Cinta Dokter Tiara

Cinta Dokter Tiara
Chapter 45


__ADS_3

Fahri duduk di kursi belakang sebuah cafe dengan laptopnya...ada dua orang temannya yang datang dan mereka pun ngobrol bersama.. mereka adalah Rafi dan Calvin.


" lo sibuk bikin apa sih bro..." tanya Calvin.


" ini gue lagi mendesain sebuah dekorasi untuk acara besok ...ini coba bagus nggak..." ucap Fahri sambil menyodorkan laptopnya untuk dilihat sahabatnya.


Calvin dan Rafi pun tersenyum dan mengakui kehebatan dan kreatifnya Fahri.


" lo jago desain Fahri, kok lo gak ambil jurusan desain aja sih , ngapain lo ngambil psikolog..." tanya Rafi heran.


" ya gue suka aja dengan dunia psikolog dan ilmu kedokteran, gue pikir dengan kemampuan gue mengolah pikiran pikiran seseorang bisa menyelamatkannya dari keterpurukan..selain itu gue juga mau mengenalkan kebesaran tuhan kepada mereka yang mungkin putus asa dan tak lagi mempercayai adanya Tuhan... dengan begitu aku bisa masuk dalam pikiran mereka , dan menunjukkan betapa berharganya diri kita..." ucap Fahri.


" kadang gue gak ngerti deh Fahri dengan jalan pikiran lo, lo cerdas dan lo pasti bisa masuk di Al Azhar dan terusin pesantren abah lo...kalau gak gitu lo terusin klinik umi lo, ngapain juga lo ambil psikolog, yang sering kali berhubungan dengan orang orang sakit jiwa dan depresi.." sanggah Calvin sambil meneguk secangkir kopi panas di tangannya.


" justru itu guys...gue mau hidup gue berguna , gue mau sebagai orang yang bermanfaat bagi kehidupan orang lain..


kalian pernah denger orang sholeh berkata bahwa percuma ibadahmu seumur hidup, hartamu sebanyak kerajaan Sulaiman dan jabatanmu setinggi gunung tapi kau tak memberi manfaat sama sekali bagi orang lain, masih lebih baik kau beri makan fakir miskin satu suap dibanding kau bangun seribu masjid megah...dan itu artinya, bahwa memberi manfaat bagi orang lain itu jauh lebih baik ...dan bernilai ibadah yang tinggi di hadapan Alloh SWT...ya bukan berarti yang sekolah tinggi sampai ke mesir gak bermanfaat, semua sama sama manfaat ,tapi gue mau bermanfaat dari sisi yang lain..." ucap Fahri dengan mantab yang membuat kedua sahabatnya termenung dan saling menatap...


" ok, Fahri lo emang benar...gak percuma lo keturunan dari Al Faish ... mudah mudahan niat lo terlaksana dengan baik..." ucap Rafi.


Calvin pun menepuk pundak Fahri dan mengangguk..


" mantab Lo Fahri pikiran lo keren, lo gak mikirin diri sendiri tapi lo mikirin bagaimana membuat orang lain menyadari betapa berharganya hidup ini..." ucap Calvin.

__ADS_1


ketiga sahabat itu tengah asik bercanda ,tiba tiba muncullah beberapa gadis cantik dengan penampilan yang lumayan berkelas..


" eh ..guys tunggu ...lihat mereka, bukannya itu Felicia ya , wau cantik banget..." ucap Rafi.


" iya Raf, hhh...tapi gadis itu sombongnya minta ampun , cantik tapi gue males berurusan dengan mereka..." jawab Calvin.


Fahri menutup laptopnya dan memandangi Felicia dengan senyum miringnya.



ternyata Felicia juga menyadari ada sepasang mata yang dari tadi mengamatinya.


Felicia bukanlah gadis pendiam yang akan d


tertunduk dan malu malu saat seseorang memperhatikannya, justru dia akan mendatanginya dan menekankan betapa tinggi seleranya lalu menghina mereka dengan senyuman nya.


" Fahri, dia ke sini " ucap Rafi.


" aduhhh masalah lagi nih ..." gumam Calvin.


" udah kalian tenang aja , siapa nanti yang akan malu di sini.." jawab Fahri dengan senyuman mautnya.


Felicia telah berdiri di hadapannya...dengan rambut panjang tergerai, wajah manis putih ,bibir merah yang menggoda, baju sedikit terbuka dan senyum hangat yang menipu mata.

__ADS_1


" hai..tuan ..saya perhatikan dari tadi anda memperhatikan saya, apa ada masalah..o...baru lihat wanita cantik...hhh... berhayal saja tuan karena gak mungkin bisa mendapatkan gadis cantik seperti saya...hhh... tunggu tunggu ...bukannya kamu yang kemarin aku tabrak mobilnya ..iya betul... ehm...oya ini aku kasih uang untuk biaya kerusakan mobilmu..." ucap Felicia sambil menaruh beberapa lembar uang seratus ribuan di atas meja di depan Fahri yang masih duduk dengan tenang di kursinya.


" nona Felicia Rian Wijaya siapa sih yang gak tau kehebatan Dokter Rian Wijaya, tapi sayang beliau yang hebat harus punya masalah karena memiliki putri yang seperti ini...dan tak punya malu...".. ucap Fahri masih dengan senyumnya.


Felicia mengerutkan alisnya dan mengepalkan tangannya.


Dia menunjuk ke arah muka Fahri yang santai masih dengan senyum smricknya.


" kau, berani beraninya kau bilang seperti itu..." gertak Felicia dengan emosi.


" nona Felicia , turunkan tanganmu , turunkan juga pandanganmu..jaga sikapmu...percuma kau cantik kalau kau tak memiliki adab..." ucap Fahri.


" ok ok ..Tuan tuan sekalian.. baiklah..tapi ingat akan aku balas nanti....permisi...!!! " ketus Felicia sambil melangkah pergi meninggalkan mereka dengan kesal.


" hei..nona , uangmu ketinggalan..." teriak Rafi.


" ambil saja..." jawab Felicia dengan kesal.


" mas, sini mas...ini ada rejeki kalian bagi , lumayan..." ucap Fahri ..sambil menunjukkan uang yang berada di atas meja.


" tapi ini terlalu banyak mas..." ucap mas mas pelayan cafe.


Fahri mengangguk dan memberikan kode untuk ambil saja semua.

__ADS_1


Felicia yang melihatnya pun melongo dan heran dengan tu cowok.


" gue harus bisa balas penghinaan ini...gue gak terima...hhh....dia sudah mencoreng mukaku di depan semua pengunjung cafe...ihhhh...kesel...kesellll...awas aja pokoknya.." gumam Felicia dengan kesal.


__ADS_2