
"Oma Seina ingin berbicara," Seina kemudian mendudukkan diri ke sofa.
Oma lalu duduk di samping Seina. " Ada apa Seina?"
"Oma, Seina ingin memberitahu mengenai pak Arfan,"
"Iya ada apa dengan Arfan, apa ada kabar mengenai cucuku," Harapan oma masih tersimpan sampai sekarang.
"Pak Arfan masih hidup oma,"
"Dimana dia sekarang, ayo antar menemuinya," Oma menggebu-gebu ingin segera melihat cucunya.
"Tunggu oma, sabar dulu." Seina menghentikan oma yang sudah sangat antusias.
"Kenapa?"
"Oma sebenarnya pak Arfan saat ini bekerja di sebuah perusahaan, ia memiliki posisi sebagai sekretaris. Pak Riko dulu pernah bertemu dengan pak Arfan saat ada pertemuan klien, kliennya yaitu pak Arfan. Tapi bukan sebagai pak Arfan melainkan sebagai Devan."
"Kenapa namanya Devan?" Oma terlihat bingung.
"Jadi sebenarnya pak Arfan mengalami hilang ingatan, maka dari itu namanya adalah Devan. Itu sebenarnya hanya dugaan dariku dan pak Riko saja oma, tapi kami yakin bahwa pak Devan adalah pak Arfan. Untuk sementara Seina dan pak Riko masih mencari informasi lebih dalam lagi. Seina bekerja di perusahaan yang sama dengan pak Arfan, dengan begitu seringnya kami bertemu maka siapa tau ingatannya bisa pulih, tapi jika masih belum berhasil aku akan membicarakan kepada pak Rendy sebagai bosnya, mungkin dia tau sesuatu tentang pak Arfan. Do'akan ya oma semoga Seina diberikan kelancaran."
Oma mendengarkan dengan seksama. " Iya kak pasti oma akan mendoakan yang terbaik bagi kalian."
***
Seminggu kemudian
Rencanaku belum berhasil, waktu sudah berlalu selama seminggu, aku harus melanjutkan ke opsi terakhir. Seina kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Siapa sebenarnya Devan, aku masih belum mendapatkan identitas aslinya. Devan saat ini masih belum pulih ingatannya, kasihan keluarganya pasti masih menanti dirinya.
Tok.. tok... tok..
Mengganggu tidak ya, Seina dengan sabar menunggu pak Rendy memerintahkannya untuk masuk.
"Silakan masuk," Suara dari dalam.
"Permisi pak mohon maaf mengganggu waktu pak Rendy," Seina berbicara setelah masuk ke dalam.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa kebetulan aku tidak sedang sibuk, duduklah Seina," Pak Rendy menatap mata Seina penuh dengan perasaan penasaran.
"Pak saya ingin membicarakan tentang pak Devan, jadi bolehkah saya bertanya sesuatu tentang pak Devan?"
"Iya, tapi untuk apa kamu bertanya tentang Devan?"
"Jadi begini pak, pak Devan itu mirip dengan suami saya, saya mencari suami saya sejak kecelakaan setahun yang lalu, saya hanya memastikan bahwa pak Devan memanglah suami saya,"
Suami, Devan suami Seina? Pak Rendy masih bertanya dalam hatinya.
"Jadi dulu saya bertemu Devan berawal dari saya menolongnya ketika di gunung tempat tujuan saya untuk mendaki. Saat itu saya tidak mengetahui bahwa ada kecelakaan pesawat di sana, karena sudah terlanjur tiba di sana, akhirnya saya ikut membantu mengevakuasi korban kecelakaan pesawat itu, dan Devan adalah salah satu korban yang saya temukan dalam keadaan masih bernapas. Lalu saya membawanya ke rumah sakit, setelah sudah ditangani dokter, saya menanyakan identitasnya, tapi Devan tidak mengingat apapun. Dokter menyatakan Devan sedang mengalami amnesia. Begitulah ceritanya, hingga akhirnya Devan saya rekrut menjadi karyawan saya dan saya berikan nama Devan."
"Masya Allah, pak dia memang benar suami saya, namanya adalah Arfan. Suami saya setahun lalu kecelakaan pesawat menuju singapura, dan sampai sekarang belum ditemukan. Saya dan keluarga sangat berharap besar terhadap keselamatan pak Arfan. Tapi sekarang Tuhan telah mengabulkan harapan kami, pak Arfan telah ditemukan dengan selamat. Alhamdulillah." Seina membalas dengan panjang lebar.
