ngelamunin apa sih putra Umi sampai kedatangan Umi saja tidak disadarinya...hhh... anak muda itu jangan banyak melamun.. nggak baik tahu" jawab Tiara.


Fahri mendengus menghembuskan nafas panjang.


" yakin Umi mau bantu Fahri, Umi nggak akan marah " tanya Fahri.


Tiara terkejut dan semakin penasaran dengan masalah putranya.


"emang kenapa sih sayang, ayo ceritakan sama Umi.."jawab Tiara.


"Fahri suka sama seorang gadis mi ???" jawab hari.


Tiara tersenyum.


" terus masalahnya, hanya suka kan.. Ya normal dong kalau putra Umi suka sama seorang gadis.." jawab Tiara.


" emang Fahri boleh pacaran umi..." tanya Fahri.


" Tiara menggeleng "


" tuh... kan..ini masalah nya..." jawab Fahri mendengus kesal.


Tiara mendekat dan bersabdar di pundak putranya yang ganteng...


" kalau kamu sudah manteb sama dia , boleh umi dan abah datang ke orang tuanya dan melamarnya untukmu sayang??" tanya umi sambil tersenyum dan tetap bersandar di pundak Fahri.


Fahri melotot.


" ya jangan secepat itu juga umi, Fahri masih muda masih banyak yang pengen Fahri kejar... Fahri juga pengen menjadi Dokter seperti umi..." jawab Fahri.


Tiara mengangkat kepalanya dan menatap Fahri.


Dengan senyumnya yang meneduhkan , Tiara membelai rambut Fahri..


" kalau begitu, sukalah padanya sebagai teman, biarkan jodoh yang menentukan takdirnya sendiri...jangan terlalu dalam Fahri, bisa bisa kamu terluka.." jawab Tiara.


Fahri menatap ke uminya..


" umi , kenapa umi berkaca kaca..??" tanya Fahri lembut sambil menggenggam tangan uminya..


Tiara pun mengusap matanya.


"Umi pernah terluka karena menaruh hati Umi ke tempat yang salah... udah tahu kami berbeda tapi Umi tetap mencintainya bahkan terlalu dalam.. kesalahan Umi adalah terlalu mencintainya bukan cintanya yang salah tapi Umi yang terlalu bodoh.. keyakinan kami berbeda sehingga tak ada restu dari masing-masing keluarga ..kami pun berpisah dengan terpaksa sampai akhirnya umi menerima abah kamu..


tapi sekarang semua sudah berlalu ,Umi sekarang sudah bahagia dan Umi tidak ingin kamu mengalami seperti yang umi rasakan.


kamu harus bisa menempatkan hati kamu, jangan terlalu dalam mencintai seseorang, biarkanlah jodoh yang menentukan sendiri jalannya..." ucap Tiara.


Fahri hanya terdiam , menatap uminya dengan dalam...


"tapi Umi sekarang bahagiakan bersama abah..."tanya Fahri sambil menggenggam lembut tangan uminya.


Tiara tersenyum" Ya pasti dong Sayang Umi sudah bisa menerima semuanya , Umi ikhlaskan semuanya ..semua adalah takdir Allah kita harus ikhlas baru kita akan bisa bahagia..."jawab Tiara dengan tersenyum.

__ADS_1


Raihan yang dari tadi mendengarkan pun ikut tersenyum..


Raihan berjalan ke arah keduanya.


Fahri dan Tiara tersentak dengan kehadiran Raihan.


"Ray udah lama kamu di sini??" tanya Tiara.


"dari subuh hahaha Ya nggak dong sayang , baru saja ke sini.. kalian ngobrol apa sih serius amat " tanya Raihan pura-pura.


Tiara tersenyum dan meraih tangan Raihan dan menggenggamnya lembut.


"kamu tahu sayang putra kita ternyata sudah dewasa..." ucap Tiara yang membuat raihan tersenyum.


Dan semua pun ikut tersenyum ,Mereka pun bahagia bercanda bersama.


dret.....🎵🎵🎵


ponsel Fahri berdering..


"maaf abah Umi Fahri angkat telepon dulu ya..." ucap Fahri sambil berlari ke kamarnya.


Abah dan uminya hanya menggeleng Dan tersenyum.


***


deg deg


Jantung Fahri terasa tidak aman..melihat foto profil dalam panggilan suara yang masuk



" assalamualaikum"


(waalaikumsalam)


(ehm...enggak , cuma pengen dengerin suara kamu aja Fahri...)


deg deg


" ehm..begitu ya.. ternyata kamu satu langkah dariku Fel, kamu berani menghubungiku ..."


( hhh...ok ok kalau kamu gak suka aku telp kamu ya udah bye...aku gak akan telp kamu lagi )


sambungan pun terputus.


