
Di kediaman keluarga dirgantara terlihat semuanya berkumpul untuk menyantap makan malam.
"Arfan, ini baby sitternya Alea, namanya Ningsih." oma memperkenalkan kepada Arfan.
Arfan hanya melihat sekilas saja dan tersenyum sedikit kepada Ningsih, dan tak merespon lebih.
"Ee.. pak Arfan, perkenalkan saya Ningsih, saya adalah baby sitter dari Alea." menjulurkan tangan sambil mengedipkan satu matanya.
Arfan merasa sedikit ilfil dengan yang dilakukan Ningsih si centil ini. Sementara omanya hanya tersenyum karena tingkah lucu dari Ningsih.
"Iya bi, saya sudah tahu namamu dari oma tadi." Arfan terpaksa membalas tangan Ningsih.
"Apa, tunggu... tunggu... tunggu, tuan Arfan, anda itu sudah saya siapkan julukan terbaik loh, Arfan ( Arfan tamfan), kenapa tuan memanggil saya bibi, oh tidak semua perawatan saya sudah sangat banyak, tidak mungkin wajah saya seperti bibi. Mulai sekarang Pak Arfan panggil saya mbak saja, mbak Ning"dengan penuh percaya diri Ningsih mengganti status dari bibi menjadi mbak.
Arfan yang mendengar, mengiyakan saja tanpa basa basi, dengan ekspresi yang ingin ketawa karena kepercayaan diri dari baby sitter Alea tersebut.
Selanjutnya Arfan memenggal suasananya dengan Ningsih.
"Arkan belum pulang ya? " tanya Arfan kepada siapa saja yang mengetahui keadaan Arkan sekarang.
"Belum kak, tadi dia menghubungiku katanya ada lembur. ujar Teri.
"Kalau Alea dimana? " berganti menanyakan keponakan kecilnya, setelah mendapat informasi keadaan adiknya.
"Alea sudah tidur kak, tadi setelah bermain dengan mbak Ningsih, dia terlihat lelah dan kemudian terjatuh tidur." Jawab Teri menceritakan yang sedang terjadi.
Semuanya sudah selesai makan, kini hanya tersisa oma yang sedang membersihkan piring yang kotor.
__ADS_1
"Sudah saya saja oma, oma lebih baik sekarang istirahat saja." cegah Teri kepada oma, agar tidak melanjutkan kegiatannya membersihkan piring.
Sementara di kamar si kecil, terlihat Ningsih ikut tertidur bersama di samping Alea. Biasanya kalau anak sudah tertidur, baby sitter akan kembali ke kamarnya. Tapi sepertinya Ningsih berbalik, ia bagaikan ibu kandung yang menjaga anaknya. Dia menemani Alea sampai pagi. Mungkin ia akan tidur di kamarnya sendiri, jika orang tua Alea ingin menemani tidur.
***
Pagi pun tiba, Seina yang merasa malas bangun harus memaksa tubuhnya untuk segera pergi dari tempat tidurnya.
Di kamar mandi, Seina mengguyur kepalanya. Ia merasa lebih baik daripada kemarin. Kulit kepalanya terasa sejuk, sehingga mampu membantu menjernihkan pikirannya. Semua ingatan yang kemarin, sepertinya sudah berjalan-jalan, itu artinya suatu saat akan kembali lagi di pikirannya.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh. Seina segera menanti taksi langganannya. Ia bergegas masuk, ketika taksi sudah berada di depannya.
***Di kantor
"Selamat pagi pak. " semua karyawan menyambut Arfan bak raja di istananya.
Arfan merupakan pria yang digandrungi banyak wanita saat ini, tetapi tak ada satupun yang cocok dengan hatinya. Entah mengapa dia merasa takut untuk mencintai wanita. Dia tidak ingin merasa kehilangan seperti yang terjadi 5 tahun yang lalu terjadi lagi. Dulu Arfan pernah memiliki seorang kekasih bernama Vania, tetapi, di saat-saat mereka saling mencintai terjadi perpisahan secara tragis. Ia harus menerima kepahitan atas kepergian vania secara tiba-tiba. Vania menderita sakit parah dan menghembuskan nafas terakhirnya di samping Arfan saat itu juga. Sebelumnya, Vania tidak pernah menceritakan sakitnya kepada keluarganya apalagi Arfan, karena Vania tidak ingin membuat mereka sedih. Mungkin itu yang ada dipikirannya waktu itu.
