Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 7 Terpaksa Menemui Bos


__ADS_3

Bagaimana aku ini? kenapa jadi begini. Kemarin sudah kupersiapkan dengan baik.


Seina berjalan keluar sambil menggerutu sendiri.


"Taksi, ke perusahaan ARFU KING pak! "perintah Seina kepada pak sopir.


Seina memang setiap hari bertransportasi dengan taksi, karena ia tidak memiliki kendaraan pribadi sendiri.


Dengan semua keruwetan pikiran ini, Seina berusaha untuk tenang. Tapi benang ini semakin menggumpal dan sulit dirapikan. Di sela Seina berpikir, ia juga menyempatkan sarapan di dalam taksi. Ia tidak mau jatuh sakit hanya karena dirinya sendiri.


tritttttdrtzz... sitthhhz... tak terasa dengan apa yang dilakukan Seina selama di taksi tadi, tiba-tiba sudah sampai ke tujuan.


"Sudah mbak, sekarang anda sudah sampai ke tujuan. " pak sopir berbicara di antara keheningan.


"Haa, apa pak sudah sampai??? "tanya Seina yang tak percaya sudah sampai di kantor.


" Iya, mbak kenapa terlihat gelisah, bukannya malah senang bisa cepat sampai? "tanya balik pak sopir.


" Ehh.. tidak pak, saya hanya terkejut kenapa cepat sekali bapak mengemudi. "balas Seina dengan kalimat seakan menutupi keadaannya saat ini.


Setelahnya, Seina segera keluar dan menyodorkan beberapa lembar uang kepada laki-laki setengah abad itu, kemudian berusaha berhenti sejenak di tempat pertama kali dia keluar dari taksi.


Dengan berjalan penuh keyakinan ia cepat-cepat menuju ruangannya. Setelah melangkah dengan buru-buru Seina sudah sampai ke tempat yang seharusnya.


Di sana terlihat sudah ada beberapa karyawan yang bekerja, sementara Seina baru datang. Karyawan lain yang mengetahui Seina baru saja datang seperti merasa heran dengan yang dia lihat saat ini.


"Dia itu karyawan baru di sini, tapi sudah bertindak seenaknya sendiri."


"Oh ya dia katanya sudah di beri posisi sebagai manajer, apa ada sesuatu antara dia dan Pak Riko?"

__ADS_1


"Kenapa cepat sekali melejit, padahal baru menapak."


Celoteh beberapa karyawan di sana.


Seina sepintas mendengar itu samar-samar, tetapi dia tak menghiraukan hal tersebut, dan berusaha mencari pak Riko yaitu orang yang menyeleksi dan menerima berkasnya waktu itu.


Dimana pak riko?, apa dia tidak masuk?, harusnya kan dia di ruangannya saat ini. Apa dia ada pertemuan di luar ya?


Seina yang tak menemukan pak Riko, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu. Sungguh Seina memang wanita berani, banyak beberapa karyawan baru yang rela menunggu pak Riko untuk menanyakan perihal pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi Seina tidak melakukannya, bahkan menghormati pun tidak.


Di tempat lain, pak Riko menghadap kepada Arfan. Sepertinya mereka berdua sedang membicarakan perihal Seina.


"Dimana karyawan baru yang sudah kau pilih Rik? " tanya Arfan.


Arfan memang sudah berteman sejak lama dengan Riko, selain itu mereka juga menjadi rekan kerja yang bisa dilihat seperti itu.


"Dia belum datang pak, sepertinya dia terlambat. Berbicara dengan jelas dan pelan tanpa ada tekanan.


"Ini hari pertama dia masuk, dan dia juga pertama melanggar di hari pertama bekerja. Jika dia sudah datang, tolong beritahu dia agar segera menghadap ke saya! "perintah Arfan dengan perasaan kesal.


" Baik Pak. "Riko tetap dengan rasa tenangnya menjawab.


" Oke kamu bisa pergi sekarang! "pinta Arfan kepada sekretarisnya itu.


Riko memiliki peran penting di perusahaan milik Arfan. Ia diberikan amanah untuk menyeleksi semua pelamar sebelum masuk ke perusahaan ini. Dia sangat teliti dalam memilih calon karyawan, kali ini saja dia memilih bukan karena kemauan dirinya sendiri melainkan permintaan Arfan. Awalnya Seina belum masuk kriteria menurut Riko, untuk bekerja di perusahaan ini. Tetapi, karena perintah Arfan akhirnya Riko menerima Seina. Tetapi saat Seina melakukan interview, ada beberapa hal yang menjadi pendukung bahwa Riko mengubah pikirannya, ia mempertimbangkan bahwa Seina akan mampu jika selalu dituntun dengan baik. Dia akhirnya ikut dalam keputusan Arkan, bahwa Seina berhak di terima di perusahaan ini.


