Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 18 Cemburu


__ADS_3

Di sebuah kafe adalah tujuan bagi Seina dan Arfan untuk menemui kliennya.


Saat tiba di sana, terlihat seseorang sedang duduk. Orang itu seperti sedang menunggu temannya. Tapi pakaiannya formal, mungkin itu klien dari Arfan.


"Apa dia klien pak Arfan?" tanya Seina kepada Arfan.


"Iya, kenapa?" tanya balik Arfan.


"Tidak pak, saya hanya berpikir klien pak Arfan sangat tampan seperti aktor korea." berbicara sambil tersenyum.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Arfan.


"Iya pak. Eh, tidak pak." Seina mengucapkan dengan refleks, lalu menariknya kembali.


"Kalau kamu mau mencari jodoh, silakan di luar jam kerja nanti. Saat ini kita harus bersikap profesional."ucap Arfan dengan ketus.


Setelah obrolan drama itu, Arfan dan Seina kemudian menghampiri klien tersebut.


" Selamat siang pak Arfan. Bagaimana kabar pak Arfan?" sapa klien tersebut.


"Selamat siang pak Rey, kabar saya baik, bagaimana dengan pak Rey sendiri? " timpal balik Arfan.


"Saya masih seperti ini pak, masih sendiri." klien tersebut membuat canda untuk dirinya sendiri.


Sementara Seina yang mendengar obrolan basa-basi itu hanya diam dan membenahi duduk di kursi.


"Siapa ini pak?" tanya Rey kepada Arfan.


Arfan yang mendengar pertanyaan itu, kemudian menjawab. "Dia Seina, manajer di perusahaan kami, kebetulan sekretaris saya sedang sakit, jadi dia yang menggantikan."


"Oh, iya Pak. Salam kenal saya Rey." Rey kemudian langsung menggerakkan tangannya untuk melakukan jabat tangan.


"Salam kenal juga, saya Seina pak." Seina membalas tangan Rey, ia memasang ekspresi senyumnya.


"Cantik."gumam kecil Rey.


Arfan yang melihat itu langsung menyekatnya tiba-tiba. " Bagaimana pak, apa bisa kita mulai sekarang?" Arfan menyela dengan cepat.


"Iya Pak tentu. " balas Rey dengan senyuman.


Sudah 1 jam lamanya mereka berdiskusi. Dan akhirnya mereka memastikan kerja sama itu dilakukan.


"Terima kasih atas ketersediaan waktunya pak Arfan dan kepada Seina. Saya pamit terlebih dahulu. Sampai jumpa." Rey pamit kepada Arfan dan matanya tertuju pada Seina.

__ADS_1


"Baik pak, saya juga mengucapkan terimakasih karena mau bekerjasama dengan perusahaan kami. sampai jumpa." Arfan membalas dengan sopan.


Setelah pertemuan itu selesai, Seina meminta ijin Arfan untuk ke kamar kecil, dan Arfan pun mengijinkannya.


Di saat Arfan duduk menunggu Seina dari toilet, tiba-tiba ada seorang bapak yang menghampiri.


"Permisi pak, saya adalah bpemilik kafe ini. Apa bapak tadi bersama Seina?" tanya bapak itu.


"Benar pak, saya dan Seina melakukan pertemuan disini bersama klien. Seina adalah karyawan saya. Sekarang dia masih berada di toilet. Apa bapak mengenal Seina?"Arfan menjelaskan dan kemudian bertanya kepada bapak itu.


"Iya pak, dulu dia adalah seorang penyanyi di kafe ini. Tetapi dua minggu yang lalu dia mengundurkan diri dari kafe ini karena alasan ada sesuatu penting yang harus dia lakukan."Jelas bapak itu.


Arfan mendengarkan pemilik kafe itu dengan seksama. Setelah beberapa menit Seina pun kembali.


" Hai Seina bagaimana kabarmu sekarang?" tanya bapak itu.


"Bapak, alhamdulillah baik pak, saya pikir tadi bapak tidak ke sini, biasanya kan kesini saat sore." balas Seina dengan ceria.


"Aku tadi merasa ada sesuatu di hatiku, jadinya aku kemari. Dan ternyata benar aku bisa bertemu denganmu lagi." jawabnya.


Mereka berdua saling berbincang, sedangkan Arfan hanya mendengarkan.


"Pak sepertinya saya harus pergi, lain kali pasti saya menyempatkan ke sini lagi." pamit Seina.


"Dia bosku pak, aku tadi baru selesai meeting dengan klien pak Arfan." balas Seina.


"Jika dia bosmu sekaligus suamimu juga tidak masalah." meledek Seina sambil terkekeh.


