Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 26 Mulai berani


__ADS_3

***Di kantor


"Pak saya mau ijin keluar sebentar sebentar." pinta Seina kepada pak Riko.


"Iya silakan, tapi cepatlah kembali setelah istirahat nanti." ucap pak Riko.


Seina lalu membalas dengan mengiyakan apa yang dikatakan pak Riko. Seina kemudian pergi dari kantor. Seina berjalan menuju restoran yang tidak jauh dari kantor. Dia akan menemui pak Rey.


"Hai Seina." pak Rey memanggilnya sambil melambaikan tangannya.


Seina pun tersenyum mengetahui pak Rey di sana.


"Bagaimana pak?" tanya Seina setelah sampai di dekat keberadaan pak Rey.


"Aku sudah memikirkannya, dan aku tinggal menjalankannya." kata pak Rey.


Seina mendengarkan penjelasan pak Rey dengan seksama. Ia juga memperhatikan mimik pak Rey yang menggebu-gebu dengan rencananya. Setelah Seina hanya manggut-manggut saja, ia lalu bersuara. "Eh, pak Rey menurut saya pak Rey tidak perlu membutuhkan pihak lain, cukup pak Rey saja yang bertindak. Karena kita tidak tahu, rekan kita bisa saja berkhianat di saat waktu yang menguntungkan." Seina memberi sedikit saran kepada pak Rey.


"Baiklah Seina, saya akan melakukannya sendiri, demi kamu." pak Rey keceplosan sesuatu.


"Maksud pak Rey, demi saya?" Seina bereaksi dengan cepat.


"E.. tidak.. tidak, maksud saya demi keuntungan kita masing-masing." pak Rey mengubah kata-katanya.


Seina adalah wanita yang bisa dibilang kadang munafik. Ia memberi wejangan kepada pak Rey, agar tidak melibatkan orang lain dengan alasan rekan ada yang bisa berkhianat. Lalu sama saja, dengan apa yang dilakukannya saat ini. Ia menjadi karyawan di perusahaan ARFU, lalu ia berencana untuk menghancurkannya.


Sosok yang mengawasi mereka berdua selalu hadir. Siapa sebenarnya pria itu?, dia selalu mengamati rencana Seina dengan pak Rey. Pria itu selalu berhasil menerima informasi, tanpa ketahuan oleh Seina dan pak Rey.


Jam istirahat sudah berakhir bagi para karyawan di kantor. Seina kembali berada di kantor. Seina merasa sedikit lega atas rencana pak Rey tadi. Seina sangat mempercayai pak Rey, tanpa ada curiga sedikitpun. Padahal mereka baru kenal. Tapi lihat saja nanti, fenomena apa yang terjadi.


"Seina, kamu diminta menemui pak Arfan sekarang! " perintah pak Riko.


"Baik pak, saya akan segera ke sana sekarang." Seina lalu bangkit dari tempat kerjanya.

__ADS_1


Seina berjalan dengan penuh ketenangan. Tidak seperti biasanya, yang gelisah tidak menentu.


Setelah sampai di depan pintu, Seina segera mengutuknya. Dan Seina kemudian masuk, setelah mendapat sinyal diperbolehkan masuk.


"Apa pak Arfan memanggik saya? " tanya Seina basa-basi.


"Duduk!" perintah Arfan.


"E, saya mau bicara tentang jabatanmu sebagai manajer. Setelah saya pikir, saya lebih baik menempatkan kamu sebagai karyawan biasa. Maaf, sebenarnya kamu saya jadikan sebagai cadangan saja. Tapi, setelah saya renungkan lagi, saya berubah pikiran. Mulai besok kamu akan berada di antara karyawan biasa. Apa kamu keberatan?" jelas Arfan panjang lebar.


"Iya pak, saya tidak masalah menjadi karyawan biasa. Oh iya sekalian saya ingin membicarakan sesuatu kepada pak Arfan." balas Seina.


"Oke silakan!" jawab Arfan.


"Begini pak, teman saya ingin melamar pekerjaan, apa disini ada lowongan pak?" tanya Seina dengan terus terang.


"O.. begitu. Ada kebetulan OB kita ada yang keluar. Teman kamu bisa melamar." Arfan menjawab tanpa berpikir.


"Apa pak OB?, teman saya ini lulusan manajemen sarjana pak, mana mungkin dia mau menjadi OB." Seina mengatakan dengan ekspresi terkejut.


