Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 10 Terpaksa menerima tawaran


__ADS_3

"Dimana dia Riko? " tanya Arfan sesampainya di sebuah ruangan.


"Mungkin Seina masih berada di kamar mandi pak. " balas Riko kepada atasannya.


Arfan memperhatikan sekitar ruangan. Ketika itu matanya tidak sengaja melirik kearah pojok, terlihat sosok wanita tertidur dengan posisi duduk, sedangkan wajahnya bersandar di atas meja dengan dipangku kedua tangannya.


Kenapa dia bisa tertidur disini?, apa aku membuatnya terlalu lama menunggu?, tanya Arfan di dalam hati.


"Seina," Panggil Riko dengan halus, ntuk membangunkan Seina yang berada didekatnya saat ini.


Seina terlihat masih tidur pulas, sebenarnya mereka berdua kasihan juga jika membangunkannya. Tetapi sekarang sudah malam pukul tujuh.


Setelah melakukan upaya dari Riko, Seina akhirnya terbangun, dia terperanjat kaget ketika tahu ada dua pria didekatnya.


Seina terlihat malu dan salah tingkah sendiri mengetahui dia tertidur tadi, apa dia mendengkur dan ngiler tadi?, itu pertanyaan yang ada dibenaknya. Sudah pasti jawabannya iya, bahkan jika di timbang pasti sudah mencapai seperempat liter.


"Silakan bersihkan diri kamu dulu! " perintah Arfan pada Seina.


"Baik Pak." seperti biasa itu saja yang terucap.


Setelah selesai membersihkan diri, lalu Seina keluar dan berpamitan kepada bosnya itu.


"Pak kalau begitu saya permisi dulu, saya akan pulang sekarang, mari pak." pamit Seina.


"Apa kamu lupa, kamu belum menyelesaikan tugasmu? " cegah Arfan yang mengharuskan Seina berhenti melangkah.


"Silakan ikut ke ruangan saya sekarang! " titah Arfan.

__ADS_1


"Baik Pak. " kemudian mengikuti langkah Arfan dan Riko.


Seina sampai lupa dengan hal itu, dia akan di tes bosnya mengenai materi yang diberikan tadi siang oleh pak Riko.


"Sekarang duduklah! " perintah itu segera dilakukan Seina.


"Langsung saja karena ini sudah larut, saya cukup memberikan satu pertanyaan untuk kamu. Karena kamu telah membaca materi tadi, bagaimana menurut kamu mengenai materi tadi?, berikan alasan beserta kritik dan saranmu Seina! " pertanyaan Arfan dilontarkan untuk Seina.


"Menurut saya tentang materi tadi adalah.... " Seina otaknya masih ngebug karena baru bangun tidur.


"E... e menurut saya laporan tadi sudah baik pak, hanya saja terkait pemasaran seharusnya bukan untung saja yang diutamakan tapi juga pemerataan konsumen juga diperlukan. Di situ terlihat hanya ditujukan kepada kaum elit saja, bagaimana jika kaum biasa ingin membeli?, kita harus menyesuaikan kepuasan pembeli baik dari segi harga dan juga kualitas. Semua orang berhak menginginkannya. Bagaimana jika kita memproduksi baru khusus untuk rakyat biasa, tetapi masih dengan kualitas bagus, dan juga dengan harga terjangkau. Untuk memperhitungkan untung rugi, kita bisa mengurangi volume atau juga bisa mengurangi ornamen-ornamennya, yang terpenting keaslian masih bisa dirasakan. Sedangkan untuk harga, kita bisa memberi setengah dari harga jual kepada kaum elit. Dengan begitu pemasaran akan merata ke seluruh wilayah, dan semakin banyak yang mengenal hasil produksi kita. Dan kita tidak ada yang tahu, mungkin bisa saja, suatu saat kaum biasa berubah menjadi kaum elit di masa yang akan datang. Yang terpenting kita harus mendapatkan banyak member. Dan supaya kekhawatiran tidak ada, kita bisa mencoba dengan 20% dulu terhadap kaum biasa, lalu 80% untuk kaum elit. Jika hasilnya maksimal, kita bisa buat fifty- fifty."Jelas Seina panjang lebar.


Arfan dan Riko mendengarkan apa yang dikatakan Seina dan memahaminya dengan manggut-manggut.


"Oke sekarang sudah selesai, kamu boleh pulang! " perintah Arfan, setelah tugas Seina dianggap sudah selesai.


Seina dalam hatinya kegirangan segera angkat kaki dari ruangan itu. Belum sempat memegang kenop pintu, pintu tiba-tiba terbuka lebar.