Setelah kejadian itu arfan sempat terpuruk beberapa hari. Tetapi setelahnya, dia dapat bangkit dengan mudah, meskipun banyak halangan yang ia hadapi, ia tetap teguh dengan prinsipnya. Dia ingin mewujudkan impian Vania, agar Arfan menjadi CEO terkenal dan Vania juga berharap perusahaan Arfan mendapatkan rekor tinggi dengan kualitas tinggi furniture yang hasilkan, serta ia bermimpi untuk perusahaan Arfan bisa masuk ke kancah internasional juga.
Kehidupannya hanya diselimuti motivasi dari mendiang Vania, hingga sampai saat ini perusahaannya mampu berkembang pesat. Bahkan saat ini banyak perusahaan luar negeri yang bekerja sama dengan PT ARFU KING INDONESIA. Nama perusahaan ini pun juga Vania yang memikirkannya, yaitu ARFU diambil dari nama Arfan dan Furniture. Sebelumnya nama perusahaan ini adalah PT MARTA FURNITURE DIRGANTARA, tapi seiring waktu ketika perusahaan diwariskan kepada Arfan, kemudian diganti. Itu semua ia lakukan untuk kemajuan perusahaan, agar nama yang baru bisa lebih mengembangkan dari perusahaan sebelumnya. Tetapi menurutnya, perusahaan pada masa ayahnya sudah cukup membantunya untuk lebih maju lagi. Dulu perusahaan ini sudah terkenal, tapi hanya masih sebatas di wilayah Indonesia, belum sampai ke luar negeri.
Dimana dia, mengapa tidak ada di kursinya?, bukannya ini waktu jam kerja.
Arfan menajamkan matanya mencari seseorang.
Sementara yang sedang dicari berada di kolong meja untuk memastikan keamanan mentalnya masih terjaga. Ia tiba-tiba mengingat kemarahan Arfan kemarin kepadanya. Ia tidak bisa melihat Arfan, walau hanya lewat didepannya.
__ADS_1
*** Flashback kemarin.
Tok tok... tok.
Setelah mendengar ketukan ia segera meminta untuk masuk.
Seina melihat Arfan dengan rasa takut, ia telah melupakan apa yang harus menjadi utamanya masuk ke perusahaan ini. Wanita memang lemah masalah perasaan, baik perasaan cinta, benci, takut, cemas, ataupun tipe perasaan lainnya di dekat seorang pria, apalagi pria dengan jabatan tinggi seperti ini.
"Duduk." perintah Arfan kepada Seina.
"Te.. rima kasihh pak." Seina membalas dengan sedikit ketidakakuratannya.
"Apa kamu tahu bahwa hari ini adalah hari pertama masuk kerjamu?, kenapa kamu bisa terlambat, bukan 10 menit atau 15 menit, tapi 2 jam lamanya. Kamu adalah karyawan baru pemecah rekor, yaitu datang terlambat dengan durasi waktu terlama. Saya tidak ingin besok melihat kamu seperti ini lagi. Jka tidak bisa kamu tepati, silakan keluar dari perusahaan ini. Dan kamu akan mendapatkan gelar yang tidak terhormat setelah keluar dari sini. Bukan dipecat, melainkan dibatalkan menjadi karyawan baru. Silakan mengajukan pembelaan untuk dirimu sendiri, saya akan memberi kesempatan kepadamu." panjang lebar Arfan berkata dengan Seina.
Seina yang dipersilakan, mencoba membuka mulutnya. Bukan suara pembelaan, melainkan kejujuran yang ia berikan.
"Maafkan saya pak, saya terlambat bangun, kemarin saya baru bisa tidur jam 3 dini hari." Jawaban Seina yang bodoh.
Mendengar hal itu Arfan semakin marah, dia tidak ingin melihat wajah Seina berlama-lama lagi. Ia membalas kejujuran Seina tadi, dengan tegas bahwa alasan tentang masalah pribadi atau apapun itu yang tidak berhubungan dengan perusahaan, dilarang untuk dikatakan. Setelah itu juga Seina pamit kepada bosnya itu untuk pergi.
Saat mengingat kejadian itu, Seina merasa menjadi wanita yang bodoh. Bisa-bisanya ia mengatakan alasan konyol itu.
*** Di tempat Seina
Sudah 15 menit Seina berada di bawah meja. Setelah merasa aman tidak ada suara orang yang menyapa Arfan. Seina merasa aman, itu artinya sudah tidak ada bosnya lagi di sekitarnya.
Seina kemudian bangkit dari bawah meja, seketika untuk merasakan kebebasan tanpa ada pikiran. Ia berdiri dengan memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.
__ADS_1