Arfan dan Riko sebenarnya memiliki visi yang berbeda disisi yang satu memperhatikan kualitas dengan kemajuan perusahaan, dan yang satu lainnya mengenai hal lain di luar pekerjaan.


Riko berhambur keluar mencari keberadaan Seina di ruangannya. Setelah sampai, Riko tidak melihat ada seorangpun di sana. Dengan hal itu Riko segera keluar untuk menemukannya.

__ADS_1


Riko adalah seseorang yang selalu menjaga amanah. Karena hal itulah, Arfan sangat mempercayainya.


Sementara di ruangan kerja lain, Seina masih dengan lamunannya. Dia bingung mau melakukan apa jika belum mendapatkan perintah, sementara yang lain sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Seina." panggil seorang pria yang diketahuinya.


Pak Riko akhirnya menemukan Seina juga. Sementara Seina yang mengetahui Pak Riko langsung melangkah menghampiri.


"Kamu ikut saya sekarang, pak Arfan ingin menemuimu." dengan tegas dia berkata kepada Seina.


Sebelumnya tak seperti yang dipikirkan Seina. Ia berpikir bahwa pak Riko mengomentari dirinya karena terlambat, tetapi malah terlihat biasa saja. Pak Riko ini tipenya seperti pembunuh berdarah dingin.


Tunggu, aku memikirkan hal lain yang tidak penting. Sekarang aku diminta menemui pak Arfan. Aduh kenapa baru sekarang siuman, kemana saja pikiranku tadi.


Seina yang mengikuti langkah pak Riko, segera memperlambat gerakan kakinya. Ia belum siap menemui pak Atfan sekarang. Dia coba mencari cara agar bisa menghindar.


"Eee.. pak mohon maaf, sepertinya saya harus ke kamar mandi sebentar." pinta ijin dari Seina kepada pak Riko.


Pak Riko yang mendengar segera memberi ijin dengan gerakan mengangguk kepala. Ia berpesan untuk segera kembali ke tempat itu, karena pak Riko akan menunggunya di situ, dan Seina berpura-pura mengiyakannya.


Setelah mendapat ijin, Seina buru-buru menuju kamar mandi. Seina menuju kaca besar untuk melihat wajah kusutnya. Sudah hampir lima belas menit, Seina masih di kamar mandi. Ia bahkan tak tahu sudah berapa orang yang masuk ke kamar mandi itu. Ia masih saja berpikir melalui visual kaca.


Di tempat lain, pak Riko menunggu dengan sabar. Saat lewat 15 menit nanti, pak Riko berencana mencari Seina ke kamar mandi, dengan meminta bantuan karyawan wanita. Jam sudah mengisyaratkan rencana pak Riko yang harus segera dilakukan. Tanpa lama-lama, pak Riko lalu pergi ke kamar mandi bersama satu karyawan wanita, untuk membantunya mengecek Seina.


Saat di dalam Seina masih memaku di depan kaca. Sementara, karyawan wanita yang tadi masuk dan menghamburkan semuanya. Saat itu juga Seina kaget, jika ada karyawan wanita yang diminta pak Riko untuk mengecek dirinya. Akhirnya Seina menyerah, dia sudah pasrah, dan pura-pura yakin tanpa keraguan untuk menghadap kepada bosnya itu.


Dimana Riko sekarang? , kenapa lama sekali. Arfan masih menunggu di tempatnya.


"Saya mohon kerjasamanya Seina. Silakan masuk, dan tolong berikan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari pak Arfan nanti, agar pekerjaan anda bisa di mulai dengan baik. Terimakasih, silakan!, semoga sukses." Pak Riko memberikan motivasi kepada Seina.

__ADS_1


Manajer?, itu hanya embel-embel saja, sebenarnya Seina tetaplah menjadi karyawan biasa. Hal itu dilakukan atas permintaan Arfan kepada Riko. Karena, manajer sesungguhnya adalah orang yang lain. Seina nanti akan dipindah posisi lagi secara tiba-tiba. Itulah rencana Arfan.


__ADS_2