Cinta Dokter Tiara

Cinta Dokter Tiara
Chapter 38


__ADS_3

Ibu tetap menangis di dalam kamarnya setelah pemakaman sang suami tercinta..


orang yang selama ini mendampinginya dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang.


Tapi hidup adalah perjalanan yang suatu saat pasti akan sampai di tempat tujuan.


" ibu, kuatkan hati ibu, iklhas kan kepergian bapak... sekarang bapak sudah bahagia di sisi sang pemilik semesta.." ucap Tiara sambil memeluk hangat ibunya.


Rama pun datang ,begitu juga Farel yang baru saja tiba dari pesantren bersama keluarga Raihan,umi dan abahnya.


mereka berdua bersimpuh dihadapan ibunya dengan memegangi kedua tangan ibu yang masih diselimuti duka karena kehilangan pendamping hidup yang setia.


" Bu, Farel dan kak Rama akan menjaga ibu, ibu jangan menangis lagi ya...kami semua sayang ibu..." ucap Farel dengan mata berkaca kaca.


" iya bu, Rama juga akan menjaga amanah bapak untuk melindungi ibu dan Farel..." ucap Rama...


suasana masih berduka , semua orang sudah pergi meinggalkan rumah ibu Tiara, begitu juga umi dan abahnya Raihan mereka pulang ke kota.


Tiara , Raihan dan Farel duduk di ruang tamu...


Rama menghampiri kakak nya.


" kak, kalau Rama kuliah , Farel di pesantren,kak Tiara bersama kak Raihan di kota trus ibu gimana kak... Rama gak tega kalau ibu harus di sini sendirian..apa Rama pindah saja kuliah di sini ya kak yang dekat dengan daerah sini agar bisa tiap hari pulang ke rumah.." ucap Rama.


" dek, jangan dong... kamu gak boleh pindah dari sana apa lagi sampai putus kuliah...mengenai ibu, biar kakak aja yang ada di sini.." ucap Tiara.


" kakak bukannya melanjutkan S2 ya di kota, kak Raihan juga ngajar di pesantren di sana, trus gimana..." tanya Rama.


" ya biar Farrell aja yang tinggal di sini.."


" ehhh... kamu nih, kamu tuh tetap di pesantren, jangan ambil kesempatan.." ucap Rama sambil menimpuk kepala adeknya.


"aduhh ,kakak nih ah sakit tau..." ketus Farrel.


" ya udah sekarang, kalian fokus dengan pendidikan kalian, masa depan kalian, untuk ibu bagaimana nanti yang tinggal di sini , kak Raihan dan kak Tiara yang akan urus semua.." ucap Raihan memberi solusi.


Mereka semua pun tersenyum dan setuju dengan solusi dari Raihan, untuk saat ini yang penting adek adek fokus dengan sekolah.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Sudah seminggu semenjak kepergian bapak... tapi Tiara dan Raihan masih belum bisa mengambil keputusan harus bagaimana, apakah harus berhenti kuliah atau ibu di bawa ke kota...


Rama dan Farrel sudah kembali ke tempat belajar nya masing masing.


"Tiara, lebih baik ibu kita bawa saja ke kota, kita akan menempati rumah abah yang ada di dekat ruko.." ucap Raihan.


" tapi Rai apa ibu bersedia..." sanggah Tiara.


" kita coba saja dulu...kamu tanyakan gi...kalau ibu bersedia secepatnya kita pulang ke sana..untuk kebun tebu dan sawah kita serahkan atau disewakan saja atau kita pasrahkan saja kepada paman dan bibi kamu di sini.. untuk mengolahnya dan bagi hasil... " ucap Raihan sambil mencolek pipi mulus Tiara.


" tapi apa kamu gak keberatan ibu tinggal bersama kita...kita kan... aduh...gimana ngomongnya ya ..." tanya Tiara keceplosan dan menunduk karena sangatlah malu.


Raihan menatap wajah istrinya yang menggemaskan, dia dekatkan wajahnya, sampai sampai Tiara terpejam merasakan hembusan nafas Raihan.


" iya kita pengantin baru kan, aku tau kamu sudah siap memenuhi kewajibanmu..tapi masalahnya waktunya masih belum memungkinkan sayang...kita masih dalam suasana berduka..." bisik Raihan sambil mengecup leher jenjang Tiara dan memberikan tanda merah kepemilikan di sana.


