Cinta Karena Membenci

Cinta Karena Membenci
Bab 39 Sakit


__ADS_3

Wanita ini melewati seorang pria sembari tersenyum. Ia tau posisi. Ia harus menyapa atasannya itu.


Oh pak Riko juga tinggal di apartemen ini?


Pak Riko segera masuk setelah menyapa. Ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kenapa dia belum tidur, sudah malam begini?


Menggerakkan sikat dengan berirama. Itulah rutinitasnya.


Di dalam kamar terlihat wanita ini sedang merebahkan dirinya, berbeda dengan penghuni kamar samping yang sibuk membersihkan diri.


Ia menutup matanya.


Tiba-tiba seseorang membangunkan tidur singkatnya.


Siapa malam-malam begini?, mengganggu orang saja.


Ia membuka pintu dengan malas, sambil sesekali mengucek matanya yang memerah karena terbangun disaat kantuk masih melanda.


Matanya membesar ketika melihat siapa yang mengganggu tidurnya.


"Ada apa ya pak?"


Meringis dengan malu-malu.


"Maaf mengganggu waktunya. Saya hanya ingin memberi roti ini. Tadi saya terlalu banyak membelinya. Dan tidak mungkin saya bisa menghabiskan sendiri."


Aku diberi roti olehnya, tidak salah.


Kayla lalu memperbaiki ekspresinya yang masih tak menyangka.


"Apa kamu tidak apa-apa?"


"Tidak pak, tidak. Terima kasih pak atas rotinya."


"Iya, silakan kembali masuk!"


"Baik pak."


*** Keesokan harinya


"Seina aku berangkat dulu ya."


"Iya."


Ia mencium punggung tangan suaminya.


"Seina kenapa panas sekali?"


Arfan merasakan tangan Seina yang panas, segera mengecek area dahi dan leher istrinya.


"Kamu demam?"


"Tidak pak, sebentar lagi kalau aku minum obat, pasti segera sembuh."


"Tidak tidak, ini serius. Aku akan memanggil dokter. Sekarang kamu istirahat!"


Arfan membantu Seina menuju tempat tidur.


Beberapa menit kemudian dokter telah tiba di kediaman dirgantara.


"Bagaimana dok keadaan istri saya?"


"Tenang saja pak. Istri bapak baik-baik saja, hanya demam biasa. Nanti setelah saya beri obat pasti akan membaik."


Arfan menatap istrinya dengan perasaan lega.


"Kamu tidak apa-apa saya tinggal?"

__ADS_1


"Tidak pak, lebih baik pak Arfan masuk kerja. Karena juga ada klien penting kan hari ini."


Arfan dengan perasaan berat meninggalkan istrinya itu. Tetapi ia harus berangkat kerja untuk bertemu dengan klien penting.


***


Di kantor


Ia terlihat cemas saat ini. Raganya ada di sini, tapi pikirannya berada di rumah. Ia hanya memikirkan istrinya seorang.


Setelah rapat penting selesai, Arfan langsung pulang ke rumah. Ia ingin pulang lebih cepat untuk kali ini.


"Kayla, apa tugasmu sudah selesai?" tanya pak Riko yang saat itu menghampiri meja kerja Kayla.


"E.. sebentar lagi pak."


"Oke lanjutkan. Saya nanti berencana untuk menjenguk Seina yang sedang sakit. Apa kamu ingin ikut sekalian?"


"Apa Seina sakit?, oh iya pak saya akan bersama pak Riko."


Dengan cepat dan tepat waktu menunjukkan waktu pulang kerja.


Kayla menunggu pak Riko di depan ruangannya.


"Ayo kita pergi sekarang!"


Kayla pun mengikuti langkah pak Riko ke parkiran.


Di dalam mobil dua orang ini saling diam. Tidak ada yang mencoba berbicara. Tiba-tiba... shitttttttth...


"Hati-hati paaaak... "


Teriakannya mengguncangkan isi mobil itu. Bahkan telinga pak Riko sempat beberapa detik mendengung karena suara badak Kayla.


Kayla yang merasa malu karena teriakannya, segera mengembalikan image yang semula ia buat, yaitu mode diam.


Mobil tadi hampir menyerempet pengendara motor, dan untung saja pak Riko dengan cepat bisa menghindarinya. Tetapi membuat Kayla mengeluarkan reaksi besarnya itu.


"Sein apa kamu baik-baik saja?"