"Fel.. Fel..kok dimatiin sih...masa gitu aja marah sensi amat sih..." gumam Fahri heran.


kemudian Fahri mencoba menghubunginya lagi..


" kok dimatiin sih emang aku salah bicaranya"


( ehm...kamu selalu begitu Fahri, kapan sih kamu bersikap manis dan lembut , selalu saja pedas bicara nya... oiya Fahri aku mau tanya sekali saja dan tak akan mengulanginya lagi ,kemarin kamu beneran...bilang sayang sama aku...)


Fahri tersenyum dan menarik nafas panjang.


" harus ya aku menjawabnya.. Kamu sih nggak nyimak apa yang aku katakan sekarang aku udah lupa tuh apa yang aku katakan kemarin .."


( tuh kan... auah...capek aku ngomong sama kamu, bukan hanya hatiku yang capek tapi juga otak dan pikiranku..bisa bisa beneran gila aku..)


" kok sewot sih...gitu aja ngambek...emang iya cewek kalau jatuh cinta bawaannya marah marah mulu...apa begitu cara mengungkapkan perasaannya.."


( Fahri.....kamu tuh bener bener ya bikin aku kesel..)


" tu kan , cuma ditanya begitu aja bawaannya udah marah marah...lagi dapet ya non..hahaaaa"


(beneran ya nyesel aku tadi telp kamu, kirain telp sama kamu bisa mengobati kerinduanku , ternyata hanya akan membuat tensiku naik...)

__ADS_1


" ehm...kamu beneran rindu sama aku..??? tunggu gak usah jawab, aku sudah tau...aku pun juga merindukanmu..."


( tuh kan.. bisa juga akhirnya kamu serius...)


" kamu maunya aku serius ke kamu , kalau sekarang aku melamar kamu gimana "


deg deg ( giliran jantung Felicia yang gak aman seperti mau lepas dari tempatnya...)


( kamu nih ya jangan terburu buru dong , kita aja belum resmi pacaran iya kan...)


" ehm...emang penting pacaran..."


(maksut kamu apa sih Fahri)


" ya menurutku gak penting kita pacaran, asal kita sama sama tau kalau kita saling mencintai dan menyayangi...kita pacarannya nanti aja kalau dah nikah..."


(jadi maksut kamu, kita gak usah pacaran)


" iya, kita gak perlu pacaran...kita jaga hati kita masing masing , sampai waktunya tiba ,aku dan keluargaku akan datang ke rumahmu untuk meminangmu..."


( terserah kamu Fahri, tapi gak sekarang kan, aku belum siap , aku masih mau lulus kuliah dulu dan menjadi dokter spesialis seperti papaku...)


" iya nanti lah, aku pun juga ingin menjadi dokter psikiater dulu, aku mau kita sama sama lulus dan mencapai cita-cita kita...kita jaga hati kita dan biarkan jodoh yang menentukannya..."


( baik lah Fahri...)


" sebelum kamu tutup telponnya, boleh aku katakan sesuatu..."


( ehem silahkan)


" Fel,aku sayang kamu"


( ehm...aku juga sayang kamu Fahri)


" gitu doang "


(emangnya aku harus bicara apa lagi Fahri al faish..)


" ok , gak sih...cuma itu saja...baiklah aku tutup telponnya ya..."


(tunggu tunggu Fahri...)


" ada apa lagi sih , masih kangen ya..."


(ye...gak juga kali...ehm...besok di kampus bisa gak kita bersikap biasa saja, seperti biasa , seperti tidak terjadi apa apa... aduhhh gimana ya...ngomongnya..)


" maksud kamu kita berantem lagi , lho kita kan udah berdamai..."


( ya ... maksutku gak gitu...ya gak berantem juga kali...ya kita bersikap seolah olah kita gak ada hubungan , gak ada perasaan gitu..)


" ya ...biasanya kita kan berantem "


( aduh...{mulai emosi} kamu nih Fahri bisa gak sekali saja gak bikin emosi...ok ok kalau begitu besok kita berantem lagi...kesel aku...)


" hahaha.. paling seneng aku lihat kamu emosi, pasti mukamu sekarang sudah merah merona..."


( fahriiiii...)


" ok ok, aku paham kok...ya udah jangan marah lagi dong....gak cantik tau..


baiklah aku tutup ya telponnya..bye... selamat malam..."


( ok.. selamat malam)


dan sambungan telepon pun berakhir.


Di dalam kamar mereka masing-masing mereka merebahkan diri di atas ranjang nya dengan tersenyum bahagia, saling membayangkan satu sama lain dan saling merasakan kerinduan ... baik Fahri ataupun Felicia mereka sama-sama sedang jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2