
Di seberang jalan terlihat wanita sedang menunggu orang lain.
Dimana dia?, kenapa belum juga datang. Aku akan menunggu di taman saja, agar aku bisa sambil duduk. Wanita itu berada di berseberangan dalam jalan itu. Ia berjalan menatap ke depan bersama kaki jenjangnya, bak seorang model.
Setelah beberapa menit orang yang ditunggu akhirnya datang.
"Hai lama sekali kamu?" tanya wanita itu kepada seseorang yang baru saja datang.
"Maaf ya sayang, aku tadi masih ada urusan penting." jawab orang itu.
"Oh jadi aku tidak penting?" tambah wanita itu.
Mereka berdua masih melanjutkan pertempuran kecil. Mulut mereka saling menyahut satu sama lain. Setelah beberapa menit, mereka akhirnya menyerah. Mereka sekarang sudah berdamai.
" Sudahlah sayang, lebih baik kita pergi sekarang." kata seorang pria.
Wanita itu pun mengikuti kemauan sang pria. Mereka kemudian lanjut pergi ke suatu tempat.
***
Di rumah dirgantara
"Ter, apa kamu sudah menyiapkan seragam untuk acara pernikahan nanti?" tanya Arfan.
Teri terlihat tidak begitu semangat membahas pernikahan ini. " Sudah kak."
" Oke bagus, berarti sekarang tinggal aku dan Resa yang akan mencari baju kami." balas Arfan.
Arfan kemudian pergi keluar. Tiba-tiba Alea merengek menghentikannya. " Paman Alea ikut." dengan suara manjanya.
"Tidak sayang, paman mau ada urusan. Nanti kalau paman sudah pulang, paman janji akan mengajak kamu bermain lagi seperti tadi."
Arfan adalah seorang pria yang baik dan idaman. Ia sangat menyukai anak-anak. Ia sangat menyayangi Alea. Mungkin itu karena kebiasaannya dari dulu harus menjaga adiknya. Tapi memang Arfan ini baik tidak hanya kepada keluarga saja, melainkan kepada orang lain pun juga.
Sudah berbagai cara Arfan membujuk Alea, tapi tidak mempan. Alea merengek dan menangis terus. Akhirnya Arfan terpaksa harus membawa Alea pergi bersamanya.
"Yeeeee." Alea benar-benar sangat bergembira dan bersemangat.
*** Di mobil
" Apa kita akan menemui kak Seina paman?"
"Tidak sayang, kita akan bertemu dengan kak Resa."
"Tidak, aku maunya bertemu kak Seina."
"Jangan begitu Alea, kak Seina mungkin hari ini ada acara. Kita jangan mengganggunya." ucap Arfan.
Hari ini memang hari minggu. Mungkin Seina akan menghabiskan waktu liburnya untuk beristirahat atau pergi untuk healing. Itulah pikiran yang ada di kepala Arfan.
Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, mobil itu akhirnya sampai.
Itu bukan seorang pria dan anak kecil yang berada di dalam mobil. Ternyata itu adalah Resa. Ia bersama seorang pria di sampingnya. Resa sebelum turun memberikan ciuman bibir dengan pria itu. Lalu Resa kemudian turun. Ia berjalan menuju sebuah butik besar.
__ADS_1
Sementara dari arah lain di susul sebuah mobil yang berhenti tepat di depan butik. Mobil itu berisi seorang pria dan seorang anak kecil.
Pria itu menempelkan ponsel ke telinganya.
"Apa kamu sudah sampai?"
"Oke aku segera masuk."
Pria itu sepertinya sedang menelepon seseorang. Dan membuat sebuah janji. Pria yang membawa anak kecil itu mulai memasuki butik. Semua orang menyambutnya bak artis. Iya, pria itu memang sangat terkenal. Pria itu adalah Arfan dan seorang anak yaitu Alea. Pantas banyak karyawan butik yang mengenalnya.
Arfan sambil menyapa beberapa karyawan, ia juga mencari seseorang. Maniknya lalu menuju pada seseorang. Orang itu adalah yang ia cari. Segera Arfan menghampiri.
"Apa kamu sudah lama menungguku?" tanya Arfan kepada wanita itu.
"Tidak, aku juga baru saja datang." jawab wanita itu.
"Tadi kamu ke sini dengan apa?"
"Aku tadi naik taksi." wanita itu yakin dengan jawabannya.
Wanita itu bukannya tadi diantar pria lain dengan mobil?, sungguh pertanyaan yang baru. Wanita itu tadi bersama seorang pria. Ia juga terlihat begitu mesra tadi dengan pria itu. Jadi apa yang sebenarnya Resa sembunyikan.
Arfan yang tidak tau kebohongan calon istrinya percaya begitu saja.
