
Ranting pohon telah kering dengan masih ada sedikit dedaunan yang menempel. Angin bersorak-sorai menerbangkan dedaunan kuning yang sudah siap jatuh, Tanah yang tandus menyerap datangnya air dengan cepat. Bunga-bunga semakin mengeluh karena kekurangan cairan. Cuaca cerah sekaligus panas di musim kemarau.
"Hari ini panas sekali ya,"
"Iya, aku sampai beberapa kali minum es,"
"Aku juga tadi habis beberapa gelas es,"
"Sein apa kamu tidak bosan di rumah terus?"
"Emmm, ya bosan Ter, apalagi biasanya aku kerja, sudah hampir setahun aku tidak ke kantor, dan hanya hanya di rumah mengurus Reyna."
"Benar Sein, bagaimana kalau kita adakan liburan untuk keluarga,"
Teri sangat antusias mengatakan rencananya.
"Boleh, tapi kita bilang dulu pak Arfan dan Arkan kapan mereka ada jadwal kosong,"
"Ok,"
Dua wanita ini tidak berhenti dari obrolan mengenai rencana yang akan mereka lakukan.
"Bagaimana bagus bukan?"
"Iya Sein,"
"Aku yakin anak-anak pasti akan menyukainya,"
"Jadi sudah kita pastikan untuk pergi ke sana, tinggal menunggu hari yang kosong bagi pak Arfan dan Arkan,"
***
Aku sudah lelah harus over thinking tanpa ada kepastian, apa aku saja yang memulainya, oh tidak dimana harga diriku.
Seorang wanita menggerutu dengan menghadap ke layar laptop. Dia bekerja tapi tak bisa bekerja, karena pikirannya pergi ke jalur lain.
"Duar," Tangan seseorang mengagetkan.
"Hei," Kayla refleks berteriak.
"Ha ha ha," Tertawa karena berhasil membuat temannya kaget.
"Apa sih do, kenapa kamu mengagetkan aku, apa tidak ada pekerjaan," Dengan penuh kekesalan Kayla berkata.
"Siapa suruh melamun tanpa henti, apa sebenarnya yang kamu pikirkan Kay?" Membalas perkataan Kayla.
"Bukan urusan mu, hentikan keingintahuan dirimu itu, lebih baik urusi dirimu sendiri."
Beberapa waktu di saat pertengkaran mereka berdua terjadi, pak Riko menghampiri mereka berdua.
"Apa saya boleh mengatakan sesuatu?"
Kayla dan Edo yang mengetahui kedatangan Pak Riko segera berhenti, karena sebelumnya mereka berdua tiada henti mengoceh dan menunjukkan kekesalan.
"Eh pak Riko, iya Pak silakan," Ucap Kayla.
"Shutt," Memberi isyarat kepada Edo agar bisa bersikap lebih tenang.
"Saya hanya ingin mengatakan, jangan lupa dengan peraturan saat bekerja di kantor ini, tiada kebisingan selain waktu darurat tertentu." Berkata dengan tegas.
__ADS_1
"Iya Pak saya minta maaf," Kayla pertama yang meminta maaf lalu dilanjutkan Edo.
"Oke kalian saya maafkan, tapi lain kali lebih menjaga sikap lagi, terimakasih."
Edo dan Kayla menatap kepergian pak Riko dengan wajah yang masih sedikit tegang.
Setelah itu mereka berdua diam tak berani mengeluarkan suara lagi. Kayla juga sudah mulai fokus dengan pekerjaannya lagi.
***
"Aduh,"
Seorang wanita kumuh yang tidak sengaja lewat menyerempet tubuh Resa.
"Dasar pemulung, kalau jalan itu hati-hati, lihat bajuku kotor karena sampah mu itu,"
Dengan penuh ketakutan wanita itu memelas meminta maaf kepada Resa. " Maaf non saya tidak sengaja, saya tadi tidak melihat jika jarak saya begitu dekat dengan nona." Ucap wanita itu.
"Aku tidak mau tau, tolong ganti rugi sekarang, kamu telah membuang waktu dan uangku, cepat mana," Meminta dengan memaksa.
"Saya tidak memiliki uang non," Balas wanita itu.
"O jadi begitu ya, oke kalau begitu akan saya laporkan kamu kepada polisi,"
"Jangan non jangan saya mohon,"
"Aku tidak punya rasa kasihan lagi dengan air mata palsu mu itu,"
"Tapi saya tidak sengaja tadi, saya mohon jangan laporkan saya ke polisi," Berlutut di depan Resa.
Resa mengulas senyum, merasa puas ketika dalam keadaan seperti itu.
Kenapa wanita itu sampai berlutut, apa kesalahannya,
"Sudah hentikan, kenapa ibu sampai berlutut kepada wanita ini?, bangunlah bu," Ucap wanita itu yang tak lain adalah Seina.
