
Saat ini nama Arfan berubah menjadi Devan, nama itu pak Rendy yang memberinya. Ketika dia mengalami amnesia pak Rendy yang telah membantu. Maka dari itu pak Rendy menamainya Devan.
"Selamat pagi pak."
"Selamat pagi."
Semua karyawan menyambut kedatangan pak Rendy, termasuk Devan.
"Devan ikut aku ke dalam."
Mereka berdua masuk ke ruangan bersama.
"Ada apa pak?"
"Jadi hari ini ada pertemuanku dengan klien, tetapi hari ini aku tidak bisa karena ada urusan keluarga. Bisakah kamu menggantikan diriku?"
"Kenapa tidak dengan senang hati pak."
Pertemuan kemudian dilangsungkan satu jam lagi.
Hari ini ada klien dari perusahaan ARFU, kenapa aku tidak asing ya dengan namanya.
Tempat sudah ditentukan yaitu di kafe harmoni.
Devan tidak ingin terlambat, ia ingin memberi kesan yang baik terhadap kliennya. Ia kemudian memutuskan untuk pergi lebih awal.
Seorang pria tengah duduk menunggu seseorang. Ia sepertinya tidak merasa asing dengan tempat itu. Dia mulai mengingat sesuatu dengan sekilas. Di pikirannya terlintas seorang wanita yang pernah duduk dengannya di kafe itu, tapi tidak terlihat jelas wajah wanita itu.
Apa dia klien dari perusahaan ARFU,
Arfan mengamati sosok pria itu. Lagi-lagi ia juga tidak merasa asing melihat pria itu.
"Permisi apa anda dari perusahaan ARFU?" Arfan menghampiri pria tersebut untuk memastikan bahwa memang benar ia kliennya.
Pak Arfan,
Riko yang baru saja datang dikejutkan dengan Arfan yang menghampiri dirinya tiba-tiba.
"Apa benar ini pak Arfan," Masih tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Riko setahun ini bekerja keras menggantikan tugas Arfan dan ia selalu mencari informasi tentang keberadaan Arfan. Bahkan ia terjun langsung di tempat kejadian jatuhnya pesawat itu.
"Perkenalkan nama saya Devan, saya adalah sekretaris dari pak Rendy."
Apa dia orang yang mirip saja dengan pak Arfan,
"Saya Riko, saya adalah sekretaris dari pak Arfan. Saya menggantikannya kemari."
"Saya juga diminta untuk menggantikan pak Rendy."
"Apa bisa kita lanjutkan,"
"Iya tentu, mari,"
Dua pria yang sebenarnya dulu saling mengenal itu kemudian pergi ke tempat duduk.
***
"Ter apa kamu ingat dengan yang dikatakan Alea,"
"Iya Sein, aku ingat Alea pernah melihat Arfan."
"Apa mungkin pak Arfan ada sini ya, tapi kenapa dia memberi kabar apapun selama setahun ini,"
"Kita semua berharap kak Arfan masih hidup, semoga saja benar."
"Iya Ter,"
"Hei kalian tidak jadi pergi liburan,"
__ADS_1
Oma tiba-tiba muncul di tengah pembicaraan serius mereka.
"Iya oma, kami jadi untuk berlibur, tapi tidak sekarang, karena Arkan masih sibuk dengan pekerjaannya."
"Ayo Reyna, Alea kita sarapan, "
"Alea maunya di taman kak Seina."
"Ya sudah ayo kita ke taman sekarang!"
Dua putri kecil itu kemudian berlari menuju taman. Mereka berdua terlihat sangat bahagia.
"Hei Alea, Reyna jangan lari nak."
***
"Devan, terimakasih kemarin kamu sudah menggantikanku, untuk imbalannya bagaimana jika nanti malam saya traktir makan malam. Sama sekalian saya kenalkan dengan seorang wanita."
"Boleh, tapi untuk wanita sepertinya jangan dulu pak."
"Kenapa, kamu itu sudah waktunya untuk menikah. "
Devan mau tidak mau menuruti bosnya.
Beberapa jam kemudian makan malam dilakukan. Devan datang sendiri, sedangkan pak Rendy datang bersama dengan seorang wanita.
"Devan kenalkan ini adik sepupu saya namanya Lika."
"Hai saya Devan." Devan menjabat tangan Lika.
"Hai juga saya Lika."
Lika terlihat sangat senang dapat berkenalan dengan Devan. Ia juga langsung memiliki perasaan terhadap Devan. Tampan sekali dia, aku harus bisa memilikinya.