"Iya pak." Seina menjawab dengan perasaan sedih, ia tidak bisa menyampaikan ini kepada Kayla, pasti harapan Kayla besar terhadapnya.


Kayla pasti sedih mendengarnya, apa aku saja ya yang keluar. Supaya nanti Kayla bisa menggantikanku. Ah tidak rencanaku bahkan masih di mulai. Aku akan berusaha untuk membujuk pak Arfan lagi besok dengan caraku sendiri.


Seina kemudian keluar dengan kecewa, ia merasa kasihan kepada temannya.


***


Di pengadilan negeri


Terlihat dua insan saling berjarak dari tempat duduk.


Mereka melakukan proses mediasi.

__ADS_1


Teri terlihat sangat sedih, sedangkan Arkan terlihat bersemangat.


Aku harus berhasil bercerai dengan Teri, agar aku bisa membuktikan kepada Seina. Aku masih mencintainya, dia adalah cinta pertanaku.


Arkan masih terus dan terus memikirkan Seina. Dia seolah hidup dengan mata butanya dan keegoisan hatinya.


Saat ini Teri hanya memikirkan Alea putri kecilnya. Aleaku, belahan jiwaku. Kehidupanmu sebentar lagi akan berubah. Kuatlah nak.


*** Di kantor


Seina, kamu itu adalah wanita yang baik. Tetapi, kamu harus terpaksa melakukan tujuan burukmu itu, untuk membalas keburukan orang lain. Pikiranmu benar, tapi caramu salah. Semoga kamu bisa hilang dari kesalahpahaman ini. Aku tidak bisa memberitahunu sendiri, hanya Arkan yang berhak. Karena peran sesungguhnya adalah Arfan dan kamu. Aku hanyalah peran pembantu dalam peristiwa ini.


Pria ini sebenarnya mulai memperhatikan Seina, sejak ia tahu derita Seina. Ia merasa bersimpati dengan kehidupan Seina. Apalagi ia tahu tentang hubungannya Arkan dan Seina dulu.


Waktu berlalu terasa cepat, satu bulan antara Seina dan Arfan menjalin hubungan. Apa dengan waktu yang hanya lima bulan itu, mereka berdua akan berhenti atau melanjutkan?, tidak ada yang bisa menebak.


Arfan kemudian menghentikan pikirannya. Lalu, ia mulai bekerja lagi. Di saat ia mulai mengerjakan pekerjaan penting, seseorang mengetuk pintu. Arfan segera mengijinkan orang itu untuk masuk.


"Pak ini saya bawakan sop buah dan juga ada sop daging." Seina memberikan makanan untuk bosnya itu.


"Saya sudah makan, kenapa baru setelah istirahat kamu mengantarkannya?"ucap Arfan.


" Ini sebenarnya dari oma untuk kita berdua. Mereka telat mengantarkannya karena terkena macet pak." jelas Seina.


"Ya sudah, nanti setelah jam pulang kerja kamu kemari. Aku tidak tega dengan oma, jika kita tidak memakannya. Ini kan juga sudah mendekati jam pulang. Tidak masalah jika kita memakannya nanti." kata Arfan.


"Tapi pak..." Seina mencoba untuk menolak.


"Aku tidak mau tau, kamu harus makan nanti. Kalau tidak, gajimu tidak akan saya berikan." ancaman kecil dari Arfan.


"Tidak bisa begitulah pak, hanya masalah makan kenapa harus memotong gaji saya. Ini di luar konteks pekerjaan ya pak. Saya sebulan ini cukup diam dan menurut. Tapi saya rasa, saya harus berani dan membela diri saya, agar pak Arfan tidak seenaknya. Saya tidak mau titik. Maaf pak saya harus pergi, permisi."ucap Seina dengan tegas.


Arfan yang melihat keberanian Seina tidak bereaksi banyak, hanya memikirkan cara untuk mengatasinya.

__ADS_1


Dia sudah mulai berani, aku harus bisa mengendalikannya.


Satu jam kemudian waktu pulang telah tiba. Arfan dengan senang hati membuka makanan tadi yang diberikan omanya. Dia mengawali dengan sop buah, lalu lanjut ke sop daging. Meskipun sering memakan sayuran, tapi ia juga tidak melupakan kandungan gizi lainnya. Ia bukan seorang vegetarian sejati. Jadi ia bisa makan apapun yang ia kehendaki. Arfan telah menyelesaikan makanannya, ia sangat menikmati makannya tadi. Meskipun sendirian, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Arfan kemudian pergi sambil membawa kotak bekas makannya tadi.


__ADS_2