"Aaa paman, takut."
Alea tiba-tiba berteriak.
"Kenapa sayang?" tanya Arfan.
Hari ini memang baju yang dipakai Resa bermotif macan tutul. Tapi bukan berarti Resa seperti macan juga. Alea memang lucu, ia sangat polos.
Apa dia mengataiku macan?, awas kamu anak kecil. Aku benar-benar akan memakanmu nanti.
"Resa maaf tadi Alea ingin ikut denganku, jadi aku membawanya." Arfan tak sedikitpun menahan tawa.
"Alea ini kak Resa, dia adalah calon istri paman. Kamu tidak boleh begitu. Motif baju yang dipakai kak Resa memang macan, tapi kamu tidak boleh mengatai kak Resa macan." Arfan memberi Alea pengertian.
Alea kemudian paham yang dikatakan pamannya.
Setelah itu mereka mulai mencoba baju. Pertama Arfan mencobanya. Sekali coba ia terlihat suka dengan apa yang dipakainya. Tak seperti Resa, yang meminta ini- itu kepada designer.
"Mbak aku ingin kembennya yang bagian dada agak turun. Kemudian untuk bagian bawah dibuat panjang menjuntai, tapi dengan belahan sampai setengah paha." pinta Resa.
"Resa, pa itu tidak terlalu terbuka?"ucap Arfan.
" Tidak pak, sekarang modelnya memang seperti itu. Kamu tenang saja. Aku pasti akan menampilkan yang terbaik di pesta pernikahan kita nanti. Ini semua juga untuk menjaga nama baikmu sebagai CEO. Istrimu harus terlihat modis dan elegan." bujuk Resa.
Arfan pun menuruti kemauan Resa.
Kegiatan fitti pun telah selesai. Mereka bertiga lalu meninggalkan butik itu.
"Alea lapar." berkata sambil memegang perut kecilnya.
__ADS_1
"Iya sayang, akan paman belikan makanan untukmu. Kita makan di restoran saja ya?, Alea mau."
Alea hanya mengganguk diam.
Sesampainya di restoran mereka segera memesan makanan.
"Pipisss." tiba-tiba si kecil ingin buang air kecil.
"Resa, tolong temani Alea ke kamar mandi, aku tidak bisa, karena harus telepon dengan klienku." ucap Arfan yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
Alea dan Resa pun menuju ke kar mandi.
"Ueek, jorok sekali. Aaaaa." Resa berteriak bak macan yang sedang kelaparan.
Benar kata Alea wanita ini memang seperti macan. Ia berteriak tidak semestinya. Ia marah- marah, karena menunggu Alea yang sedang buang air kecil.
"Alea cepat, baunya sangat menyengat dari sini. Cepat kamu tekan tombol itu! " perintah Resa kepada Alea.
"Kak Resa aku kebelet lagi." Alea mengatakan dengan ketakutan.
"Apa, Alea kita belum mulai makan. Tapi kamu sudah merusak selera makanku. Dasar kamu anak kecil." Resa berkata dengan nada marah.
Alea ternyata tidak hanya mau bak, tapi juga bab. Karena itu, ketika Resa yang mengetahuinya sampai marah seperti itu.
Saat itu Alea telah menyelesaikannya, tapi ia bingung membersihkan diri. Karena ketika di rumah, ia selalu dibantu mamanya atau mbak Ningsih.
"Alea tidak bisa."
"Tidak Alea, aku tidak mau membersihkannya. Coba belajar sendiri."
Alea yang tidak pernah membersihkan sendiri terpaksa dengan seadanya ia mengambil tisu dan mulai membersihkan. Terlihat Alea sangat kesulitan. Resa yang mengetahuinya kemudian mencoba mencari cara lain. Resa menengok ke kanan dan ka kiri.
" Sebentar Alea."
Resa berjalan menuju kepada seorang OG(Office Girl). "Mbak bisa tolong saya?"
OG itu kemudian mengikuti Resa.
"Mbak saya minta tolong untuk membersihkan anak kecil ini! " pinta Resa.
Mbak itu heran dengan Resa. Kenapa hal seperti itu saja harus meminta bantuannya.
"Tenang saja, nanti akan aku beri imbalannya." Resa menunjukkan beberapa lembar uang.
OG itu pun langsung melakukan perintah Resa, dan kemudian menyelesaikannya.
"Sudah mbak."
"Ini."
"Terimakasih mbak."
"Emm."
__ADS_1
Setelah itu Resa mengajak Alea untuk kembali ke tempat makan tadi.
Jika aku sudah menikah dan aku dituntut untuk memiliki anak, aku akan menyewa baby sitter. Aku tidak ingin melakukan semua itu dengan tanganku sendiri.