Mereka bertiga akhirnya selesai makan. " Pak saya pulang lebih dulu ya,"
"Iya pak."
Wanita cantik itu akhirnya menyebutkan nomor kepada Devan. Begitu juga Devan yang langsung memberi nomornya.
Aku tidak yakin dengannya,
Karena waktu sudah malam, Devan kesulitan mendapatkan taksi yang lewat.
Apa mereka sudah tidak beroperasi ya,
"Ojek, pak bisa tolong antar saya?"
"Bisa pak, mau kemana pak?"
"Ke apartemen di daerah kota A."
"Baik pak."
Karena ia belum juga mendapatkan taksi, maka Devan terpaksa naik ojek motor.
Tidak apa- apa, lebih baik begini daripada aku harus pulang jalan kaki.
Sesampainya di apartemen Devan segera membersihkan diri.
Ting.. terdapat sebuah pesan masuk.
"Halo, ini saya Lika." pesan terbaca
Kenapa dia malam-malam begini mengirimkan pesan, apa dia tidak ada pekerjaan lain.
Devan lantas mengabaikan pesan itu, dan segera tidur.
***
__ADS_1
"Seina saya ingin bicara denganmu,"
"Ada apa ya pak?"
"Pak Arfan ternyata masih hidup."
"Apa?"
Jadi benar yang dilihat anak- anak waktu itu.
"Sekarang ada dimana pak Arfan?"
"Ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris. Kemarin aku bertemu dengannya sebagai klien. Dia kebetulan diminta menggantikan pimpinannya untuk menemui klien, dan kliennya adalah saya sendiri."
"Apa pak Riko mengetahui alamat pak Arfan dimana?"
"Sayangnya belum Seina."
"Apa yang pak Riko katakan memang benar?"
"Iya awalnya saya memang merasa ragu, saya pikir ia hanya mirip dengan pak Arfan. Tapi setelah saya lihat tanda lahir tahi lalat kecil di dagunya saya semakin yakin bahwa Devan adalah pak Arfan."
"Maksudnya apa pak, kenapa menyebutkan nama Devan."
"Iya, ia mengakui namanya sebagai Devan. Saya menduga jika pak Arfan sedang mengalami hilang ingatan yang kedua kalinya."
Oh Tuhan terimakasih telah menyelamatkan suamiku, tapi tolong segera pulihkan ingatannya agar kembali.
Seina sangat bersyukur karena mendapat kabar itu. Di sisi lain senang tapi juga sedih, ia senang karena suaminya selamat, tapi di sisi lain ia sedih karena suaminya mengalami hilang ingatan.
***
Sebulan kemudian
"Nak bagaimana kalau kita beli es krim, mau?"
"Mau." Dua suara anak kecil bersamaan.
Lalu Seina menggandeng Alea dan Reyna di tangan kiri dan kanan.
Di taman remaja hari ini penuh pengunjung, tapi kebanyakan pasangan yang datang.
"Oh tidak pakaian kamu terlalu kuno,"
Seorang wanita cantik tapi sangat cerewet di depan seorang pria.
"Tidak apa-apa, tapi aku lebih nyaman memakainya. Lagipula tren baru satu tahun yang lalu, jadi bisa dianggap masih tren baru kan,"
"Tren itu, yang saat inilah, satu bulan yang lalu atau seminggu ini."
Ribet sekali ya wanita ini,
"Yasudah lupakan, nanti aku akan membelikan mu baju dengan model terbaru."
"Tidak perlu."
Pria itu memang tidak suka wanita di sampingnya, tapi ia tidak enak dengan bosnya karena wanita ini adik sepupu dari bosnya.
"Apa bisa kita mulai?"
"Apanya yang dimulai?"
"Kamu tidak ingin membicarakan sesuatu kepadaku, mungkin perasaanmu,"
Lika secara langsung berbicara tanpa ada rasa malu. Ia lalu semakin mendekati Devan, bahkan Devan sampai berada dalam duduk di tepi kursi demi menghindari tubuh Lika.
"Ayo ungkapan perasaanmu," Dengan nada memaksa Lika tidak sabar mendengar Devan berbicara.
Devan hanya diam dan bergumam dalam hatinya. Untuk apa aku mengungkapkan perasaan, jika aku tidak menyukainya. Ya sudahlah, aku harus segera mengakhiri ini semua. Aku harus bisa menanggung resiko walaupun nanti aku dipecat tidak masalah.
__ADS_1