Oma Arfan tiba-tiba datang. Dia terlihat pucat wajahnya, dan sekarang Seina masih mematung melihat seorang nenek berpakaian rumah sakit berada di depannya.


"Oma, kenapa oma berada di sini?, dengan siapa oma ke sini?, seharusnya oma masih harus istirahat di rumah sakit kan." Arfan bertanya dengan masih memasang ekspresi kaget, dengan melihat kondisi omanya seperti itu.


"Oma bersamaku kak, oma memaksaku untuk mengantarkan ke sini untuk menemuimu." seseorang mulai masuk dari luar.


Kakak, dia kakaknya?, bagaimana bisa aku bertemu Arkan sedekat ini. Jadi pak Arfan adalah kakaknya Arkan???


Merasa terintimidasi dengan datangnya Arkan didepannya.

__ADS_1


Oma minta kamu segera membawa calon kamu dan langsung menikah saja. Karena oma khawatir kamu belum menikah terlanjur oma sudah tiada. Oma mohon sama kamu Arfan. Maafkan oma jika harus memaksa, ini semua demi kebaikan kamu juga. Besok oma sudah mempersiapkan pernikahan kamu, sekarang beritahu calon istrimu jika dia akan engkau nikahi besok juga. Oma hanya memberitahu itu saja, oma tidak menerima penolakan. Sekarang oma akan kembali ke rumah sakit."oma kemudian pergi begitu saja, setelah memberikan perintah berat itu kepada Arfan.


Setelah Arkan dan oma pergi, Seina segera menyusul untuk keluar dari ruangan itu.


Belum mencapai tiga langkah tiba-tiba Arfan memanggil namanya.


" Seina. "deg, itu membuat hati Arfan dan Seina saling berdetak, karena satu hal yang dipikirkan Arfan dan lain hal yang dipikirkan Seina.


"Ada apa ya pak? "tanya Seina yang jantungnya berdetak, takut jika diberikan tugas lagi saat ini.


" Saya memiliki penawaran untuk kamu, tadi pasti kamu sudah mendengar semua yang dikatakan oleh oma. Saya sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari wanita lain, saya pikir kamu bisa menjadi wanita itu, maksudnya kamu menjadi istri pura-pura saya. Besok kamu menikah dengan saya dihadapan oma, tapi ini hanya pura-pura dan ada kontrak didalamnya. "Langsung pada intinya Arfan berbicara.


"Sebaiknya saya akan buatkan surat perjanjian itu pak. " ucap Riko menyela balasan dari Seina.


Seina yang mendengar pun sangat shock, bagaimana bisa di hari kedua dia masuk harus menerima tugas seperti itu.


"Saya berjanji pernikahan kita hanya berjalan 6 bulan saja. Pernikahan ini akan diselenggarakan secara tertutup. Hanya kamu harapan saya, saya minta kamu bisa menerima kontrak ini." pinta Arfan.


"Baiklah pak, sa.. ya bersedia, tapi saya bingung harus melakukan apa? " Seina yang gugup menjawab dengan terbata-bata.


"Kamu tidak perlu bingung, semua akan saya persiapkan. Tapi kamu harus mencari baju pengantin dulu, ayo ikut saya, kita pergi sekarang!" mengajak Seina dan Riko mengikuti dibelakangnya.


Krukkk.. krukkk.. krukkkkkk..


Suara perut yang mengganggu wanita ini, Arfan yang berada di sampingnya mendengar itu. Arfan lalu meminta Riko untuk membelokkan mobilnya di sebuah restoran. Seina yang tak enak hati segera menolak, tapi upayanya tidak berhasil.


Tadi sore aku kan sudah makan bakso ya, apa karena aku terlalu banyak berpikir, sehingga aku cepat lapar.

__ADS_1


Batin Seina di dalam hatinya, yang bercampur aduk menjadi satu saat ini.


Riko ikut juga di antara meja makan itu. Arfan dan Riko tidak sengaja menatap Seina ketika makan dengan sangat lahap, seperti belum pernah makan seharian. Sementara Seina sibuk dengan makanannya, dan tidak mempedulikan kedua orang itu yang melihatnya. Ia berusaha menghilangkan rasa khawatirnya, untuk besok dengan menikmati makanan yang ada didepannya. Dia hari ini hebat, otaknya bekerja ketika di tes pak Arfan tadi, tetapi selanjutnya ia harus menerima nasib baru lagi. Ia harus terpaksa menerima tawaran yang gila ini menurutnya. Dia bisa saja menolak, tapi dia takut jika menolak, ia pasti akan diberhentikan, dan rencananya pasti akan gagal total.


__ADS_2