"Ah bapak ini." Seina membalasnya, kemudian menyusul Arfan yang sudah pamit lebih dulu kepada pemilik kafe tersebut.


***


Di perjalanan.


"Pak, aku lupa membelikan Alea oleh-oleh, apa bisa pak Arfan berhenti di mall sebentar saja." pinta Seina.


"Hemm." Arfan menyaut dengan berdehem.


Saat sampai di mall, Seina segera masuk dan mulai mencari sesuatu.


Yang mana ya?, mungkin ini lebih lucu untuknya. Seina bergeming sendiri, dengan melakukan perbandingan barang yang akan ia beli untuk Alea.


"Apa kamu belum menemukan? " Tiba-tiba Arfan muncul didekat Alea, sehingga membuat Alea hampir terlonjak.

__ADS_1


"Iya sebentar pak, saya baru menemukannya. Sekarang tinggal pergi ke kasir." ucap Seina.


Sementara Arfan hanya mengikuti Seina dari belakang menurut saja. Seina berjalan menuju kasir sambil melihat-lihat, matanya tak bisa fokus. Ketika melihat barang yang ia sukai kemudian ia berhenti, begitu juga seterusnya. Bahkan jalan menuju kasir semakin jauh. Melihat tingkah Seina, Arfan hanya menggeleng kepala.


"Apa kamu hanya ingin melihat barang lain, dan tidak jadi membayar?" tegas Arfan.


"Iya pak mohon maaf, mata saya khilaf melihat barang-barang tadi." balas Seina dengan perasaan sungkan.


Akhirnya Seina menyelesaikan pembayaran di kasir, setelah melalui dramanya sendiri tadi. Mereka berdua kemudian menuju mobil untuk pulang ke rumah.


_______________


Seperti kapal pecah di kamar sejoli ini.


"Sudah cukup, aku juga tidak akan menolak rencana ini. Tapi aku akan berusaha untuk mendapatkan gak asuh atas Alea putriku. Aaaaaa... crangg. Seina membanting lampu tidur disertai tangisan pecahnya.


" Teri, ada apa denganmu? " tanya oma dari luar setelah mendengar suara ricuh dari arah kamarkamar Arkan.


"Tidak oma, aku hanya bingung apa yang harus aku lakukan. Arkan memberi talak satu kepadaku oma. Dia juga ingin merebut gak asuh Alea dariku. Salahku apa oma. Aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku yang sempat tertunda. Aku juga sudah berusaha membagi waktu untuk bersama Alea. Dia malah tidak mempedulikan aku dan Alea selama ini. Aku sudah sering mengalah dan bersabar oma. Sepertinya takdirku bersama Arfan hanya sampai di sini. Hiiiks. hihihi... "tangisan Teri semakin pecah.


Oma yang mendengar tangisan Teri ikut bersedih.


Tak lama kemudian dari bawah terdengar suara Seina dan Arfan.


>> Seina dan Arfan tiba di rumah.


" Kenapa sepi sekali?, mbak ningsih dimana semua orang?, oma dimana?" tanya Arfan kepada Ningsih yang kebetulan lewat.


"Oh tuan tamfan, di atas ada sebuah tragedi, non Teri menangis histeris." Mbak Ningsih ikut sedih apa yang dialami Teri, sementara tangannya dengan sengaja memegang tangan Arfan. (hhhh...Mbak Ningsih yang konyol)


"Eee. maaf mbak Ningsih. Yasudah mbak Ningsih jaga Alea saja."Arfan melepaskan tangan dari mbak Ningsih yang centil itu sambil memerintahkan untuk menemani Alea.


Selama Arfan berbicara dengan mbak Ningsih, Seina yang mendengar perkataan mbak Ningsih tentang Teri segera naik ke atas.


Sesampainya di depan kamar, Seina ikut bergabung dengan oma. Oma yang mengetahui Seina datang segera meminta peluk. Seina pun memeluknya dengan erat.


"Ada apa oma sebenarnya?, kenapa oma bersedih dan juga apa yang terjadi dengan Teri? " tanya Seina dengan halus. Ia lalu menuntun oma turun.


Di bawah oma menceritakan segalanya. Seina yang mendengar ikut prihatin. Oma sangat terpukul dengan keadaan rumah tangga Arkan dan Teri. Ia sampai tidak tega melihatnya seperti ini.


Oma sangat sedih, aku semakin tidak tega melihatnya. Bagaimana jika oma mengetahui pernikahan palsu ini, apa oma akan lebih sedih lagi.


Batin Seina dengan penuh dilema. Di sisi lain Seina harus menegakkan keadilan dan di sisi lain ia harus rela mengubur tujuannya untuk membahagiakan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2