Tiara terperanjat dan melotot kemudian mendorong tubuh Raihan hingga tersungkur


di meja yang berada tepat di belakangnya.


" ish...apa yang kamu lakukan , Raihan..." Tiara terlihat panik dan berlari ke kamarnya.


Sedangkan Raihan hanya terkekeh.


Ibu yang dari tadi melihatnya pun hanya tersenyum.. seakan menjadi obat untuk dukanya karena kepergian suami tercinta.


Raihan melihat ke arah ibu yang sudah terlihat lebih baik kemudian mendekatinya.


" ibu ..ibu sudah lebih baik kan sekarang...ibu lihatkan anak anak ibu , kami masih tetap membutuhkan ibu, jadi ibu tetap sehat ya ..


demi kami bu...ibu mau kan segera menimang cucu..." tanya Raihan sambil senyum senyum sendiri.


" iya nak, terimakasih sudah berada di samping Tiara ..." jawab ibu dengan senyum manisnya.


Setelah berbicara sebentar dengan ibu, Raihan teringat dengan istrinya yang sudah ke kamar duluan.


ceklekkkk..


bruaks...satu lemparan bantal tepat mengenai muka Raihan.

__ADS_1


" aduhhh...apa apaan sih ini...sayang ..!!! apa yang kamu lakukan...???" tanya Raihan sambil berjalan mendekati Tiara yang merengut di sudut ranjangnya..


"hei ..kamu kenapa..." tanya Raihan.


Tiara tak menjawab dan hanya menatapnya dengan tajam.


" kenapa sih .. masih mau dicium lagi, atau mau minta lebih.. mau lanjut ya, sini ayo..."


" ihhhh...." Tiara mendorong tubuh Raihan.


Raihan terkekeh dan tersenyum puas bisa menggoda istrinya...


Tiara menyibakkan rambutnya dan memperlihatkan tanda merah di leher jenjangnya kepada Raihan.


" lihat..." ucap Tiara melotot.


" lihat apa ? kenapa memangnya kita kan udah halal.." timpal Raihan dengan senyum semrick nya.


" iya, tapi ya gak di sini juga kali, ini besok aku keluar kamar ketemu ibu gimana.. malu kan..ishh...gimana dong" rengek Tiara yang semakin membuat Raihan gemas.


Raihan segera duduk dan dengan cepat menyambar tubuh istrinya...


" atau kamu ingin aku membuatnya di tempat lain... " mereka saling bertatapan, sejenak namun sangatlah dalam.


Raihan menjatuhkan tubuh Tiara dan mencium hangat keningnya...


" sudah sekarang kamu tidur, besok di kota saja di rumah kita sendiri kita lanjutkan.." bisik Raihan kemudian merebahkan tubuhnya di samping Tiara sambil memeluknya dengan hangat.


Dan tak lama kemudian mereka pun tertidur dengan lelapnya..mungkin karena kelelahan setelah berkerja seharian membersihkan rumah dan mengontrol pekerjaan para petaninya di sawah dan perkebunan tebu milik sang bapak .


Sedangkan ibunya masih terjaga di dalam kamarnya.


Ibu nampak berpikir antara rela dan tidak kalau harus meninggalkan rumah ini.


Tiara atau pun Raihan memang belum bicara tapi ibu mendengar percakapan mereka tadi untuk membawa ibu ke kota tinggal bersama mereka.


Karena di rumah ini lah tersimpan banyak kenangan baik suka maupun duka ,sedih ataupun bahagia...rumah ini juga menjadi saksi perjalanan dan perjuangan membesarkan anak anak mereka.


Di rumah ini pula kenangan terakhir bersama suami tercinta.

__ADS_1


" sepertinya aku gak akan pergi dari sini , aku akan membawa kerabatku untuk tinggal di sini menemaniku...atau aku meminta kepada bu Ranti untuk pindah ke sini saja ya..bukanya sebentar lagi panti asuhan mereka di gusur...toh rumah ini sangatlah luas cukuplah untuk mereka semua, kamarnya juga ada banyak...trus ada bangunan kosong juga di sebelah...ah..coba deh besok aku bicara sama Tiara dan Raihan.."gumam ibu .


Malam semakin larut, ibu mencoba memejamkan matanya agar bisa terlelap dan besok bangun tidak kesiangan...


__ADS_2