"O jadi dia suami kamu, syukurlah saya ikut senang mendengar. Saya juga selama setahun ini berusaha mencari informasi tentang keluarga Devan, tapi tak informasi yang masuk. Memang takdir tidak pernah tertukar Seina, cintamu dan cinta Devan sangat kuat sehingga mempertemukan kalian."
"Iya pak, saya sangat mengucapkan banyak terimakasih karena pak Rendy telah menyelamatkan suami saya dan memberikan pekerjaan kepadanya."
"Iya Seina ini adalah hal biasa yang harus aku lakukan sebagai antar sesama. Sekarang saya akan memberitahu Devan, dan kemudian akan ku pertemukan kamu dengan dirinya besok. Tunggulah aku akan mengabarkan kepadamu,"
"Baik pak, terimakasih pak," Seina lalu keluar dari ruangan itu.
***
Di restoran
Semua anggota keluarga berkumpul di dalam restoran itu. Mereka menunggu kedatangan Arfan.
Beberapa saat kemudian mereka melihat Arfan datang. "Arfan," Oma terlihat bahagia melihat cucunya yang selama ini ia cari.
"Paman," Alea juga ikut menyambar.
Apa mereka keluargaku?
Arfan mulai mencerna pikirannya, ia masih mencoba membiasakan pikirannya tentang yang dikatakan pak Rendy bahwa ia sedang hilang ingatan, dan Seina adalah istrinya.
Kepalaku pusing sekali, Arfan memegang kepalanya.
"Kak duduk dulu," Arkan yang melihat kakaknya merasa sakit kepala segera menuntun ke tempat duduk.
__ADS_1
"Kak aku Arkan, aku adalah adikmu, ini Seina dia istrimu, dan ini Reyna dia adalah putrimu."
"Aku oma mu Arfan, apa kamu ingat nak,"
"Aku Teri adik iparmu, dan ini Alea keponakan mu," Teri tidak diam saja.
Arfan masih mencoba mengingat. Di dalam lintasan pikirannya ia sekelebat mengenang tentang mereka, tentang wajah dan kebersamaannya selama ini, terakhir ia mengingat bahwa istrinya Seina masih hamil.
Arfan telah mengingat semuanya, ia segera menuju ke oma nya, lalu istrinya, dan Arkan, serta Alea beserta Teri. "Ini putri kita?" Arfan menanyakan kepada Seina.
Seina tersenyum dengan terlihat matanya sedang berkaca-kaca.
"Masya Allah putri kecilku, siapa namanya?" Arfan lalu menggendong putrinya itu.
"Leina," Reyna menjawab langsung.
"Namanya Reyna," Seina segera menyempurnakan kosakata dari putrinya.
"Reyna, ini adalah papa sayang." Arfan sangat terharu melihat putrinya.
"Pa.. pa."
"Syukurlah jika pak Arfan sudah pulih ingatannya, selama ini aku dan semua anggota keluarga menunggumu, kami selalu berdoa semoga pak Arfan dalam keadaan baik" saja." Perkataannya membuat Arfan merasa tersentuh.
Semua anggota saat itu sedang menikmati makanannya, setelahnya mereka pergi ke sebuah tempat wisata.
"Wah lihat itu ada burung nak,"
Reyna terlihat senang melihat burung cenderawasih yang indah di depannya.
Mereka terlihat bahagia melihat beberapa hewan di dalam kebun binatang tersebut. Mereka juga sempat mengambil foto bersama.
Keluarga ini sekarang sudah mendapatkan pembalasan yang seharusnya, mereka mendapat balasan kebaikan dari perjuangannya selama ini. Mereka telah melewati banyak ujian rumah tangga yang berliku-liku. Semoga kehidupan mereka bisa harmonis selalu seperti ini.
"Arfan apa kamu tidak rindu oma,"
"Ya rindu oma, tapi kan Arfan dulu bukan Arfan melainkan Devan, mana mungkin Devan orang asing bisa menemui oma,"
"Ah kamu, makanya jangan suka mengganti nama seenaknya," Oma bercanda dengan cucunya.
__ADS_1
Percakapan antara Arfan dan oma membuat semuanya tersenyum.