"Saya membuat kesalahan karena telah menyerempet tubuh nona ini," Dengan nada melas ia mengatakan yang sebenarnya.
"Terus apa kerugian terbesarmu, bukankah kamu baik-baik saja, lepaskan ibu ini," Ucap Seina dengan tegas di depan Resa.
"Kamu siapa ikut campur urusanku, tidak perlu mengatur, yang jelas aku ingin memenjarakan ibu karena kelalaiannya membuat waktu dan uangku hilang." Tetap berkutat dengan prinsipnya.
"Berapa kerugiannya akan aku ganti, katakan," Balas Seina.
"Lima juta,"
"Oke akan aku beri cek untukmu,"
Resa hanya berdiam tanpa ada perlawanan.
"Sudah selesai, aku harap kamu tidak mengganggu ibu ini lagi."
"Oke," Mengambil sebuah cek lima juta dari tangan Seina.
Mana mungkin aku mau mempidanakan pemulung itu, buang-buang uang dan waktu saja. Lumayan hari ini dapat lima juta tanpa harus bekerja. Resa berjalan dengan penuh kepuasan.
"Ibu, sekarang ibu sudah aman," Merangkul ibu itu dengan penuh ketulusan.
"Terimakasih nona, saya harus membayar hutang kapan?" Merasa sungkan kepada Seina.
__ADS_1
"Tidak perlu bu, ibu tidak perlu membayar hutang. Oh iya ini ada sedikit uang untuk ibu gunakan mencukupi kebutuhan ibu selama satu bulan. Maaf saya hanya bisa memberi sedikit, cek ini ibu bisa tukarkan di bank." Menyerahkan secarik kertas persegi panjang ukuran mini.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Tuhan aku bertemu dengan seorang peri yang baik hati. Terimakasih non semoga keluarga nona selalu dalam perlindungan-Nya dan selalu harmonis, serta dilancarkan rezekinya." Berterima kasih dengan penuh haru.
"Iya bu sama-sama."
Seina kemudian pamit pergi dan meninggalkan ibu itu sendiri.
Sepuluh juta, banyak sekali, ini bisa ku gunakan lebih dari satu bulan.
***
"Rey rupanya Seina sekarang semakin menjadi, kebaikannya sekarang bertebaran kemana-mana, hingga ke pemulung bahkan."
"Kamu tau darimana?"
"Aku baru saja bertemu dengannya tadi,"
"Apa?" Seolah tak menyangka.
"Iya tadi aku sempat marah dengan wanita pemulung, aku minta ganti rugi karena dia telah menyerempet ku sehingga membuat bajuku kotor, aku menggertak wanita itu untuk memenjarakannya, dan kemudian wanita itu memohon kepadaku, tapi saat momen itu tiba-tiba Seina datang dan membantu wanita itu, bahkan ia membayar ganti ruginya sebesar yang aku minta." Jelas Resa.
"Mmm,"
"Kenapa?"
"Tidak, aku hanya berpikir bahwa kita bisa mengambil kesempatan dari kebaikan Seina untuk misi kita,"
"Maksudnya?"
"Iya, karena adalah orang yang baik, kita akan memanfaatkan kebaikannya untuk mencapai tujuan kita, apa kamu mengerti?"
"Oke, ide bagus, ternyata tidak sia-sia aku bertemu Seina, yang dapat ide pun juga dapat." Tersenyum cerah.
Mereka berdua saling bersulang dengan minuman yang baru saja mereka ambil dari atas meja. Hari itu bukan perayaan kemenangan, tapi perayaan dari ide yang cemerlang menurut mereka.
***
Kluk...
"Astaghfirullah kakiku," Kayla meneribgis kesakitan.
Pak Riko yang melihat Kayla kesakitan segera menghampiri dengan cepat. "Ada apa denganmu?"
"Ini pak, tadi tidak sengaja kakiku keseleo, aduh,"
"One sekarang lebih baik kamu duduk dan luruskan kakimu di sana," Menunjuk ke sofa panjang tanpa sekat.
"Aaaw," Berteriak dengan lantang.
Pak Riko yang mengetahui Kayla tidak mampu berjalan sendirian, segera membantunya dengan mengalungkan tangan Kayla ke leher pak Riko menyamping.
"Terimakasih pak, karena telah membantu saya," Menatap pak Riko yang sedang membantu mengoleskan cream untuk khusus cidera otot.
"Iya, nanti pulang bersama saya saja,"
Kayla kemudian merespon dengan hanya mengangguk saja.
Sore itu banyak momen tak terduga dari mereka berdua, yang satu perhatian dan yang satu merasa kagum. Perasaan mereka berdua memang tidak terungkap dari perkataan, tapi dapat dilihat dari mata mereka yang terlihat berbicara.
__ADS_1