"Iya Kay, aku tidak apa-apa kok. Tenang saja. Kamu ke sini naik apa?"


"Aku tadi ke sini dengan pak Riko."


"Wah kamu bisa saja. Sekarang sudah mulai berani ya. Aku dukung Kay, terus maju dan jangan pantang menyerah. Jodoh ada di depan mata."


Seina mengatakan dengan spontan. Ia sangat senang meledek temannya itu.


"Apa sih Sein. Jangan gitu lah."


Kayla malu- malu saat itu. Karena jaraknya dengan pak Riko tidak jauh darinya. Mungkin saja ia bisa mendengar yang dikatakan Seina.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" Riko menghampiri Seina begitu saja.


"Alhamdulillah sudah baik pak. Oh iya terimakasih karena pak sudah menyempatkan waktunya untuk menjenguk saya."


"Iya."


Hanya itu jawaban dari pak Riko untuk Seina. Kayla yang mendengar percakapan itu, segera bergeming. Cowok kulkas dua pintu.


Seina dan Kayla masih belum menyelesaikan obrolannya di kamar. Sementara Riko dan Arfan berbincang di ruang tamu.


"Pak ini sudah pukul delapan malam, sebaiknya saya pergi."


Riko berpamitan kepada Arfan sambil melihat atas.


"Iya, terimakasih ya Riko."


Mereka berdua saling melemparkan senyum perpisahan.

__ADS_1


Sedang apa dia sekarang?, lama sekali.


Sebuah mobil menunggu di tepi jalan. Ia sungkan jika mengganggu pembicaraannya dengan Seina. Maka dari itu pamit lebih dulu, dan lebih memilih untuk menunggu di jalan. Itu dia.


Tot.. tit.. tot...


Klakson siapa itu?


Kayla berdir sambil bergumam.


Tiba-tiba keluar seorang pria yang dikenalnya. Pria berjalan menghampiri menuju dirinya.


"Kayla, ayo pulang sekalian dengan saya. Ini sudah malam tidak mungkin ada taksi yang lewat. Lagipula kita kan satu apartemen, jadi lebih mudah."


Kayla hanya mengangguk tawaran tumpangan untuknya, dan kemudian berjalan menuju mobil.


Pak Riko menungguku?, Tuhan kenapa tadi aku kelepasan mengobrol bersama Seina. Pasti pak Arfan menunggu lama.


Di sebuah kamar yang luas terlihat Sang suami menunggu istrinya yang sedang sakit.


Seina cepatlah sembuh. Aku tidak ingin melihatmu dalam keadaan tidak baik.


Seina tiba-tiba bangun, lalu menuju ke kamar mandi.


Uekk... ueekk... uekk


"Seina, ada apa denganmu?"


Arfan buru- buru menyusul istrinya menuju ke kamar mandi.


"Seina, apa kamu tidak apa-apa?"


Belum ada jawaban. Seina masih mengatur nafasnya kembali normal.


"Tidak pak, mungkin ini hanya masuk angin. Ayo kita tidur saja sekarang!"


Mereka berdua menuju tempat tidur. Arfan dengan ketidakpuasan harus memendam. Ia tidak bisa menerima jika memang istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Kenapa dia harus mehannnya?, aku tau dia merasa tidak baik. Seina kamu memang wanitaku yang kuat. Aku berjanji akan mempertahankanmu di sepanjang hidupku.


***


Keesokan harinya


"Apa kamu sehat Seina?"


"Su..."


Uekk.. uekk.. uekk


Belum menyelesaikan jawaban untuk oma, Seina muntah lagi.


"Sina, apa kamu butuh sesuatu?" ucap oma dibalik pintu kamar mandi.


"Tidak oma, Seina tidak butuh apapun."


"Apa kamu merasa lemas?"


"Tidak oma, tenang saja. Ini Seina hanya masuk angin biasa."


"Tetapi wajahnya sangat pucat oma?" Teri masuk ke dalam langsung bereaksi.


"Lebih baik kita panggil dokter saja."


"Iya oma, Arfan akan memanggilnya." dengan wajah serius Arfan menghubungi seseorang.


Beberapa saat kemudian dokter telah tiba. Lalu kemudian dokter langsung mengatakan sesuatu.


"Lebih baik anda tes kehamilan bu, karena dengan ciri-ciri yang saya lihat, itu menuju ke arah sana."

__ADS_1


Dokter dengan yakin menyarankan Seina.


__ADS_2